Menteri Singapura Sorot APP dalam Investigasi Kabut Asap RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Senior Singapura K. Shanmugam mengatakan hasil investigasi menunjukkan Asia Pulp & Paper (APP) membeli produk dari tiga perusahaan yang menerima pemberitahuan hukum terkait kebakaran lahan di Indonesia.
Pemerintah Singapura akan mendalami hubungan perusahaan pulp dan kertas berbasis di Indonesia tersebut dengan ketiga pemasoknya. Langkah ini dilakukan di tengah penyelidikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap lintas negara (transboundary haze).
"Sebagai contoh, investigasi menunjukkan bahwa Asia Pulp & Paper (APP) membeli produk dari tiga perusahaan yang telah menerima pemberitahuan dari NEA. Kami akan mendalami hal ini lebih lanjut," kata Shanmugam, Senin (19/10/2026), seperti dikutip CNA.
Shanmugam menegaskan pemerintah Singapura tidak akan membiarkan perusahaan menghindari pertanggungjawaban melalui struktur korporasi yang rumit.
"Perusahaan tidak bisa bermain kucing-kucingan dengan berbagai struktur korporasi yang berbeda," ujarnya.
Tiga perusahaan yang dimaksud adalah Bumi Andalas Permai, Bumi Mekar Hijau, dan Sebangun Bumi Andalas (SBA) Wood Industries. Ketiganya merupakan pemasok APP yang memiliki konsesi di Sumatera Selatan dan telah menerima pemberitahuan dari Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA).
Sebelumnya, NEA mengirimkan pemberitahuan hukum kepada 10 perusahaan di Indonesia. Mereka diminta menghentikan pembakaran, memadamkan api, serta menyerahkan rencana pencegahan kebakaran. Pemberitahuan tersebut merupakan bagian dari langkah penegakan hukum dan bukan dengan sendirinya berarti seluruh perusahaan yang menerimanya telah terbukti bersalah menyebabkan kebakaran.
Di sisi lain, Singapore Environment Council (SEC) memberlakukan pembatasan sementara terkait sertifikasi ramah lingkungan APP melalui skema Singapore Green Labelling Scheme Plus (SGLS+). APP diwajibkan menyampaikan laporan harian mengenai pengelolaan kebakaran dan menjalani pemantauan lebih ketat. Sertifikasinya dapat ditangguhkan apabila perusahaan tidak menunjukkan langkah pencegahan dan pemadaman kebakaran yang efektif.
APP menyatakan hasil analisis satelit menunjukkan bahwa hampir seluruh titik kebakaran yang terdeteksi di konsesi ketiga pemasoknya selama periode Juli hingga Oktober bermula dari luar batas konsesi, sebelum api menyebar ke area perusahaan.
Selain itu, APP juga menyebut telah mengerahkan sumber daya untuk memadamkan kebakaran. Klaim tersebut merupakan penjelasan dari perusahaan dan perlu dibedakan dari hasil penyelidikan otoritas.
Pemerintah Singapura menyatakan akan terus mendalami dugaan keterkaitan perusahaan dengan kebakaran yang memicu kabut asap. Penyelidikan juga akan berlanjut meskipun kabut asap telah mereda.