ADB Bakal Kucurkan Pinjaman Rp3,93 T untuk Perkuat BPOM RI
Makassar, CNBC Indonesia - Asian Development Bank (ADB) tengah merancang pendanaan senilai US$ 218 juta atau setara Rp 3,93 triliun (kurs Rp 18.049/US$) untuk memperkuat kapasitas pengawasan dan akses yang lebih besar terhadap produk makanan dan obat-obatan yang aman dan berkualitas bagi masyarakat Indonesia.
Pendanaan dalam bentuk program Bolstering Product Oversight and Market Surveillance for Food and Drug Project (BPOM Project) itu menyasar perbaikan pada 27 laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)Indonesia.
"Ini adalah program pemerintah, ini adalah prioritas pemerintah dan telah dipilih oleh Bappenas sebagai prioritas untuk pembiayaan. Jadi, kami bermitra dengan pemerintah Indonesia untuk membiayai ini," kata Direktur ADB untuk Indonesia Bobur Alimov saat ditemui di kawasan Balai Besar BPOM Makassar, Kamis (22/10/2026).
Proyek yang diusulkan ini akan mendukung pelaksanaan Grand Design BPOM untuk Penguatan Laboratorium Obat dan Makanan menuju Indonesia Emas 2045.
Proyek ini mencakup pembangunan dan penyediaan peralatan bagi laboratorium serta kantor untuk memperkuat kapasitas pengujian di tingkat lokal, sekaligus mengurangi kebutuhan rujukan sampel dan mempercepat waktu penyelesaian pengujian.
Prinsip laboratorium yang ramah lingkungan (green) dan tangguh (resilient) akan diterapkan demi mendukung pembangunan berkelanjutan. Selain itu, sistem informasi digital akan ditingkatkan untuk memfasilitasi pertukaran data, integrasi sistem, dan analisis big data, yang pada akhirnya akan mengoptimalkan pengawasan pasar berbasis risiko serta pengawasan terhadap lokapasar (marketplace) daring.
Proyek ini juga akan memperkuat kapasitas teknis maupun manajerial staf BPOM dalam menjalankan fungsi-fungsi regulasinya.
Salah satu proyek yang akan segera mendapat pendanaan dari program ADB itu ialah pembangunan green lab di Balai Besar POM Makassar. Proyek ini akan memanfaatkan luas lahan tersedia sekitar 3.300 m2 dengan luas bangunan laboratorium 2.160 m2 dan luas gudang 600 m2.
Kepala Balai Besar POM (BBPOM) Makassar Yosef Dwi Irwan Prakasa Setiawan mengatakan, total proyek itu akan mencapai Rp 50 miliar, yang sepenuhnya didanai dari program BPOM Project ADB.
"Ini sebenarnya kan sudah kita planning-kan sejak 2024 pembangunan green laboratorium ini. Tapi karena ada beberapa tantangan berkaitan adanya efisiensi anggaran, automatic adjustment, sehingga 2025 tidak bisa juga, 2026 juga, tapi sekarang ternyata kami mendapatkan dukungan dari ADB," kata Yosef.
Yosef mengatakan, proyek ini akan mulai berjalan pada kuartal III-2027 dan rencananya selesai pada 2028.
Keberadaan lab baru ini, kata Yosef, akan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas pengujian didukung fasilitas, instrumen, dan infrastruktur yang memadai dan terintegrasi untuk peningkatan efisiensi biaya operasional
Selain itu, memperkuat implementasi Green Laboratory secara sistematis, terstandar, dan berkelanjutan, meningkatkan green culture untuk kenyamanan, kesehatan dan keselamatan kerja, serta memperkuat sarana, prasarana, dan sistem pengelolaan limbah yang efisien dan selaras Green Laboratory.
Ia memastikan, proyek ini juga akan menjadikan BBPOM Makassar sebagai role model green laboratory tersertifikasi di kawasan Timur Indonesia.
"Sehingga Makassar sebagai gerbang timur Indonesia akan ada green laboratorium yang green sebagai percontohan model. Belum ada soalnya, hanya satu mungkin di Pusat," tutur Yosef.
(arj/haa) [Gambas:Video CNBC]