MARKET DATA

FBI Beberkan Cara Hacker Korut Bobol Aset Rp114 T di Binance

haa,  CNBC Indonesia
01 November 2026 22:00
Logo FBI. (Dok. Istimewa)
Foto: Logo FBI. (Dok. Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) mengaitkan Korea Utara dengan pencurian aset virtual senilai rekor US$6,3 miliar atau sekitar Rp 114 triliun dari bursa mata uang kripto Binance.

Pelaku kejahatan siber yang berasal dari Korea Utara terpantau melakukan pencucian aset hasil curian dengan mengonversikannya, terutama ke mata uang kripto Ethereum. Demikian disampaikan FBI dalam pernyataan pada Sabtu.

Badan AS tersebut secara khusus menuding kelompok bernama TraderTraitor sebagai pelaku operasi tersebut. Kelompok yang sama sebelumnya dituduh bertanggung jawab atas pencurian US$1,5 miliar dari platform Bybit pada Februari tahun lalu.

Menurut pernyataan FBI, aset hasil curian tersebut diperkirakan akan kembali melalui proses pencucian uang secara bertahap.

Dikutip dari Al-Jazeera, FBI meminta penyedia layanan aset virtual untuk memblokir transaksi yang digunakan dalam operasi pencucian uang terbaru tersebut. FBI juga memberikan alamat digital yang diduga terkait dengan aktivitas tersebut untuk diwaspadai.

Dalam pernyataan terpisah pada Sabtu (31/10/2026), Binance mengatakan telah mengganti 90% dari jumlah aset yang dicuri dengan menggunakan dana perusahaan untuk membeli token baru.

Sementara itu, 10% sisanya terdiri dari token yang likuiditasnya lebih rendah sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk dibeli, tambah perusahaan tersebut.

"Kami akan terus membeli sisa aset token terkait hingga jumlah yang ditanggung mencapai 100% untuk seluruh token. Binance akan menanggung dampak keuangan dari dana yang dicuri ini, bukan pengguna kami," kata perusahaan tersebut melalui platform X.

Dana untuk membeli kembali token tersebut berasal dari Secure Asset Fund for Users (SAFU) senilai US$1 miliar, yakni dana cadangan Bitcoin yang dimiliki Binance untuk melindungi nasabah jika terjadi pelanggaran keamanan. Dana itu juga berasal dari sebagian Futures Insurance Fund dan kas perusahaan.

Harga mata uang kripto turun pada Jumat, ketika Binance, yang mengoperasikan bursa kripto terbesar di dunia, berupaya meyakinkan nasabah bahwa dana mereka tetap aman.

Co-CEO Binance Richard Teng mengatakan pada Jumat lalu bahwa pembobolan tersebut merupakan "serangan kompleks" yang melibatkan laptop yang telah disusupi dan perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk menghapus bukti aktivitasnya. Kondisi tersebut membuat serangan sulit dilacak dan diselidiki.

Setelah peretasan terjadi, bursa tersebut menghentikan sementara layanan penarikan dana oleh nasabah.

Binance kemudian menyatakan pada Sabtu bahwa proses pembukaan kembali layanan penarikan dana berjalan sesuai jadwal dan ditargetkan kembali tersedia pada Minggu.

Binance juga mengumumkan penerbitan laporan terbaru mengenai proof of reserves atau bukti cadangan aset. Melalui laporan tersebut, pengguna dapat memverifikasi secara mandiri bahwa aset mereka didukung oleh cadangan dengan rasio minimal 1:1.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article FBI AS Diam-Diam Bangun Kerja Sama dengan China dan Rusia, Ada Apa?


Most Popular
Features