CLOSE AD
MARKET DATA

Perusahaan Energi Se-ASEAN Ngumpul di Bali, Ternyata Bahas Ini

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
27 October 2026 16:50
Pertemuan tingkat tinggi tahunan ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) ke-51 di Bali, Selasa (27/10/2026). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)
Foto: Pertemuan tingkat tinggi tahunan ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) ke-51 di Bali, Selasa (27/10/2026). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)

Denpasar, CNBC Indonesia - Sekitar 300 perwakilan perusahaan energi dari 11 negara anggota Asia Tenggara (ASEAN) berkumpul di Bali dalam perhelatan tahunan ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) ke-51. Kali ini, Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah selama 3 hari mulai 26-28 Oktober 2026.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza mengungkapkan bahwa pertemuan besar tersebut digelar di tengah eskalasi geopolitik global yang dinamis, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz dan konflik Rusia-Ukraina. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap rantai pasok energi dunia sehingga negara-negara anggota ASEAN perlu bertindak cepat mengamankan pasokan energi kawasan.

"Dalam diskusi tahunan ini kita berusaha untuk mendiskusikan hal-hal yang bisa kita lakukan untuk penyelamatan Indonesia, penyelamatan ASEAN, dan seterusnya," ujar Oki saat ditemui di sela acara 51st ASCOPE, di The Meru Sanur, Bali, Selasa (27/10/2026).

Salah satu agenda utama pertemuan di Bali ini yakni merumuskan strategi dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan wilayah ASEAN. Oki menilai hal tersebut menjadi penting mengingat saat ini kondisi minyak mentah di kawasan ASEAN mengalami defisit.

Forum tersebut juga membahas kelancaran perdagangan minyak mentah, bensin, LPG, hingga LNG, sekaligus mengikutsertakan negara mitra ASEAN+3 yaitu dengan tambahan negara China, Jepang, dan Korea Selatan, untuk menjajaki kerja sama pasokan dari negara yang memiliki surplus kapasitas kilang maupun produk energi.

Selain pengamanan pasokan, Oki menjelaskan para pelaku industri energi se-ASEAN berdiskusi mengenai strategi meningkatkan daya tarik investasi di sektor hulu migas, infrastruktur, dan energi terbarukan. Langkah tersebut ditempuh melalui advokasi perbaikan skema fiskal yang tepat serta pemberian insentif eksplorasi.

"Kita mendiskusikan bagaimana agar fiskal untuk hulu semakin menarik untuk mengundang investasi dari seluruh dunia hadir di ASEAN ini," tambah Oki.

Pertemuan tersebut juga menaruh perhatian pada pengurangan jejak karbon (footprint) energi melalui pemanfaatan emisi metana. Salah satu potensinya berasal dari pengolahan limbah cair, di mana Indonesia tercatat memiliki potensi biometan lebih dari 200 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) yang berpotensi untuk dimonetisasi.

"Sebagai contoh untuk limbah cair ini di Indonesia saja kita punya potensi lebih dari 200 MMSCFD potensi biomethane yang bisa kita monetize," bebernya.

Melalui penguatan perdagangan, perbaikan skema investasi, dan akselerasi eksplorasi hulu, konsolidasi perusahaan energi se-ASEAN di Bali tersebut diharapkan mampu membuahkan hasil terutama untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi kawasan ASEAN.

Penguatan Sektor Hulu Migas ASEAN

Di lain sisi, ASCOPE Secretary in Charge (ASIC) Henricus Herwin mengungkapkan bahwa negara-negara ASEAN menghadapi tantangan yang serupa dalam mengelola aset hulu migas. Tantangan tersebut mulai dari mempertahankan keekonomian lapangan yang telah berproduksi selama puluhan tahun, mengembangkan peluang eksplorasi, hingga mengelola fasilitas yang telah mencapai akhir masa operasinya (decommissioning).

"Kita berkumpul dalam forum ini untuk membantu kawasan kita (ASEAN) memaksimalkan potensi setiap aset hulu minyak dan gas bumi sepanjang siklus hidupnya," ujar Henricus dalam pembukaan ASCOPE 51st Council Meeting di Sanur, Bali, dikutip Selasa (27/10/2026).

Henricus menjelaskan bahwa optimalisasi aset hulu migas membutuhkan pendekatan yang mencakup pemeliharaan produktivitas lapangan eksisting, pengembangan peluang eksplorasi, serta penutupan fasilitas secara aman, bertanggung jawab, dan efisien dari sisi biaya. Berbagai tantangan tersebut dinilai tidak harus dihadapi oleh setiap negara secara terpisah, melainkan bisa dilakukan kerja sama salah satunya melalui forum ASCOPE terutama pertukaran data, bukti, dan pengalaman.

"Dengan berbagi kemajuan, data, dan pengalaman di antara anggota ASCOPE, kita dapat membantu setiap anggota mengambil keputusan yang lebih baik terkait aset yang dikelolanya masing-masing, sekaligus mengubah pengetahuan regional menjadi hasil yang nyata dan dapat diterapkan," tegasnya.

Kerja sama antar-negara tetangga itu juga diwadahi dalam rangkaian kegiatan ASCOPE melalui Exploration and Production Task Force (EPTF). Wadah itu mempertemukan para pemangku kepentingan dari 11 negara ASEAN untuk membahas pelaksanaan, pengaturan, serta perencanaan kegiatan operasi hulu migas secara terpadu.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Lewat ASCOPE ke-51, Pertamina Dorong Kolaborasi Energi di ASEAN


Most Popular
Features