MARKET DATA
Internasional

World Bank & IMF Beri Alarm di Bangkok, "Tsunami" Ini Bisa Picu Krisis

sef,  CNBC Indonesia
13 October 2026 06:00
International Monetary Fund (IMF) Managing Director Kristalina Georgieva (4th R), Thai Prime Minister Anutin Charnvirakul (C), World Bank Group President Ajay Banga (4th L), Thailand's Deputy Prime Minister and Minister of Finance Ekniti Nitithanprap
Foto: AFP/PANUMAS SANGUANWONG

Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap lapangan kerja semakin nyata. Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperingatkan gelombang disrupsi AI berpotensi mengguncang pasar tenaga kerja global, terutama bagi anak muda dan lulusan baru yang tengah memasuki dunia kerja.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menggambarkan dampak AI terhadap pasar tenaga kerja seperti "slow-moving tsunami" atau tsunami yang bergerak perlahan, tetapi berpotensi membawa perubahan besar. Peringatan tersebut disampaikan Georgieva dalam sebuah panel pada Senin.

Ia menyoroti anak muda sebagai kelompok yang paling rentan karena pekerjaan awal yang biasanya menjadi batu loncatan karier mereka mulai terancam otomatisasi. "Orang-orang yang perlu dikhawatirkan, pertama dan terutama, adalah anak muda yang memasuki pasar tenaga kerja," kata Georgieva, dikutip CNBC International Selasa (13/10/2026).

Menurutnya, lulusan baru biasanya memulai karier melalui pekerjaan rutin dan berulang, sebelum naik ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, ketika pekerjaan semacam itu semakin berkurang akibat AI, kesempatan mereka untuk membangun karier sejak awal ikut menyempit.

Kekhawatiran tersebut muncul ketika para pembuat kebijakan mulai bergeser dari perdebatan mengenai apakah AI akan menggantikan pekerjaan menuju upaya mencari solusi untuk meredam dampaknya. Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam, yang turut memimpin Jobs Council bentukan Bank Dunia, menyerukan agar pemerintah menjadikan kebijakan dukungan ketenagakerjaan pada masa krisis sebagai bagian permanen dari strategi ekonomi.

Menurut Tharman, program yang sebelumnya diterapkan selama pandemi Covid-19 dan, dalam beberapa kasus, krisis keuangan global, perlu dipertimbangkan sebagai kebijakan struktural untuk membantu anak muda memperoleh pekerjaan. Pemerintah, katanya, perlu bekerja sama dengan sektor swasta dan memberikan insentif kepada perusahaan agar bersedia merekrut lulusan baru.

"Jenjang pertama dalam pekerjaan, yakni pekerjaan pertama setelah lulus, kini mengalami penurunan permintaan," ujarnya.

1,2 Miliar Anak Muda Masuk Usia Kerja

Tekanan terhadap pasar tenaga kerja semakin besar karena dunia juga menghadapi perubahan demografi, termasuk penuaan penduduk yang berpotensi mengurangi jumlah tenaga kerja di sejumlah negara Asia. Presiden Bank Dunia Ajay Banga memperkirakan sekitar 1,2 miliar anak muda akan mencapai usia 18 tahun dalam 15 tahun mendatang, di mana sebagian besar dari mereka akan membutuhkan kesempatan kerja di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Banga menegaskan sektor swasta akan memegang peran penting dalam menyerap tenaga kerja tersebut. Sektor swasta saat ini menghasilkan sekitar 75%-85% lapangan kerja di suatu negara.

Karena itu, pemerintah perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan perusahaan berkembang dan merekrut lebih banyak pekerja. Langkah tersebut mencakup pembangunan infrastruktur, penetapan kebijakan yang mendukung investasi, serta pengurangan risiko bagi investor.

"Modal swastalah yang menciptakan lapangan kerja," kata Banga.

IMF memperkirakan sekitar 40% pekerjaan di seluruh dunia pada akhirnya akan mengalami perubahan akibat AI, baik melalui peningkatan kemampuan pekerja, penurunan kualitas atau kebutuhan pekerjaan, maupun penghapusan pekerjaan. Dampaknya diperkirakan lebih besar di negara maju, dengan sekitar 60% pekerjaan terpapar AI.

Sementara itu, di negara berpendapatan rendah, angkanya sekitar 23%. Namun, rendahnya tingkat paparan di negara miskin bukan berarti mereka lebih terlindungi. Menurut Georgieva, kondisi itu antara lain disebabkan oleh adopsi AI yang belum meluas.

Krisis Pekerjaan Lulusan Baru Makin Terasa

Tharman mengatakan tekanan terhadap kesempatan kerja semakin terlihat di industri teknologi. Di Amerika Serikat (AS), menurutnya, permintaan terhadap lulusan perguruan tinggi mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam satu abad, sementara keuntungan upah yang biasanya diperoleh pemegang gelar sarjana juga menyusut.

Situasi ini berisiko membuat lulusan baru kehilangan kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan mengembangkan keterampilan pada tahap awal karier. Jika tidak ditangani, dampaknya bukan hanya berupa hilangnya pekerjaan. Kepercayaan generasi muda terhadap masa depan juga dapat terkikis.

Meski demikian, Tharman menilai perubahan akibat AI tidak akan berlangsung sekaligus, melainkan terjadi secara bertahap, tugas demi tugas. Kondisi ini memberikan waktu bagi pemerintah, perusahaan, dan lembaga pendidikan untuk menyiapkan pekerja menghadapi perubahan tersebut.

Ia menekankan pentingnya kesempatan belajar langsung di tempat kerja serta penyesuaian pendidikan tinggi agar lebih berorientasi pada keterampilan praktis.

AI Bisa Dongkrak Ekonomi, tetapi Pekerjaan Belum Tentu Bertambah

Di tengah ancaman terhadap tenaga kerja, AI justru menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi global tahun ini. Georgieva mengatakan investasi dan perdagangan yang berkaitan dengan AI telah membantu menopang aktivitas ekonomi di sejumlah negara.

Hal itu turut menjaga pertumbuhan global mendekati 3%, meskipun dunia menghadapi guncangan pasokan energi. "Terima, benci, atau takut terhadapnya. AI sudah hadir, dan kita telah melihat gelombang pertama dampaknya," ujar Georgieva.

Ia memperkirakan adopsi AI berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5 hingga 1 poin persentase di negara-negara maju Asia. Sementara di negara-negara berkembang Asia, peningkatannya diperkirakan mencapai 0,2 hingga 0,8 poin persentase.

Dalam skenario optimistis, tambahan pertumbuhan tersebut bahkan dapat lebih dari mengimbangi dampak negatif penuaan penduduk terhadap perekonomian.bNamun, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tidak otomatis menghasilkan lebih banyak pekerjaan.

Tharman mencontohkan China, India, dan negara-negara berkembang di Asia Tenggara yang masih mencatat pertumbuhan ekonomi cukup baik, tetapi penciptaan lapangan kerjanya relatif lemah. Ia memperingatkan kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi dan penciptaan pekerjaan dapat semakin lebar jika pemerintah tidak mengambil langkah antisipatif menghadapi AI.

Dengan demikian, tantangan terbesar bagi pemerintah bukan sekadar mendorong pertumbuhan ekonomi di era AI, melainkan memastikan manfaat teknologi tersebut juga membuka kesempatan kerja dan tidak membuat generasi muda semakin sulit memulai karier.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Negara Krisis Kembali Utang ke IMF Rp 6,14 Triliun


Most Popular
Features