MARKET DATA

Raksasa Logam Mulia Jepang Tanaka Mau Sowan ke Menperin, Ada Apa?

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
28 October 2026 16:20
Wakil Ketua Asosiasi Produsen Perhiasaan Indonesia Arief Budiman saat ditemui di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)
Foto: Wakil Ketua Asosiasi Produsen Perhiasaan Indonesia Arief Budiman saat ditemui di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Ketua Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI) Arief Budiman mengatakan, produsen besar logam mulia asal Jepang, Tanaka Precious Metals, berencana berinvestasi di Indonesia. Perusahaan tersebut dijadwalkan bertemu dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada 2 November 2026 untuk membahas rencana investasi industri pengolahan logam mulia atau precious metal.

"Tanaka Precious Metal Jepang, kebetulan nanti kita akan ada meeting tanggal 2 November dengan Kementerian Perindustrian, dengan direktorat Kimia Hulu. Kita mendatangkan investor tadi, Tanaka Precious Metal Jepang, mereka akan berinvestasi di Indonesia," ujar Arief kepada wartawan, Rabu (28/10/2026).

Menurut Arief, pengembangan industri tersebut menjadi salah satu peluang hilirisasi emas Indonesia. Pasalnya, emas tidak hanya digunakan sebagai bahan baku perhiasan, tetapi juga dapat diolah menjadi material untuk kebutuhan industri elektronik dan otomotif.

"Di Indonesia ini belum ada industri precious metal. Dan kita pun tadi sudah laporkan ke Pak Menteri, investor-investor asing untuk precious metal sebagai barang industri, dalam hal ini seperti PGC, potassium gold cyanide, juga bonding wire, yang nanti customer-nya itu adalah industri otomotif, industri elektronik," jelasnya.

Potassium gold cyanide (PGC) merupakan senyawa emas yang antara lain digunakan dalam proses pelapisan komponen elektronik. Sementara itu, bonding wire merupakan kawat berukuran sangat kecil yang digunakan untuk menghubungkan bagian dalam komponen semikonduktor.

Arief menilai keberadaan industri tersebut akan memberikan nilai tambah bagi hasil tambang emas Indonesia. Selama ini, menurutnya, industri pengolahan material logam mulia untuk kebutuhan manufaktur masih banyak berada di negara lain, termasuk Taiwan.

"Kita akan bawa industri ini ke Indonesia. Yang selama ini mungkin industri-industri ini ada di Taiwan, industri ini ada di negara-negara lain, tambangnya tuh di Indonesia," katanya.

Meski rencana pertemuan telah dijadwalkan, Arief mengungkapkan nilai investasi Tanaka Precious Metals di Indonesia belum ditentukan. Sebab masih terdapat sejumlah persoalan regulasi yang perlu dibahas bersama pemerintah, terutama terkait bahan baku kimia yang dibutuhkan dalam proses pengolahan logam mulia.

"Nilainya belum ada, makanya kita bicarakan karena ada beberapa kebijakan yang harus diluruskan terlebih dahulu. Karena ada beberapa untuk masalah bahan baku, terutama kimia, yang selama ini dibatasi, termasuk dalam lartas," ungkapnya.

Salah satu bahan yang menjadi perhatian adalah potassium cyanide, yang penggunaannya di Indonesia diatur secara ketat dan termasuk dalam ketentuan larangan dan pembatasan (lartas). Arief mengatakan, APPI terus berkoordinasi dengan Kemenperin agar calon investor memperoleh kepastian mengenai ketentuan investasi, tanpa mengabaikan persyaratan yang berlaku.

"Selama mereka memenuhi aturan, termasuk limbahnya, semua mereka memenuhi aturan, maka investasi di Indonesia ini akan terjadi," ujarnya.

Lebih lanjut, Arief memperkirakan produksi emas dari berbagai perusahaan pertambangan di Indonesia mencapai sekitar 120 ton. Ia optimistis pengembangan industri logam mulia dapat meningkatkan penyerapan emas hasil tambang dalam negeri.

"Kami sangat yakin, pada saat industri precious metal ada di Indonesia, angka 120 ton itu akan terserap secara keseluruhan," katanya.

Menurut Arief, potensi pasar industri tersebut cukup besar mengingat penggunaan logam mulia dalam berbagai produk teknologi, mulai dari telepon seluler, laptop, hingga komponen kendaraan.

"Pada saat kita bicara industri, termasuk untuk mobile phone, untuk handphone, untuk kebutuhan elektronik dan otomotif, laptop, semua itu akan menjadi demand yang terus akan meningkat," kata ia.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita (kiri) dan Wakil Ketua Asosiasi Produsen Perhiasaan Indonesia Arief Budiman (kanan) saat ditemui di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita (kiri) dan Wakil Ketua Asosiasi Produsen Perhiasaan Indonesia Arief Budiman (kanan) saat ditemui di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira) Foto: Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita (kiri) dan Wakil Ketua Asosiasi Produsen Perhiasaan Indonesia Arief Budiman (kanan) saat ditemui di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Fergi Nadira)

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pengusaha Perhiasan Temui Menperin, Bicara Bea Keluar-Hilirisasi Emas


Most Popular
Features