CLOSE AD
MARKET DATA

Breaking! Bahlil Pertimbangkan RI Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Emir Yanwardhana,  CNBC Indonesia
21 October 2026 20:05
Menteri Koordiantor Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (01/10/2026). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)
Foto: Menteri Koordiantor Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (01/10/2026). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tiba-tiba menyebut Pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan untuk menghentikan ekspor gas ke negara tetangga.

Bahlil mengatakan, wacana ini dengan mempertimbangkan isu ketahanan energi nasional, di tengah kondisi dinamika geopolitik dunia yang masih panas.

Ini pun sesuai dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto di mana Indonesia sekarang berada dalam kondisi harus bertahan (survival).

"Ya memang harus survival, kita sebagai pejabat negara, Bapak Presiden sebagai Presiden, pasti apa yang disampaikan Presiden, semua kementerian mampu menjabarkan dalam konteks menuju survival," ungkap Bahlil saat ditemui usai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

"Jadi kalau negara lain ada pandangan lain untuk kita, hati-hati saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga karena harus survival kan, harus penuhi kebutuhan dalam negeri," tandasnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa Indonesia sekarang berada dalam kondisi harus bertahan (survival). Penekanan itu disampaikan Prabowo saat memberikan arahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026).

Mulanya, kepala negara menjelaskan, Indonesia selalu menjadi sasaran kekuatan maupun negara yang ingin mengambil kekayaan alam. Saat menerima mandat dan dilantik pada tanggal 20 Oktober 2024, Prabowo mengaku menghadapi tantangan dan kesulitan dengan berani.

"Kita tidak bisa lagi menghadapinya dengan terlalu naif atau berusaha untuk menyenangkan orang lain. Kita dipaksa sekarang untuk memilih menghadapi kesulitan, menghadapi kenyataan, yang intinya adalah menyelamatkan kekayaan bangsa dan rakyat Indonesia," ujar Prabowo.

Atau, lanjut dia, meneruskan sistem yang mengakibatkan kekayaan Indonesia diambil ke luar negeri tahun demi tahun melalui segala praktik yang dianggapnya sebagai penipuan.

"Bangsa kita ditipu, rakyat kita ditipu, pemerintah kita ditipu, para ahli hukum, para ahli pidana akan membenarkan. Coba apakah ada pemimpin politik atau ahli hukum yang akan berdiri dan mengatakan bahwa penyelundupan itu bukan pelanggaran?," tanya Prabowo.

"Penyelundupan adalah ibarat menikam bangsa kita, menikam badan kita. Penyelundupan adalah usaha untuk membunuh ekonomi kita. Membunuh ekonomi kita artinya membunuh bangsa kita," lanjutnya.

Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya itu pun menyinggung berbagai bentuk penyelundupan ke dalam negeri dan luar negeri, mulai dari narkotika, timah, emas, batubara, kayu, bahan bakar minyak (BBM), hingga pupuk.

"Bagaimana bisa ada yang mengatakan bahwa sistem yang mengizinkan penyelundupan jalan terus boleh kita pertahankan. Inti yang ingin saya sampaikan dan sudah berkali-kali saya sampaikan adalah kita sekarang berada dalam kondisi harus survival, kita harus bertahan, kita harus menyelamatkan kekayaan kita," kata Prabowo.

"Kekayaan kita, sumber alam kita, itu adalah ibarat darah kita. Kalau darah kita bocor terus, tidak mungkin badan kita selamat. Kita berada dalam kondisi harus survive dan ini tidak hanya kita, banyak negara di dunia sekarang mengalami seperti kita. Dalam keadaan survival yang utama adalah kepentingan nasional dan kepentingan rakyat," lanjutnya.

Ekspor Gas RI ke Singapura

Perlu diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2022 lalu sempat menyampaikan Indonesia telah memperpanjang kontrak penjualan gas ke Singapura.

Adapun kontrak gas yang sedianya berakhir pada 2023 tersebut selanjutnya akan diperpanjang hingga lima tahun ke depan sampai 2028.

Menteri ESDM yang saat itu dijabat oleh Arifin Tasrif membeberkan bahwa Singapura telah meminta bantuan agar Indonesia tetap memasok gas bumi. Mengingat, Negeri Singa masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap sumber gas RI.

"Kita masih ada gasnya jadi kita kasih, jadi perpanjang lima tahun. Lima tahun dulu. Kita punya pasokan, ada yang perlu kita kan harus bantu-membantu," ungkap Arifin ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (28/9/2022).

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Indonesia pada 2023 lalu telah memperpanjang kontrak ekspor gas ke Singapura, tepatnya ke Gas Supply Pte Ltd (GSPL), hingga 2028.

Adapun jumlah ekspor gas RI ke GSPL Singapura ini tercatat sebesar 160 BBUTD (billion british thermal unit per day) pada 2023. Kemudian, tahun 2024-2028 sebesar 180 BBUTD.

Kebutuhan gas Singapura sendiri mulanya dipasok dari Blok Corridor, Sumatra Selatan. 

Namun, pada April 2025 lalu, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan pihaknya akan merealokasi sumber ekspor ke Singapura dari Sumatra menjadi dari Natuna.

Dia mengatakan hal itu akan dilakukan untuk tetap bisa memenuhi jumlah ekspor gas ke Singapura.

"Kita akan memaksimalkan ekspor gas pipa dari Natuna, dari Sumatra kita kurangi yang ke Singapura, untuk kebutuhan dalam negeri, pemenuhan Singapura kita maksimalkan dari Natuna," jelasnya saat ditemui usai acara Launching OLNG FEED Masela di Jakarta, dikutip Selasa (15/4/2025).

Dia mengatakan, sekitar 30 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) ekspor gas ke Singapura akan dikurangi mulai Juni 2025 mendatang.

"Untuk sementara targetnya 30 MMSCFD. 3 kargo lah. (Target) Juni (2025)," bebernya.

Data Kontrak Ekspor Gas

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pada 2020, setidaknya ada tiga kontrak ekspor gas RI ke Singapura dengan pasokan minimal sekitar 700 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Artinya, hampir 60% pasokan gas Singapura memang berasal dari Indonesia.

Berikut kontrak ekspor gas RI ke Singapura, berdasarkan data SKK Migas pada 2020:

1. Kontrak Ekspor Gas Pipa ke GSPL Singapura

Ini merupakan kontrak gas pipa dari lapangan gas yang dikelola ConocoPhillips Grissik Ltd (kini sudah beralih ke Medco E&P Grissik Ltd) dan Petrochina ke Gas Supply Pte Ltd (GSPL), perusahaan gas di Singapura. Adapun volume terkontrak sebesar 350 miliar British thermal unit per hari (Billion British Thermal Unit per Day/ BBTUD) dan kontrak akan berakhir pada 2023.

2. Kontrak Ekspor Gas Pipa ke SembGas

Kontrak ekspor gas dari lapangan gas yang dikelola Medco Natuna, Premier Oil dan Star Energy ke SembCorp Gas (SembGas), perusahaan gas di Singapura. Kontrak akan berakhir di 2028. Mengutip dari situs SembGas, ekspor gas perdana ke SembGas ini sebesar 100 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) pada Juli 2001 dari lapangan gas yang terdapat di West Natuna Sea (Laut Natuna Barat). Adapun dalam perjanjian jual beli gas (Gas Sales Agreement) pada saat itu mencapai 325 MMSCFD.

Sementara sumber gas diambil dari sejumlah blok di Laut Natuna Barat seperti South Natuna Sea Block B yang saat itu dikelola ConocoPhillips, namun sejak 2016 sudah diambil alih Medco E&P Natuna Ltd, lalu Kakap Block yang dioperasikan Gulf Resources (Kakap) Ltd namun kini dioperasikan Star Energy (Kakap) Ltd, Natuna Sea Block A, dan Premier Oil Natuna Sea.

3. Kontrak Ekspor Gas Pipa ke SembGas

Selain itu, secara terpisah ada juga kontrak ekspor gas dari lapangan gas yang dikelola Premier Oil ke SembCorp Gas (SembGas), perusahaan gas di Singapura. Kontrak juga akan berakhir pada 2028.

(wia) [Gambas:Video CNBC]
Next Article RI Impor LPG 8 Juta Ton, Bahlil: Banyak Sekali Devisa Kita Keluar


Most Popular
Features