CLOSE AD
MARKET DATA
Internasional

CIA Ramal Israel Perang Saudara, Bisa Ambruk

tfa,  CNBC Indonesia
07 October 2026 22:00
Seseorang memegang bendera Israel saat orang-orang berdemonstrasi setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memecat menteri pertahanannya, Yoav Gallant, dengan alasan kurangnya kepercayaan, di Tel Aviv, Israel, 5 November 2024. (REUTERS/Ammar
Foto: Seseorang memegang bendera Israel saat orang-orang berdemonstrasi setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memecat menteri pertahanannya, Yoav Gallant, dengan alasan kurangnya kepercayaan, di Tel Aviv, Israel, 5 November 2024. (REUTERS/Ammar Awad)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dilaporkan memperingatkan Israel berisiko terjerumus ke dalam perang saudara atau mengalami keruntuhan politik akibat perpecahan yang kian tajam. Peringatan itu muncul di tengah tekanan ekonomi, sosial, dan politik setelah bertahun-tahun konflik di Gaza, Lebanon, dan Iran.

Melansir Middle East Monitor, Rabu (7/10/2026), dua sumber yang berbicara kepada Drop Site News menyebut penilaian rahasia tersebut disusun pada Agustus oleh para ahli Red Cell CIA dengan judul "Fracture From Within". Unit tersebut bertugas membuat analisis berwawasan ke depan yang menantang asumsi umum serta mengidentifikasi groupthink atau titik buta dalam komunitas intelijen AS.

Laporan itu menyoroti sejumlah tekanan yang dinilai dapat memicu gejolak menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober. Faktor tersebut mencakup krisis ekonomi dan meningkatnya belanja militer, kembalinya para veteran perang dengan senjata serta trauma psikologis, hingga kemarahan publik atas pengecualian wajib militer bagi pria ultra-Ortodoks.

CIA juga menyoroti meningkatnya kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki. Pada saat yang sama, upaya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaan disebut berpotensi memperburuk krisis konstitusional di dalam negeri.

Menurut sumber tersebut, penilaian Red Cell secara khusus berfokus pada masyarakat Yahudi di Israel dan tidak memasukkan warga Arab Israel, yang mencakup sekitar 20% populasi negara tersebut. Hal ini menjadi salah satu keterbatasan dalam cakupan analisis yang dilaporkan.

Kondisi tersebut dinilai semakin rentan karena konflik berkepanjangan telah menambah tekanan terhadap masyarakat dan institusi Israel. Kombinasi antara beban perang, persoalan ekonomi, ketegangan soal wajib militer, serta perseteruan politik disebut dapat memperlebar keretakan internal.

CIA tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait laporan tersebut. Namun, peringatan dalam dokumen "Fracture From Within" menunjukkan bahwa salah satu sekutu terdekat AS kini dinilai menghadapi risiko ketidakstabilan domestik yang serius.

(tfa/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Perang Saudara Pecah, Koneksi Internet di wilayah Ini Diputus


Most Popular
Features