Babak Belur! SWF Terbesar di Dunia Boncos Rp540 T di Kuartal III-2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Dana kekayaan negara terbesar di dunia dari Norwegia mencatat kerugian investasi hampir US$30 miliar atau sekitar Rp540 triliun pada kuartal III-2026. Kenaikan suku bunga global menekan kinerja portofolio obligasi yang menjadi salah satu instrumen investasi dana raksasa tersebut.
Norges Bank Investment Management (NBIM), lembaga yang mengelola dana investasi senilai US$2,3 triliun itu, melaporkan imbal hasil akuntansi negatif sebesar 278 miliar kroner Norwegia atau setara US$29,7 miliar selama periode tersebut.
Sekitar 70% dari portofolio pendapatan tetap NBIM ditempatkan pada obligasi pemerintah, sedangkan sisanya dialokasikan ke surat utang korporasi.
Pasar obligasi global mengalami tekanan sepanjang kuartal III-2026. Imbal hasil obligasi pemerintah melonjak seiring dimulainya siklus kenaikan suku bunga oleh sejumlah bank sentral utama, termasuk Federal Reserve Amerika Serikat (AS). Kekhawatiran terhadap inflasi dan membengkaknya utang pemerintah turut memperburuk sentimen pasar.
Investasi pendapatan tetap NBIM mencatatkan imbal hasil negatif 3,5%, menjadikannya salah satu faktor utama di balik pelemahan kinerja keseluruhan dana tersebut.
"Imbal hasil dana hampir mendatar, tetapi berakhir sedikit negatif karena kenaikan suku bunga menyebabkan hasil investasi kami pada instrumen pendapatan tetap melemah," kata Wakil CEO NBIM Trond Grande dalam sebuah pernyataan, Kamis (22/10/2026).
Instrumen pendapatan tetap mencakup sedikit lebih dari seperempat total portofolio NBIM. Lembaga ini memiliki investasi pada 1.664 obligasi yang tersebar di 51 negara.
Bulan lalu, NBIM mengungkapkan rencana untuk mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memangkas porsi investasi pada surat utang yang diterbitkan pemerintah.
Di sisi lain, saham yang menyumbang sekitar 72% dari total investasi dana kekayaan negara Norwegia itu menghasilkan imbal hasil positif sebesar 0,5% pada kuartal III-2026.
NBIM memiliki kepemilikan minoritas di sekitar 7.100 perusahaan di berbagai negara. Dengan investasi yang mencakup sekitar 1,5% dari seluruh perusahaan tercatat di dunia, lembaga tersebut menjadi investor tunggal terbesar secara global.
Kinerja pasar saham sepanjang tiga bulan hingga September bergerak bergejolak. Tiga indeks utama Wall Street menutup kuartal dengan hasil beragam. Indeks S&P 500 menguat 2,03%, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 1,9%. Sementara itu, Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi naik 2,2%.
Rata-rata perubahan ketiga indeks tersebut hanya mencapai 0,6%, menandakan perlambatan reli pasar saham setelah mencatatkan kenaikan dua digit pada kuartal sebelumnya.
NBIM juga menjadi pemegang saham di sejumlah perusahaan terbesar AS. Salah satu investasinya yang terbesar adalah kepemilikan saham Nvidia senilai US$65,4 miliar. Dana tersebut juga memiliki investasi di Apple, Alphabet, dan Microsoft.
Besarnya kepemilikan di perusahaan-perusahaan global membuat NBIM memiliki pengaruh signifikan, baik dalam penggunaan hak suara pemegang saham maupun dalam membentuk tren investasi di pasar.
"Imbal hasil saham juga hampir nol, tetapi terdapat perbedaan besar antar sektor. Perusahaan energi mencatatkan kenaikan tertinggi, sementara sektor yang sensitif terhadap suku bunga, seperti utilitas dan properti, mengalami penurunan," ujar Grande pada Kamis.
Menurut NBIM, saham-saham energi diuntungkan oleh lonjakan harga minyak selama kuartal III-2026, di tengah berlanjutnya perang antara AS dan Iran. NBIM sendiri memiliki saham di sejumlah perusahaan energi besar, termasuk Exxon Mobil, Shell, dan Chevron.
Pada musim panas lalu, CEO NBIM Nicolai Tangen telah mengingatkan investor agar tidak berharap reli pasar saham pada paruh pertama tahun ini berlanjut dengan kekuatan yang sama.
"Tentu saja, kita tidak seharusnya mengharapkan imbal hasil yang sama ke depannya seperti yang telah kita lihat selama enam bulan terakhir," kata Tangen kepada CNBC saat itu.
Peringatan tersebut muncul setelah dana kekayaan negara Norwegia membukukan imbal hasil sebesar 12,95% pada semester I-2026. Dalam periode yang sama, NBIM meraih laba hampir US$185 miliar, menjadi rekor keuntungan semester pertama.
Selain saham dan obligasi, NBIM juga menanamkan modal pada properti serta infrastruktur energi terbarukan. Kedua kelas aset tersebut masing-masing mencatatkan imbal hasil positif 0,4% dan 7,5% pada kuartal III-2026.
Adapun Norwegia membentuk dana kekayaan negara tersebut pada 1998 untuk menginvestasikan pendapatan yang diperoleh dari sektor minyak. Dana itu kemudian berkembang menjadi investor global dengan kepemilikan aset yang tersebar di berbagai negara dan sektor industri.
Â
(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]