Mantan Menkeu RI Ungkap Malaysia Segera Jadi Negara Kaya Berikutnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menilai Asia masih menghadapi tantangan untuk mendorong lebih banyak negara masuk ke kelompok berpendapatan tinggi (high-income economy).
Bahkan, menurutnya, kawasan Asia masih tertinggal dibandingkan dengan Eropa Tengah dan Timur dalam mendorong transformasi ekonomi.
Bambang mengatakan, keberhasilan negara-negara Eropa Tengah dan Timur dalam meningkatkan perekonomian tidak terlepas dari dukungan Uni Eropa (UE), yang tidak hanya membantu dari sisi kebijakan dan ekonomi, tetapi juga mendorong industrialisasi di kawasan tersebut.
Sementara itu, model pertumbuhan ekonomi Asia pada masa lalu banyak bertumpu pada manufaktur dan ekspor. Strategi tersebut berperan besar dalam mendorong kemajuan ekonomi Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara Asia lainnya.
"Sayangnya, saat ini Asia sedikit tertinggal dibandingkan dengan Uni Eropa. Kita tidak memiliki banyak negara yang berhasil naik menjadi negara berpendapatan tinggi," ujar Bambang dalam paparannya di Danantara.
Dia menilai, Asia membutuhkan pendekatan dan model pertumbuhan ekonomi baru agar mampu mengejar ketertinggalan dari Eropa Tengah dan Timur.
Menurut Bambang, pengalaman Uni Eropa dalam mendorong industrialisasi di negara-negara Eropa Tengah dan Timur pada awal 2000-an dapat menjadi pelajaran bagi Asia. Dukungan tersebut dinilai serupa dengan peran Jepang dalam membantu perkembangan industri di sejumlah negara Asia Tenggara pada masa lalu.
"Uni Eropa bukan hanya mendukung kebijakan dan perekonomian Eropa Tengah dan Timur, tetapi juga melakukan industrialisasi di kawasan tersebut," jelasnya.
Meski demikian, Bambang menegaskan bahwa manufaktur dan ekspor tetap menjadi elemen penting bagi negara yang ingin mencapai status berpendapatan tinggi. Hanya saja, strategi tersebut perlu diperbarui dengan memperkuat adaptasi teknologi dan inovasi untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
Di tengah tantangan tersebut, Bambang melihat Malaysia sebagai negara ASEAN yang paling dekat untuk mencapai status berpendapatan tinggi dalam beberapa tahun ke depan.
Menurutnya, keberhasilan Malaysia akan menjadi perkembangan penting bagi kawasan Asia Tenggara, mengingat belum banyak negara di Asia yang berhasil mencapai tingkat pendapatan tersebut.
"Yang paling dekat saat ini adalah negara-negara ASEAN, yaitu Malaysia. Mungkin dalam beberapa tahun ke depan mereka akan menjadi negara berpendapatan tinggi," kata Bambang.
Namun, dia mengingatkan bahwa pencapaian status tersebut membutuhkan model pertumbuhan yang mampu meningkatkan produktivitas dan nilai tambah ekonomi secara berkelanjutan.
Bambang menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), akan menjadi faktor penting yang menentukan daya saing ekonomi negara-negara di masa mendatang.
Dia menjelaskan, model pertumbuhan ekonomi Asia berikutnya harus berorientasi pada adaptasi teknologi untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi, baik di sektor manufaktur, pertanian, maupun jasa.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi harus didukung investasi besar dalam penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) serta inovasi.
Bambang mencontohkan Korea Selatan, yang menurut paparannya memiliki rasio investasi riset terhadap produk domestik bruto (PDB) sekitar 5,3%. Sementara itu, Singapura sebagai salah satu negara ASEAN dengan investasi riset tertinggi memiliki rasio sekitar 1,5% dari PDB.
Adapun investasi riset Indonesia, berdasarkan pengalaman Bambang ketika menjabat sebagai Menteri Riset, baru sekitar 0,3% dari PDB.
Karena itu, dia menilai Indonesia perlu meningkatkan investasi riset secara signifikan agar tidak tertinggal dalam persaingan global dan mampu membangun ekonomi dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
"Ini saatnya Indonesia mulai lebih serius dan benar-benar berinvestasi dalam R&D," tegasnya.
(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]