Pertamina Ajak Para Raksasa Migas ASEAN Perkuat Hulu Migas
Denpasar, CNBC Indonesia - PT Pertamina (Persero) mendorong kolaborasi untuk mengoptimalkan aset hulu minyak dan gas bumi (migas), menjaga keberlanjutan produksi, serta meningkatkan potensi eksplorasi di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Hal itu disampaikan dalam perhelatan ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) ke-51.
Kolaborasi lintas negara khususnya pada sektor hulu migas tersebut dinilai semakin penting di tengah tantangan mempertahankan produktivitas lapangan migas dan menarik investasi untuk menemukan sumber daya migas baru.
Ascope Secretary in Charge (ASIC) Henricus Herwin mengungkapkan bahwa negara-negara ASEAN menghadapi tantangan yang serupa dalam mengelola aset hulu migas. Tantangan tersebut mulai dari mempertahankan keekonomian lapangan yang telah berproduksi selama puluhan tahun, mengembangkan peluang eksplorasi, hingga mengelola fasilitas yang telah mencapai akhir masa operasinya (decommissioning).
"Kita berkumpul dalam forum ini untuk membantu kawasan kita (ASEAN) memaksimalkan potensi setiap aset hulu minyak dan gas bumi sepanjang siklus hidupnya," ujar Henricus dalam pembukaan ASCOPE 51st Council Meeting di Sanur, Bali, dikutip Selasa (27/10/2026).
Henricus menjelaskan bahwa optimalisasi aset hulu migas membutuhkan pendekatan yang mencakup pemeliharaan produktivitas lapangan eksisting, pengembangan peluang eksplorasi, serta penutupan fasilitas secara aman, bertanggung jawab, dan efisien dari sisi biaya. Berbagai tantangan tersebut dinilai tidak harus dihadapi oleh setiap negara secara terpisah, melainkan bisa dilakukan kerja sama salah satunya melalui forum ASCOPE terutama pertukaran data, bukti, dan pengalaman.
"Dengan berbagi kemajuan, data, dan pengalaman di antara anggota ASCOPE, kita dapat membantu setiap anggota mengambil keputusan yang lebih baik terkait aset yang dikelolanya masing-masing, sekaligus mengubah pengetahuan regional menjadi hasil yang nyata dan dapat diterapkan," tegasnya.
Kerja sama antar-negara tetangga itu juga diwadahi dalam rangkaian kegiatan ASCOPE melalui Exploration and Production Task Force (EPTF). Wadah itu mempertemukan para pemangku kepentingan dari 11 negara ASEAN untuk membahas pelaksanaan, pengaturan, serta perencanaan kegiatan operasi hulu migas secara terpadu.
Sejalan dengan itu, Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus mengungkapkan Indonesia masih dalam tahap menggenjot kegiatan eksplorasi hulu migas. Pihaknya menargetkan potensi sumber daya sebesar 2,6 miliar barel setara minyak (billion barrels of oil equivalent/BBOE) dari kegiatan eksplorasi pada tahun 2026.
"Indonesia menawarkan portofolio peluang yang beragam bagi investor dengan strategi dan tingkat toleransi risiko yang berbeda-beda," kata Rikky, dalam kesempatan yang sama.
Rikky menyebutkan terdapat sebanyak 12 sumur berpotensi tinggi (high impact) diproyeksikan mencakup sekitar 80% dari target sumber daya sebelum pengeboran (pre-drill resource target), dengan potensi sekitar 2,2 BBOE. Berdasarkan catatannya, sebanyak 5 dari 12 sumur high impact tersebut dikelola langsung oleh Pertamina melalui anak perusahaan dan entitasnya.
Lima sumur high impact milik Pertamina tersebut meliputi Sumur Besar-1 yang dikelola Pertamina East Natuna (PEN), Banyu Geni-01 dan Wijaya Kusuma-1 yang dikelola Pertamina EP (PEP), Padang Pancuran-002 yang dikelola PEP, serta Tingkilan-1 yang dikelola Pertamina Hulu Energi Lepas Pantai Bunyu (PHE LPB). Kegiatan eksplorasi agresif ini ditujukan untuk mengidentifikasi potensi sumber daya migas guna menopang keberlanjutan industri dan ketahanan energi nasional, yang nantinya akan dibuktikan melalui pengeboran dan evaluasi teknis lebih lanjut.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) Ikhsan Kiat menegaskan bahwa penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan industri energi. Menurutnya, ketahanan energi tidak cukup hanya bersandar pada ketersediaan sumber daya alam dan infrastruktur fisik, tetapi membutuhkan manusia yang kompeten untuk mengelolanya.
"Sumber daya terbesar suatu bangsa bukanlah yang berada di bawah tanah atau di dasar laut, melainkan yang ada di dalam diri manusianya. Inilah yang kita sebut sebagai human energy atau energi manusia," tegas Ikhsan, dalam kesempatan yang sama.
Dia menambahkan bahwa kerja sama regional melalui forum ASCOPE perlu diperluas cakupannya. Kolaborasi tidak boleh terbatas pada menghubungkan infrastruktur dan pasar energi semata, melainkan juga harus difokuskan untuk mengembangkan kapabilitas dan kompetensi tenaga kerja di sektor migas.
Melalui integrasi optimalisasi aset, eksplorasi sumur, serta penguatan kompetensi SDM, kawasan ASEAN diharapkan mampu menjaga keberlanjutan produksi hulu migas dan memperkuat ketahanan energi di tengah dinamika global.
(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]