MARKET DATA
Internasional

Singapura Jadi yang Terburuk, Pemerintah Terpaksa Lakukan Ini

luc,  CNBC Indonesia
12 October 2026 14:37
Singapore Flyer dan gedung-gedung komersial diselimuti kabut asap di kawasan Marina Bay, Singapura. (REUTERS/Ore Huiying)
Foto: Singapore Flyer dan gedung-gedung komersial diselimuti kabut asap di kawasan Marina Bay, Singapura. (REUTERS/Ore Huiying)

Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura mulai memberikan subsidi biaya pengobatan bagi warganya yang terdampak kabut asap pada Senin (12/10/2026). Sementara itu, sejumlah sekolah di negara bagian Malaysia masih ditutup akibat kualitas udara yang belum sehat karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Dilansir AFP, berdasarkan pemantauan lembaga pemantau kualitas udara asal Swiss, IQAir, Singapura kembali menempati posisi sebagai kota dengan polusi udara terburuk di dunia pada Senin. Kebakaran yang melanda Pulau Kalimantan dan Sumatra terus menghasilkan kabut asap beracun, diperparah oleh fenomena cuaca El Nino yang makin kuat.

Dampak kebakaran tersebut terasa di sejumlah wilayah, dengan puluhan ribu kasus gangguan pernapasan dilaporkan akibat paparan kabut asap.

Pemerintah Singapura mengaktifkan skema bantuan kesehatan untuk menekan biaya pengobatan penyakit yang berkaitan dengan kabut asap. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada Senin dan ditujukan agar masyarakat bisa memperoleh perawatan dengan biaya lebih terjangkau.

Kementerian Kesehatan Singapura dalam pernyataan pada Minggu malam menjelaskan bahwa subsidi mencakup sejumlah penyakit, antara lain rinitis alergi, asma, bronkitis, konjungtivitis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), infeksi saluran pernapasan atas, serta komplikasi yang menyertainya.

Bagi sebagian besar warga Singapura yang memenuhi persyaratan, biaya pengobatan dibatasi maksimal S$10. Sementara itu, warga lanjut usia berumur 67 tahun ke atas hanya perlu membayar S$5.

Singapura terakhir kali menerapkan skema subsidi kabut asap ini pada 2015. Kala itu, kebakaran hutan di Indonesia menyelimuti kawasan Asia Tenggara dengan asap beracun selama berminggu-minggu. Kondisi tersebut memicu peningkatan kasus penyakit, penutupan sekolah, hingga pembatalan penerbangan.

Di Malaysia, sebagian besar sekolah kembali beroperasi pada Senin setelah kualitas udara sedikit membaik. Namun, kegiatan belajar-mengajar masih dihentikan di seluruh wilayah Johor bagian selatan, serta sejumlah kawasan di Kuala Lumpur dan negara bagian Selangor bagian tengah.

Indonesia memang kerap menghadapi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. Namun, kebakaran tahun ini semakin parah akibat El Nino, yang diperkirakan menjadi salah satu fenomena terkuat sejak pencatatan pembanding dimulai sekitar empat dekade lalu.

Sejumlah pakar juga menyoroti praktik pembukaan lahan dengan cara menebang dan membakar vegetasi. Metode tersebut dinilai telah mengubah bentang alam yang sebelumnya secara alami relatif tahan terhadap kebakaran.

Kabut asap lintas batas ini turut mengganggu perjalanan di kawasan Asia Tenggara. Maskapai penerbangan berbiaya rendah Malaysia, Firefly, membatalkan penerbangan antara Bandara Sultan Abdul Aziz Shah di dekat Kuala Lumpur dan Bandara Seletar di Singapura selama Sabtu hingga Senin.

Dalam pernyataannya, Firefly menyebut pembatalan tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan demi keselamatan penerbangan.

"Mengingat situasi cuaca yang terus berkembang, Firefly memantau perkembangan dengan saksama. Informasi lebih lanjut mengenai jadwal penerbangan akan disampaikan langsung kepada pelanggan yang terdampak," kata maskapai itu melalui pernyataan di Facebook.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Malaysia Memburuk, Sekolah-Sekolah Tutup


Most Popular
Features