CLOSE AD
MARKET DATA
Internasional

Presiden Betah di Luar Negeri, Kunjungan Kerja ke Negeri Sendiri

tps,  CNBC Indonesia
24 October 2026 08:15
FILE PHOTO: FILE PHOTO: Cameroonian President Paul Biya listens as Pope Leo XIV (not pictured) delivers a speech, at the Presidential Palace in Yaounde, during his apostolic journey to Cameroon, April 15, 2026. REUTERS/Guglielmo Mangiapane/File Photo
Foto: REUTERS/Guglielmo Mangiapane

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Kamerun Paul Biya, tengah menjadi sorotan tajam dan sasaran kritik publik. Ironisnya, pemimpin otoriter tersebut dituduh hanya bertindak sebagai 'tamu' yang sekadar mengunjungi negaranya sendiri akibat terlalu sering menghabiskan waktunya untuk menetap di Swiss.

Mengutip The Washington Post, Sabtu (24/10/2026), Biya diketahui telah menjabat sebagai presiden sejak tahun 1982 silam. Ia kini tengah menjalani masa jabatan kedelapannya setelah kembali memenangkan pemilihan ulang pada tahun lalu. Pada akhir masa jabatannya nanti, pemimpin Afrika tersebut diperkirakan akan berusia 99 tahun.

Saking lamanya ia berkuasa, hampir separuh dari total populasi negara tersebut tidak mengenal presiden lain selain dirinya. Namun, fakta paling tidak biasa dari kekuasaannya adalah kecenderungannya untuk menghabiskan sebagian besar waktunya di Eropa, khususnya di Swiss.

Kepulangannya ke Kamerun pada minggu ini justru memicu gelombang kritik daring yang masif karena bertepatan dengan perjuangan negara itu melawan pengangguran massal dan konflik pemisahan diri yang telah berlangsung selama hampir satu dekade. Banyak warga merasa seolah-olah negara mereka sedang menerima kunjungan kenegaraan resmi dari presidennya sendiri. Pengguna TikTok bernama Pr7ation turut melontarkan sindiran keras terkait fenomena tidak wajar tersebut.

"Rakyat Kamerun, saya ingin tahu bagaimana perasaan Anda karena bagaimana Anda memberi tahu saya bahwa seorang kepala negara akan mengunjungi Anda," ungkapnya.

Sebuah berita utama yang bernada lelucon satir bahkan ikut menjadi viral di dunia maya.

"Presiden Kamerun, Paul Biya yang berusia 93 tahun, diperkirakan akan mengunjungi Kamerun minggu depan."

Berdasarkan catatan, Biya diketahui pergi meninggalkan negaranya selama sekitar dua bulan pada tahun 2024, dan absen dalam periode yang hampir sama pada tahun ini, yakni dari 7 Juni hingga 20 Agustus. Proyek Pelaporan Kejahatan Terorganisir dan Korupsi (OCCRP) bahkan memperkirakan bahwa pada tahun 2018 saja, ia telah menghabiskan 4,5 tahun di luar negeri murni untuk kunjungan pribadi sejak menjadi presiden, dan angka bombastis itu terus merangkak naik hingga saat ini.

Lebih lanjut, selama kampanye pemilihan presiden pada tahun 2025 lalu, ia juga sebagian besar absen dari berbagai rapat umum. Merespons kejanggalan ini, pihak pemerintah Kamerun langsung turun tangan membela rentetan perjalanan luar negerinya dan menepis keras berbagai laporan terkait kondisi kesehatan sang presiden yang disebut-sebut mulai menurun.

Pemerintah mengeklaim bahwa Biya tetap mampu mengelola dan menjalankan roda pemerintahan negara secara jarak jauh, bahkan di tengah kondisi kekosongan kursi wakil presiden saat ini. Di sisi lain, pemerintah Kamerun dilaporkan tidak segera menanggapi permintaan komentar lebih lanjut terkait rincian perjalanan pemimpinnya tersebut.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bilangnya Sebentar, Presiden Pergi 10 Minggu ke Eropa & Baru Pulang


Most Popular
Features