CLOSE AD
MARKET DATA

Menteri Tito, Amran-Trenggono Rapat di Kantor Zulhas, Ada Masalah Apa?

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
26 October 2026 13:23
Konferensi pers usai Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) terkait ketahanan pangan di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (26/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: Konferensi pers usai Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) terkait ketahanan pangan di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (26/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Budi Santoso, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, hingga Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menggelar rapat koordinasi terbatas (Rakortas) di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Senin (26/10/2026).

Rapat berlangsung sekitar dua jam untuk membahas kondisi ketahanan pangan nasional, sekaligus perkembangan harga sejumlah komoditas.

Dalam rapat tersebut, pemerintah menyoroti kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit yang turut mendorong inflasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kenaikan harga kedua komoditas itu meluas di berbagai daerah hingga pekan keempat Oktober 2026.

BPS mencatat harga rata-rata cabai merah secara nasional mencapai Rp70.849 per kilogram (kg) pada pekan keempat Oktober 2026. Angka tersebut naik 23,47% dibandingkan rata-rata September 2026 sebesar Rp57.383 per kg.

Sementara itu, harga cabai rawit mencapai Rp88.642 per kg, naik 12,49% dibandingkan September 2026 yang sebesar Rp78.802 per kg.

Kenaikan harga cabai merah terjadi di 327 kabupaten/kota atau 90,83% dari wilayah yang dipantau. Adapun cabai rawit mengalami kenaikan harga di 269 kabupaten/kota atau 74,72% wilayah pemantauan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena kenaikan harga cabai berpotensi menambah tekanan inflasi menjelang akhir tahun.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan, inflasi Indonesia pada September 2026 masih berada dalam rentang sasaran pemerintah. Namun, secara bulanan terjadi kenaikan harga yang terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

"Secara month to month, Agustus-September ada kenaikan inflasi sedikit, yaitu 0,3%. Dan penyumbang utamanya adalah sektor makanan, minuman. Namun sektor makanan minuman ini kita melihat yang utama adalah cabai rawit dan cabai merah. Ya bukan makanan pokok," kata Tito dalam konferensi pers, Senin (26/10/2026).

Berdasarkan data BPS, inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 0,30% secara bulanan (month-to-month/mtm). Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil 0,26%.

Secara rinci, cabai rawit memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,08%, disusul cabai merah sebesar 0,06%. Komoditas lain yang turut mendorong inflasi adalah daging ayam ras dengan andil 0,05%, beras 0,03%, serta telur ayam ras 0,02%.

Tito menilai kenaikan harga cabai tidak terlepas dari gangguan produksi akibat kekeringan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi kondisi tersebut adalah menggenjot penanaman cabai di berbagai daerah.

"Sebetulnya bisa diatasi juga dengan menggenjotkan program tanam cabai yang banyak dilakukan di berbagai daerah, di desa-desa, di kelurahan-kelurahan, di kota. Kalau bisa mencukupi cabainya sebetulnya cukup," ujarnya.

Di sisi lain, Tito menyebut kenaikan harga cabai juga memberikan keuntungan bagi petani yang memproduksi komoditas tersebut. Meski demikian, pemerintah tetap perlu menjaga pasokan agar lonjakan harga tidak membebani konsumen.

Pemerintah juga mulai mengantisipasi potensi peningkatan permintaan pangan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Mobilitas masyarakat yang meningkat pada periode libur akhir tahun dinilai dapat menambah tekanan terhadap harga pangan dan sejumlah komoditas lainnya.

Oleh karena itu, Tito mengusulkan penguatan bantuan sosial dan pelaksanaan operasi pasar di daerah untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengendalikan harga.

"Operasi pasar oleh teman-teman kepala daerah. Kita harapkan ini di daerah masing-masing di bulan November-Desember ini terus dilanjutkan oleh Badan Pangan Nasional, Bulog, dan lain-lain," pungkas dia.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Cabai Dorong Inflasi, Harga-harga di Bulan Oktober Diramal Makin Panas


Most Popular
Features