MARKET DATA
Internasional

Petaka Baru Sudah Tiba di India, 180.000 Orang Dievakuasi

luc,  CNBC Indonesia
28 October 2026 21:50
A satellite image shows Cyclone Arnab making landfall over the south-eastern coast of the Indian state of Andhra Pradesh, October 27, 2026 in this still image from a handout GIF.   CSU/CIRA & EUMETSAT/Handout via REUTERS    THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLI
Foto: via REUTERS/CSU/CIRA & EUMETSAT

Jakarta, CNBC Indonesia - Topan kuat Arnab menerjang pesisir timur India pada Rabu (28/10/2026), menyebabkan pohon-pohon tumbang ke jalan raya, tiang listrik tercabut, serta memaksa ribuan warga mencari perlindungan. Otoritas setempat menyatakan lebih dari 180.000 orang telah dievakuasi dari negara bagian Andhra Pradesh dan Odisha sebelum badai tiba.

Hingga Rabu siang, sebagaimana dilaporkan Reuters, belum ada korban jiwa yang dilaporkan di kedua wilayah tersebut. Namun, topan telah mengganggu pasokan listrik dan merobohkan banyak pohon. Sejumlah sekolah juga ditutup, sementara beberapa layanan kereta api dan penerbangan dibatalkan.

Departemen Meteorologi India menggolongkan Arnab sebagai badai siklon yang sangat parah, kategori tertinggi ketiga dalam skala lembaga tersebut. Topan mulai mendarat di pesisir Andhra Pradesh pada Rabu pagi, sebelum pusat badai bergerak sepenuhnya ke daratan.

Rekaman televisi memperlihatkan pohon-pohon yang melintang di jalan raya. Petugas dengan pakaian pelindung hujan terlihat membersihkan ranting dan dedaunan agar akses jalan dapat kembali digunakan.

Nagi, warga Distrik Kakinada di Andhra Pradesh yang berada di jalur badai, menggambarkan kecemasan masyarakat saat air mulai mengancam permukiman mereka.

"Tidak ada yang tahu rumah siapa yang akan dimasuki air berikutnya, atau rumah siapa yang akan terendam," katanya.

Ia mengatakan dampak badai telah merusak rumah dan menghancurkan barang-barang milik warga.

"Pohon-pohon tumbang, rumah-rumah rusak, dan semua barang kami, termasuk buku-buku, hancur," ujar Nagi, yang tidak menyebutkan nama belakangnya.

Pemerintah sebelumnya telah memperingatkan para nelayan di sepanjang pesisir agar tidak melaut. Departemen Meteorologi India juga memperkirakan topan berpotensi merusak tanaman pertanian, rumah beratap rumbia, serta jaringan komunikasi.

Kecepatan angin diperkirakan mencapai 125-135 kilometer per jam, dengan embusan maksimum hingga 150 kilometer per jam. Gelombang badai setinggi 1 hingga 1,5 meter di atas pasang normal juga berpotensi membanjiri wilayah dataran rendah di Andhra Pradesh.

Kementerian Penerbangan Sipil India menyatakan operasional di tiga bandara di Andhra Pradesh dihentikan sementara akibat kondisi cuaca tersebut.

Dampak badai juga dirasakan di negara tetangga, Nepal. Otoritas setempat menghentikan penerbitan izin pendakian ke kawasan pegunungan tinggi selama tiga hari karena risiko hujan lebat dan badai salju.

Gita Ghimire, petugas informasi Departemen Imigrasi Nepal, mengatakan kepada Reuters bahwa kebijakan tersebut diambil untuk mengantisipasi kondisi cuaca berbahaya di wilayah pegunungan.

Penghentian sementara itu berlangsung ketika Nepal memasuki puncak musim pendakian. Dalam periode ini, sekitar 750 pendaki memperoleh izin setiap harinya.

Pada Selasa, pemerintah Nepal telah memperingatkan wisatawan agar tidak memasuki kawasan dataran tinggi. Topan Arnab dikhawatirkan memicu hujan deras, badai salju, dan longsoran salju di kawasan Himalaya mulai Kamis malam hingga Sabtu.

Arnab terbentuk di Teluk Benggala, salah satu wilayah utama pembentukan siklon tropis yang kerap memicu badai mematikan di pesisir timur India.

India memiliki sejarah panjang menghadapi bencana serupa. Pada Oktober 1999, sebuah siklon super menerjang Odisha dan menewaskan hampir 10.000 orang, menjadikannya salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah negara tersebut.

Meski demikian, India telah mengembangkan sistem peringatan dini dan berbagai langkah pencegahan selama bertahun-tahun untuk menekan jumlah korban jiwa ketika badai besar melanda.

(luc/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Petaka Segera Hantam India, Ribuan Warga Dievakuasi


Most Popular
Features