MARKET DATA
Internasional

Badai PHK Hantam Netflix, Siap Pecat Ribuan Karyawan

tps,  CNBC Indonesia
15 October 2026 07:40
FILE PHOTO: The Netflix logo is shown in this illustration photograph in Encinitas, California, U.S., on October 14, 2014.   REUTERS/Mike Blake/File Photo                         GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD
Foto: REUTERS/Mike Blake

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa layanan streaming global, Netflix, secara mengejutkan mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 6% dari total tenaga kerjanya. Langkah efisiensi besar-besaran ini dipastikan akan memakan korban kurang lebih 1.000 orang pekerja.

Mengutip CNBC, Kamis (15/10/2026), pemangkasan jumlah karyawan ini sebagian besar akan menyasar berbagai posisi krusial di tim produk, teknologi, hukum, dan sumber daya manusia (HR). Keputusan pahit tersebut terungkap secara rinci melalui sebuah memo internal perusahaan yang ditujukan kepada para staf pada hari Rabu.

Dalam memo internal tersebut, Co-CEO Netflix Ted Sarandos dan Greg Peters membeberkan alasan strategis di balik langkah pemangkasan yang ditempuh oleh perusahaan.

"Misi kami untuk menghibur dunia adalah sesuatu yang ambisius, dan untuk mewujudkannya mengharuskan kami untuk berdisiplin mengenai di mana kami memprioritaskan orang dan sumber daya kami," ungkapnya.

"Bisnis kami kuat dan terus berkembang, dan kami tetap berada di jalur yang tepat untuk memenuhi perkiraan setahun penuh kami. Kami akan terus berinvestasi secara agresif di area-area berdampak tinggi untuk meningkatkan layanan kami serta lebih jauh mendorong pertumbuhan dan inovasi."

"Melakukan hal itu berarti membuat pilihan-pilihan yang terfokus di seluruh bisnis sehingga kami dapat terus memberikan hasil bagi para anggota, mitra, karyawan, dan investor kami," ucap Peters.

Pihak Netflix menyatakan tidak memiliki komentar tambahan apa pun di luar memo dari kedua bos besar tersebut, di mana perusahaan kini tengah bersiap melaporkan pendapatan kuartalan pada 20 Oktober mendatang. Ironisnya, gelombang PHK ini terjadi hanya beberapa minggu setelah konferensi Bloomberg Screentime digelar.

"Perusahaan tidak tumbuh secepat yang saya inginkan," kata Sarandos.

Dalam beberapa bulan terakhir, Netflix memang dihadapkan pada sebuah paradoks. Perusahaan terus mencatatkan laba yang solid dan tetap bertengger sebagai pemain terbesar di ranah streaming, namun waktu menonton terpantau stagnan. Penggerak utama dari akuisisi pelanggan baru perusahaan murni hanya ditopang oleh penindakan tegas terhadap praktik berbagi kata sandi serta peluncuran tingkatan layanan berlangganan dengan dukungan iklan yang jauh lebih murah.

Di sisi lain, ancaman terbesar bagi Netflix saat ini datang dari YouTube, ditambah dengan kemunculan entitas baru Skydance di depan mata. Entitas gabungan raksasa dari Paramount dan Warner Bros. Discovery tersebut diketahui memiliki rencana masif untuk mengintegrasikan platform streaming kedua perusahaan, yakni Paramount+ dan HBO Max.

Demi bersaing memperebutkan porsi perhatian konsumen, Netflix sejatinya telah mendiversifikasi kontennya dalam beberapa tahun terakhir dengan berekspansi secara agresif ke siaran olahraga langsung, film dokumenter, hingga permainan video. Namun pada saat yang sama, platform ini kehilangan daya magisnya karena kekurangan hit fenomenal yang kerap menjadi buah bibir layaknya "Stranger Things" dan "Squid Game", yang sebelumnya selalu sukses mendongkrak penayangan maupun pertumbuhan pelanggan.

Tren efisiensi brutal ini nyatanya tidak hanya menerpa Netflix di ruang media. Pada bulan lalu, pesaing utamanya yakni Disney juga telah resmi mengumumkan PHK terhadap sekitar 300 karyawannya, dengan mayoritas pemotongan secara spesifik menyasar pada sumber daya manusia dan peran teknologi.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Netflix Bakal Phk 5% Karyawan


Most Popular
Features