CLOSE AD
MARKET DATA
Internasional

Iran Deal dengan "NATO Muslim"? Saudi-Turki-Pakistan Merapat

luc,  CNBC Indonesia
27 October 2026 05:38
Iranian President Masoud Pezeshkian meets with chief of Defence Forces of Pakistan, Field Marshal Asim Munir, Saudi Arabia's Defence Minister Prince Khalid bin Salman and Turkish intelligence chief, Ibrahim Kalin in Tehran, Iran, October 26, 2026. Ir
Foto: via REUTERS/Iran's Presidential website

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan negara-negara mayoritas Muslim untuk memperkuat kerja sama dan menyatukan sikap dalam menghadapi serangan Israel di kawasan Timur Tengah. Seruan itu disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran akan meluasnya konflik regional yang melibatkan Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian setelah bertemu dengan Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman, Kepala Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir, dan Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin di Teheran pada Senin (26/10/2026). Pertemuan empat negara ini dinilai penting untuk mencegah pecahnya kembali perang yang dapat membawa dampak besar bagi negara-negara di kawasan.

"Kita tidak boleh membiarkan rezim Zionis melakukan pembunuhan terarah dan tindakan agresi terhadap siapa pun atau negara mana pun kapan pun mereka menginginkannya," kata Pezeshkian, menurut pernyataan kantor kepresidenan Iran yang dipublikasikan melalui Telegram, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

Ia meyakini negara-negara Islam dapat mencegah terulangnya tindakan tersebut apabila mampu bertindak bersama. "Saya yakin jika negara-negara Islam berdiri bersama dan mengambil sikap yang terkoordinasi, tindakan seperti itu tidak akan terulang," ujarnya.

Pezeshkian juga menepis anggapan bahwa tekanan dari pihak luar dapat memaksa Iran menyerah. "Anggapan bahwa bangsa Iran dapat dipaksa untuk menyerah adalah keliru dan tidak berdasar," katanya.

Pertemuan di Teheran tersebut juga membahas kemungkinan pembentukan mekanisme keamanan regional yang melibatkan Iran, Arab Saudi, Pakistan, dan Turki.

Adapun Turki, Arab Saudi, dan Pakistan sebelumnya sepakat untuk segera menjalankan komitmen pertahanan bersama melalui Komite Strategis Politik dan Pertahanan Makkah yang kerap disebut NATO versi Muslim.

Ali Bagheri Kani, ajudan pejabat keamanan Iran Mohsen Rezaei, mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa pertemuan itu mengirimkan pesan bahwa "perselisihan dapat diselesaikan melalui dialog".

Selain keamanan, para pejabat juga membicarakan kerja sama ekonomi. Pertemuan ini berlangsung ketika Arab Saudi berupaya mengamankan wilayahnya dari dampak konflik, sementara Turki dan Pakistan berusaha mencegah perang meluas. Ketiga negara juga ingin menunjukkan bahwa kekuatan regional dapat berperan dalam menentukan tatanan keamanan Timur Tengah.

Salah satu perhatian utama dalam pembicaraan tersebut adalah mencegah serangan baru Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta mendorong Teheran bekerja sama meredakan serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi. Namun, belum ada rincian mengenai kesepakatan konkret yang dihasilkan dari pertemuan tersebut.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Umumkan Pertemuan dengan Para Pentolan "NATO Muslim", Ada Apa?


Most Popular
Features