MARKET DATA
CNBC Insight

Gempa Dahsyat Bak Bom Atom Hantam Padang, Saksi Mata Tertimbun Seleher

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
10 October 2026 17:30
Gempa Bumi 7,6 SR yang mengguncang Kota Padang dan sekitarnya pada Rabu, 30 September 2009. (Dok. Detikcom/File Foto)
Foto: Gempa Bumi 7,6 SR yang mengguncang Kota Padang dan sekitarnya pada Rabu, 30 September 2009. (Dok. Detikcom/File Foto)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang waktu magrib, bencana besar melanda Sumatra Barat pada 30 September 2009. Gempa berkekuatan 7,6 SR mengguncang Padang dan Pariaman. Sedikitnya 1.117 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Sore itu, masyarakat tak menyangka guncangan yang datang tiba-tiba bakal berubah menjadi petaka. Dalam hitungan singkat, bangunan rusak, tanah longsor terjadi, dan warga berjuang menyelamatkan diri dari reruntuhan.

Salah satu korban yang mengalami langsung dahsyatnya bencana tersebut adalah Ismael. Saat gempa mengguncang, ia semula mengira peristiwa itu hanyalah gempa biasa. Namun, situasi berubah ketika longsor datang dan menimbun rumahnya.

"Pada saat itu pukul 17.13 WIB, gempa berguncang hebat, saya pikir itu cuman gempa saja. Ternyata ada longsor dan saya berlari ke belakang rumah. Pada saat saya berada di pintu dapur, rumah saya sudah tertimbun longsor begitupun dengan saya," kata Ismael kepada situs berita lokal, dikutip Sabtu (10/10/2026).

Ismael tak sempat menyelamatkan diri sepenuhnya. Material longsor dan puing-puing bangunan menimbun tubuhnya hingga sebatas leher. Dalam kondisi terjebak, ia hanya bisa berteriak meminta pertolongan sambil berharap seseorang datang menyelamatkannya.

"Badan saya tertimbun sedalam leher bahkan kaki saya terjepit puing-puing bangunan. Saya berteriak untuk mencari pertolongan dalam ketakutan dan berharap ada yang menolong," ujarnya.

Pengalaman Ismael menjadi salah satu gambaran betapa besar dampak gempa yang melanda Padang dan Pariaman. Tak heran, peristiwa tersebut tercatat sebagai bencana terdahsyat di Sumatera Barat.

Menurut riset "Memori Kolektif Masyarakat dalam Peristiwa Gempa 2009 di Kota Padang" (2021), gempa tersebut terjadi pada pukul 17.15 dan berkekuatan M7,6. Guncangannya terasa hingga Singapura dan Semenanjung Malaysia. Bahkan, energi yang dilepaskan melebihi kekuatan bom atom.

"Dilihat dari skala kekuatan ledakannya, gempa memiliki daya ledak sekitar 160 juta ton, melebihi sekian kali lipat daya ledak born atom, sehingga mampu menimbulkan kerusakan serius," ungkap tim riset.

Setelah gempa terjadi, aktivitas kota lumpuh. Jaringan listrik padam, komunikasi terputus, dan sejumlah fasilitas umum mengalami kerusakan. Sebanyak 442 unit kantor pemerintah terdampak, ribuan ruang kelas rusak, sementara sekitar 60% pasokan air bersih dari PDAM terganggu.

Di balik besarnya kerusakan, gempa Padang-Pariaman memiliki karakteristik geologis tersendiri. Ahli dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menyebut gempa Padang-Pariaman pada 30 September 2009 sebagai salah satu gempa dalam-lempeng (intra-slab earthquake) menengah terbesar di dunia. Ia menilai gempa tersebut memiliki kemiripan mekanisme dengan gempa Kolombia bermagnitudo Mw 7,4 beberapa waktu silam. 

"Kemiripan utamanya dengan Gempa Kolombia Mw 7,4 terletak pada posisi sumber energi yang tidak memecah bidang kontak antar-lempeng (megathrust), melainkan terjadi akibat patahan di dalam tubuh Lempeng Samudra Indo-Australia yang menunjam kaku tersubduksi ke bawah Lempeng Eurasia pada kedalaman sekitar 80 hingga 90 km," jelas Daryono dalam keterangan tertulis kepada CNBC Indonesia, dikutip Sabtu (10/10/2026).

Berbeda dengan gempa megathrust yang terjadi pada bidang pertemuan dua lempeng, gempa Padang-Pariaman bersumber dari patahan di dalam lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng lainnya. Menurut Daryono, proses ini berkaitan dengan gaya tarik lempeng ke bawah (slab pull) dan tekanan tekukan (bending stress).

Kuatnya guncangan juga dipengaruhi oleh karakteristik batuan di dalam lempeng tersebut. Batuan samudra yang padat, homogen, dan kaku dapat menghantarkan gelombang seismik secara efisien. Akibatnya, menurut Daryono, gelombang berfrekuensi tinggi mencapai permukaan dengan peredaman yang relatif kecil sehingga guncangan terasa sangat kuat.

Meski sumber gempa berada pada kedalaman menengah dan tidak memicu tsunami, dampaknya di permukaan sangat merusak. Di Kota Padang, endapan aluvial lunak memperkuat guncangan, sedangkan di perbukitan Pariaman, tanah longsor memperparah kerusakan.

Perpaduan mekanisme patahan, kuatnya gelombang seismik, kondisi tanah, dan longsor membuat gempa Padang-Pariaman menjadi bencana besar yang menelan banyak korban jiwa di Sumatra Barat.

(mfa/mfa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Geramnya Pakar Sampai "Tumpahkan" Bukti Tsunami Aceh Bukan Efek Nuklir


Most Popular
Features