CLOSE AD
MARKET DATA
Internasional

Bandara Dibom Balistik, Siaga Saudi-Houthi Yaman Jadi Perang Regional

sef,  CNBC Indonesia
07 October 2026 14:04
Seorang pejuang pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi menembakkan senjata yang terpasang pada kendaraan saat berlangsungnya apa yang disebut pasukan pemerintah sebagai gerakan maju melawan kelompok Houthi yang didukung Iran, di dekat Dhubab, Kegu
Foto: Seorang pejuang pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi menembakkan senjata yang terpasang pada kendaraan saat berlangsungnya apa yang disebut pasukan pemerintah sebagai gerakan maju melawan kelompok Houthi yang didukung Iran, di dekat Dhubab, Kegubernuran Taiz, Yaman; gambar ini merupakan cuplikan dari video yang dirilis pada 5 Oktober 2026. (via REUTERS/SOUTHERN GIANTS BRIGADES)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok Houthi Yaman yang beraliansi dengan Iran menyerang Bandara Internasional Aden menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) bermuatan bahan peledak pada Rabu (7/10/2026) pagi. Laporan diberikan secara resmi Kementerian Transportasi Yaman, sebagaimana dimuat Reuters.

Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya pertempuran beberapa pekan terakhir. Satu rudal jatuh di dekat landasan pacu bandara beberapa menit sebelum jadwal pendaratan pesawat dari Kairo, Mesir.

"Pihak berwenang membatalkan pendaratan dan mengalihkan pesawat ke Jeddah, sementara dua pesawat yang berada di landasan pacu dipindahkan dari lokasi tersebut karena kekhawatiran akan adanya serangan lanjutan," tulis kementerian.

Sejauh ini, belum ada komentar langsung dari pihak Houthi. Perlu diketahui, Bandara Internasional Aden merupakan pintu gerbang internasional utama bagi wilayah Yaman yang berada di luar kendali Houthi.

Sementara itu, koalisi pimpinan Arab Saudi, yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, menyatakan telah mencegat dan menghancurkan rudal balistik Houthi di sebelah utara Riyadh. Koalisi tersebut menyatakan sedang melacak peluncur rudal yang berada di wilayah Sanaa yang dikuasai Houthi dan akan menghancurkannya.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kelompoknya telah menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dengan beberapa pesawat nirawak. Serangan-serangan ini terjadi saat koalisi Arab Saudi melancarkan serangan balasan terhadap Houthi, yang berhasil merebut wilayah di sepanjang pesisir Laut Merah negara tersebut.

Di sisi lain, pasukan pemerintah Yaman, dengan dukungan Arab Saudi, melancarkan serangan kilat pekan ini untuk merebut kembali pesisir Laut Merah di sekitar Selat Bab el-Mandeb yang strategis dan kota Mocha. Houthi diklaim mulai mundur dari wilayah-wilayah yang sebelumnya mereka kuasai bulan lalu.

Sebelumnya pada Rabu, koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan rudal balistik Houthi yang diluncurkan ke arah Khamis Mushait, sebuah kota di wilayah barat daya Arab Saudi. Dalam pernyataan lain, Saree mengatakan bahwa kelompok Houthi telah menyerang Bandara Internasional Abha dan sebuah pangkalan udara di Khamis Mushait menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone).

Siaga Jadi Perang Regional

Perang terbaru di Timur Tengah ini dikhawatirkan menjadi perang regional. Kemarin, Arab Saudi sepakat dengan Turki dan Pakistan untuk segera mengerahkan kekuatan militer bersama.

Ketiga negara terikat secara pertahanan berdasarkan "Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah", yang juga dikenal sebagai "NATO Muslim". Koalisi tersebut telah mengumumkan bahwa 100 pesawat tempur dikerahkan untuk mendukung serangan pihak Yaman.

Di sisi lain, Suriah sedang mempertimbangkan untuk bergabung dalam perang melawan kelompok Houthi. Ini dikatakan kepala biro Washington untuk media Saudi, Asharq News, Hiba Nasr.

Nasr mengutip sejumlah sumber yang menyatakan bahwa gagasan tersebut sedang dibahas, namun belum ada keputusan akhir yang diambil. Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa sendiri telah mengunjungi Riyadh pada Selasa dan bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS).

"Pernyataan resmi menyebutkan bahwa keduanya membahas keamanan dan perkembangan kawasan, namun tidak menyinggung soal Yaman," tulis laman RT.

Awal Konflik Terjadi

Konflik di Yaman dalam bentuknya saat ini bermula ketika kelompok Houthi yang didukung Iran, merebut ibu kota Sanaa lebih dari satu dekade lalu. Hal ini memicu intervensi militer pimpinan Arab Saudi, namun, pertempuran sebagian besar mereda setelah adanya gencatan senjata pada tahun 2022.

Namun, sejak Juli 2026, hubungan kembali memburuk dan serangan lintas perbatasan mulai terjadi lagi. Pada Juli, ketegangan meningkat setelah Saudi melakukan serangan ke Sanaa, akibat serangan Houthi di wilayah Al-Jawf.

Pada September, Houthi melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone ke wilayah selatan Saudi, termasuk fasilitas energi dan instalasi militer. Houthi juga mulai menyerang kapal yang terkait dengan Saudi di Laut Merah dan mengumumkan blokade terhadap pelayaran Saudi.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Perang Menggila-Minyak Bisa Kiamat: Usai Hormuz, Laut Ini dalam Bahaya


Most Popular
Features