CLOSE AD
MARKET DATA

El Nino Ancam Inflasi Pangan, BI Turun Gunung Jaga Pasokan Beras-Cabai

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
22 October 2026 10:15
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P Gozali dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Oktober 2026 Cakupan Triwulanan dan Tahunan di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (21/10/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P Gozali dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Oktober 2026 Cakupan Triwulanan dan Tahunan di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (21/10/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mewaspadai dampak fenomena El Niño terhadap inflasi pangan, terutama jika kondisi cuaca kering berkepanjangan hingga awal 2027. Sejumlah wilayah, khususnya Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampua), Bali-Nusa Tenggara (Balinusra), dan Sumatra, dinilai perlu mendapat perhatian.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Ricky P. Gozali mengatakan inflasi nasional pada September 2026 mengalami peningkatan, tetapi masih terkendali dalam sasaran yang ditetapkan. Meski demikian, tekanan dari kelompok pangan bergejolak (volatile food) perlu diwaspadai.

"Secara nasional inflasi September 2026 meningkat, namun tetap terkendali dalam sasaran. Dari sisi lain, tekanan inflasi dari volatile food sebesar 5,03%," ujar Ricky.

Secara spasial, tekanan inflasi pangan tertinggi terjadi di wilayah Sulampua dan Kalimantan. Inflasi volatile food di Sulampua tercatat mencapai 8%, sedangkan di Kalimantan sebesar 7,2%.

Ricky menjelaskan, El Niño yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027 berpotensi memengaruhi produksi dan pasokan sejumlah komoditas pangan. Dampaknya perlu diantisipasi, terutama di wilayah Sulampua, Balinusra, dan Sumatra, dengan komoditas utama yang perlu dijaga pasokannya meliputi beras, cabai, dan bawang merah.

Untuk mengantisipasi tekanan harga dalam jangka pendek, BI mendorong penguatan fasilitas distribusi pangan agar pasokan dari daerah surplus dapat segera disalurkan ke daerah yang mengalami defisit.

Sementara itu, dalam jangka panjang, upaya pengendalian inflasi perlu diperkuat melalui pengembangan hulu-hilir sektor pangan, penyediaan infrastruktur irigasi, serta penggunaan bibit yang lebih tahan terhadap perubahan kondisi cuaca.

BI juga mengembangkan dashboard rantai pasok yang dapat dimanfaatkan pemerintah untuk memantau daerah surplus dan defisit, ketersediaan stok, serta menentukan jalur distribusi yang paling efisien.

Ricky menegaskan, BI bersama pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga kelancaran pasokan dan stabilitas harga pangan di tengah risiko perubahan cuaca.

"Kami BI dan Pemda serta TPID terus jaga stabilitas harga," ujar Ricky.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Harga Bahan Makanan Naik Gila-gilaan, Saatnya Waspada


Most Popular
Features