MARKET DATA
Internasional

Update! Saudi Masih Hujan Rudal & Drone, Bandara Riyadh Masih Lumpuh

sef,  CNBC Indonesia
13 October 2026 05:30
Rekaman pengawas memperlihatkan orang-orang bereaksi di tengah kepulan asap saat terjadi serangan di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada 10 Oktober 2026, dalam cuplikan dari video yang dirilis untuk umum ini. (Saudi Ministry
Foto: Rekaman pengawas memperlihatkan orang-orang bereaksi di tengah kepulan asap saat terjadi serangan di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada 10 Oktober 2026, dalam cuplikan dari video yang dirilis untuk umum ini. (via REUTERS/Saudi Ministry of Media)

Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi kembali menghadapi ancaman serangan rudal dan drone pada Senin (12/10/2026), di tengah eskalasi konflik dengan kelompok Houthi Yaman. Mengutip Reuters Selasa (13/10/2026), koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pasukan pemerintah Yaman melaporkan adanya rudal dan drone yang mengarah ke wilayah mereka.

Serangan terbaru ini terjadi setelah kelompok Houthi, yang bersekutu dengan Iran, mengklaim serangan rudal terhadap terminal keberangkatan bandara Riyadh, Sabtu. Sejak pekan lalu, kelompok tersebut juga melancarkan serangan terhadap bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi, termasuk yang terbaru pada Minggu.

Dilaporkan bagaimana rentetan serangan itu menyebabkan sebagian wilayah udara Arab Saudi ditutup dan mengganggu operasional penerbangan di ibu kota. Langit Riyadh bahkan dilaporkan relatif sepi di tengah berlangsungnya konferensi energi besar di kota tersebut.

Mengutip AFP, Otoritas Umum Penerbangan Sipil (GACA) dalam sebuah pernyataan mengumumkan perpanjangan penangguhan operasional di Bandara Internasional King Khalid. Pihak otoritas menyatakan bahwa perpanjangan tersebut diperlukan untuk menyelesaikan prosedur yang diperlukan guna memverifikasi keselamatan fasilitas dan kesiapan operasionalnya.

Otoritas tersebut tidak merinci kapan operasional akan kembali berjalan. Namun, seorang sumber senior di bidang penerbangan yang mengawasi penerbangan ke wilayah Teluk untuk sebuah maskapai mengatakan bahwa operasional akan dihentikan selama sisa hari kerja di Arab Saudi, berdasarkan pesan yang dikirimkan kepada maskapai tersebut pada hari Senin oleh otoritas penerbangan Saudi.

"Mereka memberi tahu kami bahwa penangguhan ini akan berlangsung setidaknya hingga hari Kamis. Tidak ada penerbangan hingga akhir pekan," ujar sumber tersebut kepada AFP.

"Terminal 3 dan 4 mengalami kerusakan, begitu pula peralatan radar dan komunikasi bandara, sementara kondisi landasan pacu belum diperiksa," tambahnya.

Situasi ini menambah tekanan terhadap pemerintah Arab Saudi yang kembali terlibat dalam perang saudara Yaman. Riyadh berupaya memukul mundur Houthi dari kawasan strategis Selat Bab el-Mandeb, jalur penting pelayaran dan perdagangan energi, sekaligus mencegah kelompok tersebut memperluas pengaruhnya setelah mengalami kemajuan militer pada September.

Sumber militer Yaman mengatakan pasukan yang didukung Arab Saudi telah memperoleh sejumlah kemajuan di sekitar Bab el-Mandeb. Namun, mereka masih menghadapi kesulitan di sejumlah front lainnya sehingga upaya menekan Houthi diperkirakan membutuhkan waktu.

Di tengah situasi tersebut, Iran menawarkan diri untuk menjadi mediator antara kelompok Houthi dan Arab Saudi. Perlu diketahui, Teheran sendiri merupakan sekutu kelompok tersebut.

"Kami telah berulang kali menyatakan kesiapan untuk membantu memfasilitasi dialog antara kedua pihak," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Senin.

Sementara itu, serangan udara Arab Saudi terhadap Houthi semakin intensif. Televisi Yaman melaporkan serangan udara menghantam Provinsi Al-Jawf pada Senin.

Namun, Houthi belum menunjukkan tanda-tanda menghentikan serangan terhadap infrastruktur Arab Saudi. Kelompok tersebut berulang kali mengancam akan menargetkan bandara, wilayah udara, dan fasilitas minyak yang menjadi salah satu penggerak utama perekonomian kerajaan.

UEA Serukan Pertahanan Teluk Bersama

Eskalasi serangan turut memicu seruan agar negara-negara Teluk memperkuat koordinasi keamanan dan pertahanan. Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin menyerukan pengaktifan kembali aksi bersama negara-negara Teluk di bidang keamanan dan pertahanan.

Penasihat Presiden UEA, Anwar Gargash, mengatakan serangan terhadap Arab Saudi juga mengancam keamanan seluruh negara Teluk. Ia menilai pengabaian terhadap keamanan kolektif kawasan telah membuat pihak lain semakin berani melakukan tindakan yang melampaui batas terhadap negara-negara regional.

Arab Saudi dan UEA sebelumnya merupakan mitra dalam konflik Yaman selama bertahun-tahun. Namun, keduanya mendukung kelompok berbeda di dalam koalisi militer yang membantu pemerintah Yaman dan mengalami keretakan hubungan pada musim dingin lalu.

Di sisi lain, Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman menegaskan bahwa kerajaan tetap berfokus menarik investasi untuk mendukung agenda pembangunan ekonomi meskipun menghadapi ancaman keamanan.

"Pengembangan sistem energi dan kemampuan industri kami terus berlanjut," katanya dalam konferensi pada Senin.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengatakan pada Sabtu bahwa Washington sedang mempertimbangkan untuk bergabung dengan Arab Saudi dalam serangan terhadap Houthi. Namun, hingga Senin belum terlihat tanda-tanda aksi militer AS.

Eskalasi ini menjadi tantangan bagi Arab Saudi, yang harus menjaga keamanan infrastruktur energi dan jalur pelayaran strategis sekaligus mempertahankan agenda transformasi ekonominya di tengah konflik regional yang semakin meluas.

FAA Beri Peringatan

Sementara itu, Administrasi Penerbangan Federal (FAA) memberi peringatan ke maskapai Amerika untuk berhati-hati terbang di dalam atau sekitar Arab Saudi. FAA mengatakan pilot harus "berhati-hati" di atau sekitar Arab Saudi "karena risiko keselamatan penerbangan terkait dengan aktivitas militer yang sedang berlangsung" dan sistem navigasi.

Dikatakan bahwa ancaman tersebut bisa menjadi potensi risiko terhadap pesawat di semua ketinggian. Peringatan FAA berlaku hingga 10 Desember.

Di sisi lain, maskapai AS, Delta Air Lines menunda peluncuran layanan penerbangan langsung antara Atlanta dan Riyadh hingga Maret. Sebelumnya, Delta berencana memulai rute tersebut pada 23 Oktober.

"Tentu saja, kami kecewa mendengar berita minggu ini," ujar CEO Delta Ed Bastian.

"Faktor keselamatanlah yang akan menentukan keputusan akhirnya," tambahnya.

Sebelumnya, maskapai nasional UEA, Etihad Airways, Senin, mengumumkan pembatalan seluruh penerbangan dari dan menuju Riyadh hingga pekan depan akibat gangguan regional. Maskapai tersebut juga telah menangguhkan penerbangan ke kota Dammam dan Jeddah.

Maskapai nasional Bahrain, Gulf Air, juga menyatakan pembatalan seluruh penerbangan ke Riyadh hingga hari Sabtu. Seorang pejabat senior Riyadh Metro mengatakan kepada AFP bahwa pihak berwenang telah menangguhkan layanan transportasi menuju tiga stasiun yang melayani bandara tersebut.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Netanyahu Tiba-Tiba Respons Rudal Serang Bandara Riyadh Arab Saudi


Most Popular
Features