Demo Besar-Besaran Meletus, Warga Sudah Muak Krisis Makin Parah
Jakarta, CNBC Indonesia - Warga Guadalajara, salah satu kota terbesar di Meksiko, menuntut kejelasan atas krisis air bersih yang kian memburuk. Pasokan air keran yang mengalir ke rumah-rumah warga dilaporkan berbau busuk serta dipenuhi endapan lumpur. Situasi ini memicu gelombang demonstrasi hingga berujung bentrokan dengan aparat kepolisian.
Aksi protes besar-besaran yang terjadi akhir pekan lalu mendadak jadi sorotan nasional usai polisi mengerahkan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa. Puluhan orang dilaporkan luka-luka dan hampir 40 demonstran ditangkap.
Insiden tersebut memantik teguran keras dari Presiden Claudia Sheinbaum atas tindakan represif aparat, seraya berjanji mengevaluasi dua proyek infrastruktur air di wilayah tersebut.
Kendati demikian, gelombang unjuk rasa susulan diproyeksikan masih akan terus berlanjut. Di media sosial, marak beredar video warga yang menampung air berwarna cokelat keruh hingga kehitaman langsung dari keran rumah mereka.
Krisis ini mempertegas bobroknya tata kelola air di wilayah metropolitan berpenduduk lebih dari 5 juta jiwa tersebut. Selain sebagai pusat pemukiman, Guadalajara yang terletak di Negara Bagian Jalisco ini merupakan pusat industri dan manufaktur terbesar di Meksiko. '
Fenomena ini sekaligus mencerminkan krisis air yang meluas di berbagai kota besar Meksiko akibat infrastruktur lapuk, pencemaran lingkungan, serta tekanan populasi terhadap sumber daya yang terbatas.
Laporan pemantauan independen oleh Lembaga Pembangunan Komunitas Meksiko (IMDEC) pada Juni lalu menguji 184 sampel air rumah tangga dari 90 kawasan pemukiman. Hasilnya mencemaskan, lebih dari 93% sampel sama sekali tidak mengandung sisa klorin, yakni zat disinfektan utama yang berfungsi membunuh bakteri berbahaya di saluran air.
Tak hanya itu, pengujian laboratorium juga menemukan lonjakan kadar zat berbahaya seperti timbal, merkuri, nitrat, hingga bakteri E. coli yang mengindikasikan adanya kontaminasi kotoran.
Atas temuan mengejutkan ini, IMDEC mendesak pemerintah segera menetapkan status darurat kesehatan masyarakat, menguji ulang sampel melalui laboratorium independen terakreditasi, serta mengusut tuntas biang kerok pencemaran tersebut.
Di tengah aksi unjuk rasa pada Kamis (15/10) malam waktu setempat, Aleida Morales (54), warga setempat, mengungkapkan bahwa pasokan air ke rumahnya sudah sering keruh dan berwarna cokelat selama 15 tahun terakhir.
Kekecewaan warga kian memuncak karena mereka menilai ekspansi ekonomi di Guadalajara, yang juga menjadi salah satu kota penyelenggara Piala Dunia, harus dibayar mahal dengan kerusakan lingkungan.
Guadalajara sendiri berada di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Lerma-Santiago, salah satu sistem sungai paling tercemar di Meksiko akibat akumulasi limbah industri, limbah rumah tangga, dan pesatnya urbanisasi.
"Pasti ada jalan lain yang lebih ramah lingkungan untuk membuka lapangan kerja. Pendekatan pemerintah saat ini sama saja meracuni kami," tegas Morales, dikutip dari Reuters, Sabtu (17/10/2026).
Ia mengenang, tiga dekade lalu kakek-neneknya masih menikmati sungai dan air terjun di kawasan tersebut bagaikan "surga". "Kini tempat itu berubah jadi sumber racun," tambahnya.
Tantangan Lingkungan Menahun
Pemerintah federal Meksiko tak menampik besarnya ancaman lingkungan di kawasan tersebut. Pada Juli lalu, Presiden Sheinbaum bersama Menteri Lingkungan Hidup Alicia Barcena meluncurkan program pemulihan DAS Lerma-Santiago dan dua sungai tercemar lainnya dengan nilai investasi mencapai 20 miliar peso (sekitar Rp 17,1 triliun). Pemerintah mengklaim telah mengidentifikasi ratusan titik pemicu utama polusi.
Pakar Teknik Lingkungan dari Universitas Guadalajara, Allan Tejeda, menilai krisis air ini merupakan puncak dari tekanan lingkungan yang terabaikan selama bertahun-tahun, bukan sekadar insiden pencemaran tunggal.
Ia menyoroti kombinasi fatal antara pembuangan limbah tanpa pengolahan memadai, praktik pembuangan ilegal, pesatnya pertumbuhan kota, hingga minimnya investasi berkelanjutan pada infrastruktur pengolahan air.
Fasilitas pengolahan air yang ada saat ini tak lagi sanggup menampung gempuran polutan yang masuk ke sistem perairan, terang Tejeda. "Masalah sistemik ini tidak pernah mendapat perhatian serius yang dibutuhkan," ujarnya.
Sikap tegas juga datang dari Majelis Nasional untuk Air, Kehidupan, dan Wilayah. Koalisi hak asasi di Meksiko ini menyatakan dukungan penuh bagi para pengunjuk rasa dan menuntut hadirnya "solusi nyata, komprehensif, dan teruji."
"Air bukanlah hak konsesi yang dibagikan pemerintah, bukan pula fasilitas istimewa yang hanya bisa dibeli oleh kelompok mampu. Air adalah kebutuhan mutlak bagi kehidupan, kesehatan, pangan, dan keberlangsungan hidup masyarakat," tegas pernyataan resmi kelompok tersebut.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]