CLOSE AD
MARKET DATA
Internasional

Inggris di Ambang Perang, Pemerintah Minta Warga Stok Makanan dan Air

luc,  CNBC Indonesia
28 October 2026 06:35
Menara Elizabeth dan lonceng 'Big Ben' di Gedung Parlemen, London, Inggris (14/8/2019). (REUTERS / Neil Hall)
Foto: Menara Elizabeth dan lonceng 'Big Ben' di Gedung Parlemen, London, Inggris (14/8/2019). (REUTERS / Neil Hall)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Inggris meminta masyarakat bersiap menghadapi kemungkinan kelangkaan pangan hingga gangguan layanan publik akibat serangan siber dan situasi darurat lainnya. Imbauan ini disampaikan melalui kampanye nasional bertajuk Be Ready yang menjadi bagian dari program peningkatan kesiapsiagaan rumah tangga selama tiga tahun.

Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting memperkenalkan panduan terbaru bagi masyarakat untuk menghadapi berbagai ancaman, mulai dari banjir hingga kebakaran hutan. Pemerintah menyarankan setiap keluarga memiliki persediaan kebutuhan pokok yang cukup untuk tiga hari apabila layanan sehari-hari terganggu.

Persediaan tersebut mencakup uang tunai, air minum kemasan, dan makanan kaleng. Pemerintah juga meluncurkan situs khusus yang menyediakan daftar perlengkapan darurat untuk diunduh. Setelah panduan tersebut diumumkan, penjualan makanan kaleng, radio putar manual, dan senter dilaporkan meningkat.

Streeting mengatakan kepada BBC Newsnight bahwa respons masyarakat terhadap imbauan tersebut merupakan perkembangan positif.

"Ini menggembirakan karena masyarakat mengambil langkah-langkah praktis untuk bersiap menghadapi keadaan darurat. Memiliki sejumlah kebutuhan sehari-hari di rumah, mulai dari makanan kaleng hingga senter, dapat membantu keluarga menghadapi gangguan, baik akibat banjir, pemadaman listrik, maupun pipa air yang pecah. Kita semua bisa berperan dalam membuat Inggris lebih tangguh," katanya, dilansir Rabu (28/10/2026).

Sebelumnya, Streeting menyerukan pendekatan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat untuk memperkuat ketahanan nasional. Meski demikian, ia menekankan agar warga tetap waspada tanpa perlu panik menghadapi berbagai risiko.

Melalui kampanye Be Ready, pemerintah meminta warga menyiapkan perlengkapan yang dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga selama tiga hari ketika terjadi gangguan jangka pendek, seperti pemadaman listrik atau terhentinya pasokan air. Untuk kebutuhan minum, setiap orang disarankan memiliki sekitar tiga liter air per hari, di luar kebutuhan memasak dan mencuci.

Masyarakat juga dianjurkan menyimpan makanan tahan lama yang dapat langsung dikonsumsi tanpa dimasak, seperti daging, buah, dan sayuran kalengan. Persediaan tersebut perlu dilengkapi pembuka kaleng serta makanan untuk hewan peliharaan. Untuk menjaga kebersihan ketika pasokan air terhenti, warga dapat menyiapkan cairan pembersih tangan dan tisu basah.

Perlengkapan lain yang disarankan meliputi senter beserta baterai cadangan, selimut, kantong tidur, pakaian hangat, serta pengisi daya portabel untuk ponsel. Radio bertenaga baterai atau putar manual juga diperlukan agar warga tetap bisa memperoleh informasi ketika listrik padam.

Radio mobil dapat menjadi alternatif, meskipun masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam rumah saat cuaca ekstrem jika situasi mengharuskannya.

Pemerintah turut mengingatkan pentingnya menyediakan perlengkapan pertolongan pertama, seperti plester tahan air, perban, termometer, antiseptik, larutan pencuci mata, kasa steril, sarung tangan, plester medis, dan pinset. Rumah tangga yang memiliki bayi juga perlu menyiapkan popok dan susu formula.

Formula siap minum lebih disarankan karena dalam keadaan darurat warga mungkin kesulitan merebus air atau mensterilkan botol.

Selain itu, warga dianjurkan menyimpan uang tunai dalam berbagai pecahan, koin, dan kartu, serta salinan kartu identitas dan dokumen penting. Nomor telepon darurat dan informasi mengenai obat rutin beserta dosisnya juga sebaiknya dicatat agar mudah ditemukan ketika dibutuhkan.

Pemerintah tidak mengharuskan masyarakat membeli semua perlengkapan tersebut sekaligus. Persediaan dapat dikumpulkan secara bertahap sesuai kemampuan, kemudian ditempatkan bersama di lokasi yang mudah ditemukan, termasuk ketika rumah dalam keadaan gelap.

Warga yang mengonsumsi obat resep secara rutin juga disarankan memiliki persediaan untuk beberapa hari. Sementara itu, mereka yang bergantung pada perangkat medis perlu menyimpan petunjuk penggunaan dalam bentuk cetak dan memastikan baterai cadangan selalu terisi penuh.

Peningkatan kesiapsiagaan tersebut dilakukan di tengah kekhawatiran pemerintah Inggris terhadap ancaman keamanan, khususnya dari Rusia.

Pada Sabtu, Streeting memperingatkan bahwa Inggris harus siap menghadapi kemungkinan perang dalam waktu 1.000 hari. Menurutnya, negara-negara yang berpotensi menjadi lawan Inggris bisa memiliki kemampuan untuk menyerang pada 2030.

Dalam tulisannya di The Telegraph, Streeting menyatakan, "Kesediaan musuh-musuh kita untuk mencelakai kita bukanlah hal baru. Yang berubah adalah kemampuan mereka. Pada 2030, kekuatan militer dan ekonomi perang mereka dapat menempatkan mereka dalam posisi untuk menyerang.

"Itu berarti kita memiliki sedikit lebih dari 1.000 hari untuk menyelesaikan misi kita: bersiap bersama sekutu untuk bertempur dan menang."

Merujuk pada kemungkinan agresi Rusia, ia menambahkan, "Untuk mencegah hal terburuk, kita harus mempersiapkan diri menghadapinya."

Streeting mengatakan kampanye Be Ready diperlukan karena ancaman yang dihadapi Inggris bukan sekadar kemungkinan, melainkan risiko nyata yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, ia menilai rumah tangga dan pelaku usaha perlu mulai memastikan kesiapan mereka menghadapi keadaan darurat.

Ketegangan dengan Rusia juga terlihat dari peringatan pemerintah Presiden Vladimir Putin. Moskow menyatakan fasilitas Inggris di Ukraina dapat dianggap sebagai "target yang sah" apabila digunakan untuk mendukung serangan jarak jauh terhadap Rusia.

Laporan The Independent juga menyebut drone tak dikenal hampir setiap hari menyasar pangkalan militer Inggris. Situasi ini menambah kekhawatiran terhadap ancaman yang berkembang dari Rusia dan Iran.

Data yang diperoleh melalui permintaan informasi publik menunjukkan terdapat sekitar 340 insiden keamanan yang melibatkan drone di atau dekat fasilitas Kementerian Pertahanan Inggris dalam periode hingga Agustus 2026. Angka itu meningkat dibandingkan 250 insiden sepanjang 2025 dan 126 kasus pada tahun sebelumnya.

Di luar ancaman keamanan, pemerintah Inggris juga mengkhawatirkan dampak gelombang panas ekstrem yang melanda negara tersebut pada musim panas ini. Suhu yang memecahkan rekor memperburuk kekeringan dan memicu kebakaran hutan di sejumlah wilayah.

Sejumlah analis memperingatkan suhu ekstrem dan kekeringan berkepanjangan dapat mendorong Inggris menghadapi krisis ketahanan pangan terburuk dalam beberapa dekade.

Analis bank investasi Shore Capital menilai lima gelombang panas yang terjadi berturut-turut, ditambah kondisi kering berkepanjangan, berpotensi merusak hasil panen petani.

Dampaknya dapat berupa kelangkaan pangan pada akhir tahun ini sekaligus meningkatnya ketergantungan Inggris terhadap impor dari luar negeri.

Serikat Petani Nasional Inggris (National Farmers Union/NFU) juga menyebut kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan. Para peternak sapi perah bahkan sudah menggunakan persediaan pakan musim dingin karena rumput tidak lagi tumbuh akibat kekeringan.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article IFRC 2026 Siap Digelar, Mimika Sambut Tim Rescue Terbaik Indonesia


Most Popular
Features