MARKET DATA
Internasional

Jaksa Agung Ditangkap Gegara Suap Rp8,9 Miliar, 13 Orang Terseret

tps,  CNBC Indonesia
08 October 2026 05:36
Para demonstran bentrok dengan polisi selama protes yang menyerukan pengunduran diri Presiden Bolivia Rodrigo Paz, menyusul protes dan blokade selama berminggu-minggu yang menyebabkan kekurangan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan, di La Paz, Boliv
Foto: Para demonstran bentrok dengan polisi selama protes yang menyerukan pengunduran diri Presiden Bolivia Rodrigo Paz, menyusul protes dan blokade selama berminggu-minggu yang menyebabkan kekurangan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan, di La Paz, Bolivia, 10 Juni 2026. (REUTERS/Claudia Morales)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jaksa Agung Bolivia Roger Mariaca resmi ditangkap oleh pihak berwenang setempat akhir pekan kemarin. Penangkapan ini terjadi hanya berselang dua hari setelah Amerika Serikat (AS) mencabut visanya secara sepihak dan menuduhnya menerima suap untuk memfasilitasi operasi perdagangan narkoba.

Mengutip Reuters, Kamis (5/10/2026), Menteri Dalam Negeri Marco Antonio Oviedo pada Kamis membeberkan bahwa Mariaca ditangkap bersama 13 orang lainnya. Operasi penyergapan tersebut secara spesifik menargetkan apa yang digambarkan oleh pihak berwenang sebagai organisasi kriminal yang mengakar kuat di dalam sistem peradilan dan Kantor Kejaksaan Umum.

"Sebuah organisasi kriminal yang tertanam dalam sistem peradilan dan dalam administrasi lembaga yang sangat penting di negara kita, Kementerian Publik, telah dibongkar," ungkapnya.

"Jaringan ini bekerja untuk melindungi dan memfasilitasi aktivitas perdagangan narkoba di Bolivia," pungkas Oviedo.

Operasi besar-besaran ini digelar menyusul beredarnya rekaman video dan audio yang dikaitkan dengan tersangka gembong narkoba asal Uruguay, Sebastian Marset. Pihak berwenang langsung bergerak cepat setelah rilisnya materi di mana Marset diduga secara gamblang menyebut Mariaca sebagai "teman".

Ia bahkan mengeklaim telah menyetor uang senilai US$500.000 (Rp8,9 miliar) untuk dapat tetap bebas berada di Bolivia dan melanjutkan operasi gelapnya. Marset sendiri telah ditangkap di Bolivia pada bulan Maret lalu dan kemudian diekstradisi ke AS di mana ia kini tengah menunggu proses pengadilan.

Rentetan penangkapan ini terjadi di tengah momentum membaiknya hubungan diplomatik antara La Paz dan Washington setelah bertahun-tahun menegang. Presiden Rodrigo Paz, yang mulai menjabat pada November 2025, telah berjanji untuk membangun kembali hubungan dengan AS, terlebih saat pemerintahannya tengah berupaya keras mengamankan program Dana Moneter Internasional (IMF) senilai US$1,9 miliar (Rp33,82 triliun) yang baru disetujui oleh kongres Bolivia bulan lalu.

Sebelumnya pada Senin, Departemen Luar Negeri AS secara resmi telah menuduh Mariaca menerima uang panas.

"Ia menerima suap untuk memfasilitasi perdagangan narkoba dan membantu penjahat kekerasan menghindari keadilan," tegasnya.

Merespons hal tersebut, Mariaca secara vokal membantah keras seluruh tuduhan, dan menyebut keputusan AS sebagai bentuk campur tangan politik yang terkait erat dengan penyelidikan yang pernah diawasinya.

Berdasarkan laporan media lokal, Mariaca ditahan di Bandara Internasional Viru Viru di Santa Cruz. Selama siaran langsung di akun media sosial resmi Kantor Kejaksaan Agung, seorang pejabat secara terbuka mengecam insiden penahanan tersebut.

"Ini adalah sebuah penculikan," paparnya.

Sebagai informasi, hampir 20 orang dari Bolivia, Kolombia, dan Ekuador telah dimasukkan ke dalam daftar hitam oleh Washington pada minggu ini karena kasus korupsi, memiliki kaitan dengan perdagangan narkoba, atau merencanakan plot pemberontakan terhadap pemerintah mereka. Secara terpisah, AS juga telah mencabut visa milik 12 pejabat Bolivia.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Purbaya Buka Suara Soal Pejabat Bea Cukai Ditangkap KPK


Most Popular
Features