Kabut beracun telah menyelimuti sebagian Indonesia, Malaysia, dan Singapura selama berminggu-minggu.
Seorang turis mengambil foto saat gedung-gedung komersial dan cakrawala kota terlihat diselimuti kabut di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (13/10/2026). (Mohd Rasfan / AFP)
Kabut beracun telah menyelimuti sebagian Indonesia, Malaysia, dan Singapura selama berminggu-minggu sementara Jakarta berjuang untuk mengendalikan kebakaran yang telah menghanguskan sebagian besar wilayah Kalimantan dan Sumatra, dengan asap yang menyebar ke seluruh wilayah tersebut. (Mohd Rasfan / AFP)
Melansir dari Reuters, menurut Fire Emissions Watch, sebuah portal yang dikembangkan oleh layanan pemantauan iklim Copernicus Uni Eropa, emisi dari kebakaran di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia selama sebulan terakhir, dan mencapai hampir setengah dari total emisi global selama tujuh hari terakhir. (Mohd Rasfan / AFP)
Malaysia telah menutup sekolah di beberapa negara bagian, telah menawarkan bantuan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Andrew Chen Kah Eng, kepala cabang negara bagian Johor dari koalisi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Pakatan Harapan, mengatakan Indonesia "harus bertanggung jawab." (Mohd Rasfan / AFP)
Data resmi tentang luas lahan yang rusak akibat kebakaran belum diperbarui sejak Juli, ketika 202.000 hektar (500.000 acre) terbakar. Kementerian Kehutanan mengatakan membutuhkan waktu untuk memverifikasi data terbaru. (Mohd Rasfan / AFP)
Namun, menurut kelompok lingkungan Auriga, lebih dari 637.000 hektar rusak dari Januari hingga Agustus tahun ini, sembilan kali luas Singapura. Lembaga pemantau deforestasi Nusantara Atlas bahkan menyebutkan angka yang lebih tinggi, yaitu hampir 900.000 hektar. (Mohd Rasfan / AFP)