Ekonomi Meledak, Bank Vietnam Ramai-Ramai Incar Rp 124 T dari Asing
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank-bank di Vietnam saat ini tengah bersiap melangsungkan penjualan saham massal yang nilainya diestimasikan mencapai hampir US$ 7 miliar (Rp 124,6 triliun). Langkah agresif ini secara langsung membuka pintu lebar bagi para investor asing untuk memperluas ekspansi mereka di sektor perbankan yang selama ini berada di bawah kendali ketat pemerintah.
Mengutip Reuters, Rabu (7/10/2026), gelombang penggalangan modal yang diyakini sebagai yang terbesar dalam sejarah perbankan Vietnam ini dipicu oleh kebutuhan mendesak untuk memperkuat modal bank. Geliat penjualan saham ini mulai merangkak naik setelah batas atas pinjaman luar negeri dinaikkan sebesar 11% menjadi US$ 6,1 miliar (Rp 108,58 triliun) pada tahun ini, serta diizinkannya tiga pemberi pinjaman lokal untuk meningkatkan batas kepemilikan asing mereka hingga 49%.
Sejumlah transaksi bernilai fantastis kini tengah dinegosiasikan oleh beberapa bank besar. Sumitomo Mitsui Banking Corp (SMBC) asal Jepang dilaporkan sedang dalam tahap pembicaraan intensif dengan VPBank untuk menaikkan kepemilikan sahamnya menjadi 20% melalui penempatan swasta senilai US$ 560 juta (Rp 9,96 triliun).
Di saat yang sama, Vietcombank berencana menjual 6,5% sahamnya dengan nilai US$ 1,2 miliar (Rp 21,36 triliun). Ini kemudian disusul oleh BIDV dengan rencana pelepasan hampir 11% saham senilai US$ 1,4 miliar (Rp 24,92 triliun).
Menanggapi derasnya aliran modal asing ke sektor keuangan tersebut, dosen keuangan di Universitas Hoa Sen, Quynh Nguyen, membeberkan pandangannya. Menurutnya, ini juga bagian dari rencana negara meningkatkan pendanaan.
"Vietnam mengizinkan lebih banyak modal asing masuk ke bank-banknya karena mulai memikirkan kembali bagaimana fase pertumbuhan berikutnya akan didanai," paparnya.
Manuver masif di sektor perbankan ini sejatinya lahir sebagai bentuk penyesuaian atas kondisi perekonomian Vietnam yang tengah melaju sangat pesat. Negara komunis tersebut baru saja mencatatkan rekor pertumbuhan ekonomi yang luar biasa dengan menyentuh angka hampir 10% pada kuartal terakhir, yang sekaligus menobatkan industri perbankannya sebagai salah satu yang tumbuh paling cepat di kawasan Asia.
Ledakan ekonomi ini didorong langsung oleh ambisi pemimpin tertinggi Vietnam, To Lam, yang ingin memacu pertumbuhan melalui suntikan belanja infrastruktur besar-besaran. Demi merealisasikan target pertumbuhan ekonomi tahunan minimal 10% hingga 2030, para pembuat kebijakan kini mulai terbuka dan memandang partisipasi asing yang lebih besar sebagai suatu keharusan untuk memenuhi lonjakan permintaan kredit di tengah ketatnya ketersediaan dana domestik.
Analis Fitch Ratings, Willie Tanoto, menilai bahwa pesatnya pertumbuhan ini menawarkan potensi besar bagi masuknya dana asing lanjutan.
"Kami melihat beberapa peluang di antara bank-bank yang lebih kecil untuk mencetak beberapa ikatan di masa mendatang, asalkan Vietnam dapat mempertahankan kisah pertumbuhannya," tutur Tanoto.
(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]