CLOSE AD
MARKET DATA

Kemenkeu, BI & Bappenas Beberkan PR Ekonomi RI Setahun ke Depan

Dovana Hasiana,  CNBC Indonesia
27 October 2026 13:25
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti dan Menteri Keuangan, Suahasil Nazara saat mengikuti rapat koordinasi dengan Wakil Ketua DPR,  Sufmi Dasco Ahmad di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta. (Instagram/sufmi_dasco)
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti dan Menteri Keuangan, Suahasil Nazara saat mengikuti rapat koordinasi dengan Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta. (Instagram/sufmi_dasco)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tiga otoritas ekonomi Indonesia mengungkapkan pekerjaan rumah (PR) yang perlu diprioritaskan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam dua tahun ke depan.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyoroti partisipasi masyarakat, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mendorong pendalaman pasar keuangan, sementara Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menekankan pentingnya inovasi dan teknologi.

Perbedaan pandangan tersebut muncul dalam sesi dialog di Danantara TIIF 2026, Senin (27/10/2026). Ketiganya diminta menjelaskan aspek yang masih perlu diperkuat untuk mempercepat pencapaian target ekonomi Indonesia.

Suahasil mengatakan, transformasi struktural menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam setahun ke depan. Selain itu, pemerintah juga perlu mendorong keterlibatan seluruh lapisan masyarakat dalam kegiatan ekonomi.

"Yang konsumsi tingkatkan konsumsi. Yang produksi tingkatkan produksi," ujar Suahasil.

Menurutnya, pemerintah terus menjalankan reformasi struktural, baik di sektor riil maupun keuangan. Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan berkontribusi melalui peningkatan konsumsi, investasi, dan ekspor, serta penggunaan produk dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menekankan pentingnya pendalaman pasar keuangan untuk mendukung mandat utama bank sentral, yakni menjaga stabilitas.

Menurut Destry, semakin beragam instrumen keuangan dan semakin banyak pelaku pasar yang terlibat, semakin baik pula pembentukan harga atau pricing di pasar keuangan.

"Dengan makin banyak produk, partisipan juga makin banyak, pricing-nya akan jadi lebih baik," kata Destry.

Sebagai salah satu langkah, BI membuka akses penggunaan surat berharga kuasi-pemerintah yang diterbitkan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sebagai instrumen operasi moneter. Perbankan yang memegang surat berharga tersebut kini dapat melakukan transaksi repurchase agreement (repo) dengan BI.

Destry mengatakan, BI akan terus mengembangkan instrumen lain untuk memperdalam pasar keuangan. Upaya tersebut dinilai penting bukan hanya untuk menjaga stabilitas, tetapi juga memperluas sumber pembiayaan bagi perekonomian.

Target RI Keluar dari Middle Income Trap

Berbeda dengan Suahasil dan Destry, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyoroti tantangan struktural yang lebih mendasar, yakni upaya Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.

"Kita ini sudah hampir 30 tahun terjebak di dalam middle income trap," kata Rachmat.

Ia menyebut pendapatan per kapita Indonesia berada di kisaran US$5.000, sedangkan sejumlah negara tetangga telah mencapai lebih dari US$10.000. Menurutnya, inovasi dan teknologi perlu disebarluaskan agar dapat dimanfaatkan masyarakat secara luas dan mendorong peningkatan produktivitas ekonomi.

Rachmat mencontohkan inovasi sistem pembayaran digital yang dikembangkan BI. Ia menyebut sistem tersebut telah menjangkau sekitar 70 juta pengguna.

Selain itu, ia menyoroti pengembangan industri semikonduktor. Indonesia, menurutnya, tidak cukup hanya menjadi lokasi perakitan, tetapi perlu membangun ekosistem industri yang lebih kuat.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Rachmat mendorong kerja sama dengan negara-negara Asia, termasuk India dan Singapura.

"Kita sesama negara Asia tidak perlu bersaing, berkompetisi. Tapi justru harus bekerja sama," ujarnya.

Rachmat menambahkan, Bappenas mengusung semangat "tumbuh lebih tinggi, sejahtera lebih cepat". Artinya, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya tercermin dalam angka, tetapi juga harus dirasakan oleh kelas menengah dan kelompok masyarakat berpendapatan rendah.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bukan Cuma 8%, Pemerintah Pede Ekonomi RI Bisa Tumbuh 10%


Most Popular
Features