MARKET DATA
Internasional

Senasib dengan RI, Kabut Asap juga Selimuti Negara Ini

tfa,  CNBC Indonesia
19 October 2026 05:30
Smoke billows during a fire in an area of the Amazon rainforest near Porto Velho, Rondonia State, Brazil, Brazil August 21, 2019. REUTERS/Ueslei Marcelino
Foto: Asap Kebakaran Hutan Amazon, Rondonia State, Brasil (v)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebakaran hutan di Amazon, Brasil, kian meluas di tengah kekeringan ekstrem yang diperparah fenomena El Niño. Asap tebal kini menyelimuti sejumlah wilayah dan memperburuk kualitas udara, menghadirkan pemandangan yang mengingatkan pada bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

Citra satelit NASA pada 12 Oktober 2026 memperlihatkan kepulan asap dari kebakaran di wilayah Amazon bagian tengah dan timur, di kedua sisi Sungai Amazon. Di Manaus, salah satu kota terbesar di kawasan tersebut, konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat melampaui 135 mikrogram per meter kubik, sehingga sejumlah sekolah, kegiatan publik, dan acara olahraga dibatalkan.

Douglas Morton, ilmuwan dari Goddard Space Flight Center NASA, mengatakan kebakaran tropis dapat membentuk rangkaian kejadian di berbagai belahan dunia. Menurut dia, kebakaran yang sebelumnya melanda Indonesia kini diikuti kebakaran di Amazon.

"Sekarang, di Amazon, kita melihat domino kedua dalam rangkaian ini tumbang," kata Morton, merujuk pada kebakaran di negara bagian Pará dan Amazonas, Brasil, dikutip Senin (19/10/2026).

Kebakaran di Indonesia sendiri telah terjadi sejak Agustus 2026. Pada Oktober, ratusan rumah dilaporkan hancur akibat kebakaran, sementara asap menyelimuti sejumlah pulau. Morton mengatakan pola serupa pernah terlihat pada periode 2015-2016 dan kembali muncul pada 2023.

Kondisi kering membuat hutan Amazon semakin rentan terbakar. Data Institut Meteorologi Nasional Brasil menunjukkan curah hujan di Manaus pada Agustus berada 95% di bawah normal, sedangkan pada September tercatat 60% lebih rendah dari biasanya.

Sebagian besar kebakaran di Amazon dipicu aktivitas manusia, sementara sambaran petir menyumbang kurang dari 1%. Api yang awalnya digunakan untuk membuka lahan pertanian atau mengelola padang penggembalaan dapat lepas kendali dan menyebar ke vegetasi hutan yang mengering.

Shane Coffield, peneliti dari University of Maryland yang bekerja bersama NASA Goddard, memperkirakan terdapat sekitar 50 hingga 70 kebakaran yang tidak terkendali di wilayah Santarém.

Analisisnya juga menemukan jumlah kebakaran di kawasan tersebut sekitar 40% lebih banyak daripada yang terdeteksi melalui sistem pemantauan kebakaran aktif FIRMS, karena asap, awan, dan tutupan kanopi pohon dapat menghalangi pengamatan satelit.

Morton memperingatkan gelombang kebakaran berikutnya berpotensi melanda Roraima, Pará bagian utara, Amapá, Venezuela, Guyana, dan Suriname pada November hingga Desember. Ia menilai intensitas El Niño tahun ini membuat pencegahan pembakaran lahan menjadi semakin penting.

"Ini sangat mencolok sekaligus membuat frustrasi karena terjadi lagi," ujarnya. "Dengan intensitas El Niño ini, tahun ini benar-benar menjadi saat bagi orang-orang untuk menghindari pembakaran dengan segala cara."

(tfa/tfa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Dunia Terancam, Penampakan Hutan 'Paru-Paru Bumi' Rusak & Terbakar


Most Popular
Features