MARKET DATA

Harga Minyak Melejit, Setoran dari Hulu Migas RI Diramal Tembus 109%

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
20 October 2026 15:15
PHE
Foto: Dok: PHE

Jakarta, CNBC Indonesia - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memproyeksikan pendapatan negara dari sektor hulu minyak dan gas bumi dalam negeri bisa melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 atau bisa mencapai 109%.

Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas Desti Melanti menjelaskan realisasi penerimaan negara saat ini telah menyentuh posisi sekitar 80%. Ia menyampaikan bahwa proyeksi akhir tahun didasarkan pada perhitungan kenaikan Indonesian Crude Price (ICP) yang sempat menyentuh US$ 106 per barel dari asumsi APBN sebesar US$ 75 per barel.

"Dalam dinamika geopolitik yang berkembang saat ini, bahwa ICP secara global yang memberikan dampak terhadap peningkatan penerimaan negara tentunya akan berkontribusi cukup signifikan, di mana tahun 2026 ini InsyaAllah kami berhasil mencetak 109% lebih tinggi daripada target APBN yang telah ditetapkan," ujar Desti dalam Konferensi Pers Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Pihaknya menilai lonjakan harga minyak mentah menjadi faktor utama yang mampu mendongkrak penerimaan negara meskipun volume lifting minyak masih berhadapan dengan berbagai tantangan.

Proyeksi harga minyak hingga akhir tahun diperkirakan tetap bertahan di kisaran US$ 95 hingga US$ 98 per barel, bahkan berpotensi menyentuh angka US$ 100 per barel jika kondisi geopolitik terus berkepanjangan.

"Ya kalau dari sisi penerimaan negara, karena kan kalau bagi hasil kan terbentuk awalnya kan dari harga dan lifting. Pada saat harga naik walaupun lifting tidak naik signifikan, itu tetap mampu menaikkan target penerimaan negara," katanya di sela acara.

Saat ini, pihaknya terus fokus mengoptimalkan skema komersialisasi untuk mempercepat dan memaksimalkan porsi lifting minyak. Hal itu untuk memanfaatkan momentum harga tinggi agar potensi tambahan penerimaan negara dapat terjaga.

"Situasi ini kan sesuatu yang memang tidak bisa kita kontrol untuk harga ya. Yang bisa kita optimalkan adalah skema komersialisasi untuk percepatan lifting," paparnya.

Peningkatan penerimaan dari sektor hulu migas diharapkan mampu memberikan kontribusi positif terhadap kas negara di tengah dinamika harga energi global. Namun, optimalisasi penerimaan negara tersebut tetap membutuhkan strategi komersialisasi yang adaptif serta dukungan dari seluruh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).

"Namun demikian, tanpa upaya dan strategi komersialisasi yang dilakukan oleh SKK Migas dan kontraktor-kontraktor kerja sama dan para pemangku kebijakan, target penerimaan negara tentunya sulit untuk dapat terealisasi," tandasnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]
Next Article DPR Ngebut RUU Migas, SKK Migas Bakal Diganti Badan Usaha Khusus


Most Popular
Features