CLOSE AD
MARKET DATA

Kejayaan Karet RI Nyaris Hilang-Petani Sebut Jadi Anak Tiri, Ada Apa?

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
06 October 2026 17:45
Petani Karet. (Dok. Kementerian PUPR via Detikcom)
Foto: Petani Karet. (Dok. Kementerian PUPR via Detikcom)

Jakarta, CNBC Indonesia - Karet pernah menjadi salah satu mesin devisa Indonesia. Data Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat ekspor karet Indonesia pada 2011 mencapai 2,38 juta ton dengan nilai US$11,14 miliar.

Bahkan pada 2019, Kementan menyebut karet sebagai penghasil devisa kedua setelah kelapa sawit, dengan volume ekspor 2,99 juta ton dan nilai mencapai US$5,10 miliar.

Namun, kondisi karet Indonesia kini jauh berbeda. Produksi terus merosot, ekspor melemah, pabrik pengolahan berguguran, dan petani mulai beralih ke komoditas lain.

Berdasarkan data Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo), produksi karet nasional tercatat turun dari 3,68 juta ton pada 2017 menjadi sekitar 2,1 juta ton pada 2025.

Tak hanya produksi, kinerja ekspor juga tertekan. Apkarindo mencatat volume ekspor karet alam Indonesia pada Januari-Juli 2026 hanya mencapai 85,4% dari periode yang sama pada 2025. Dari sisi nilai, ekspor pada periode tersebut hanya mencapai 87,5% dibandingkan Januari-Juli 2025.

Kemerosotan produksi tersebut ikut menghantam industri pengolahan karet. Dari 157 unit pengolahan crumb rubber yang tercatat per 30 September 2026, sebanyak 60 unit telah berhenti beroperasi, terdiri dari 52 unit berhenti permanen dan 8 unit berhenti sementara. Hanya 97 unit yang masih beroperasi.

Di tengah kondisi tersebut, persoalan karet tidak lagi hanya mengenai harga. Petani juga menghadapi tanaman yang sudah tua dan tidak produktif.

Ketua DPW Apkarindo Sumatra Selatan, Supartijo, mengatakan hanya sebagian kecil perkebunan yang saat ini masih memiliki produktivitas tinggi.

"Dari luas yang ada itu, tinggal paling 300-400 ribu hektare saja yang produktivitasnya masih tinggi. Yang lain sudah tua, lemas, nggak punya tenaga, nggak pernah makan enak, nggak pernah dipupuk, karena harganya sangat rendah dan tidak mampu untuk menghidupi keluarga," kata Supartijo dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IV DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Menurut dia, kondisi tanaman yang sudah tua membuat kenaikan harga karet tidak otomatis memperbaiki kesejahteraan petani.

"Sekarang harganya sudah naik, tapi karetnya sudah tua, sadapnya sudah sadap atas (overtapping), dan hasilnya sangat rendah. Oleh karena itu, banyak sekarang terjadi mutasi dari komoditi karet, banyak petani kami pindah nanam sawit," ujarnya.

Peralihan itu bahkan membuat tanaman karet ditebang untuk kemudian diganti dengan sawit.

"Kayu karetnya dijual cepat dapat duit, kemudian ditanamlah sawit, karena sawit jadi 'anak emas'. Sedangkan karet jadi 'anak tiri'," ucap dia.

Dampaknya turut dirasakan industri pengolahan. Pasokan bahan baku yang semakin terbatas membuat sejumlah pabrik tidak bisa beroperasi secara penuh.

"Ada pabrik di Sumatra Selatan dari 30 tinggal 19, itu pun idle capacity (tidak beroperasi penuh), karena nggak ada barangnya," tutur Supartijo.

Kondisi tersebut juga membuat tenaga kerja di sektor karet semakin berkurang.

"Penyadap karet yang buruh juga sudah tidak mau kerja, karena tidak dapat Rp100.000 sehari, hanya Rp50.000-Rp60.000 sehari," katanya.

Karet Bisa Tinggal Nama

Supartijo menilai kondisi tersebut membutuhkan intervensi pemerintah, agar komoditas karet tidak terus kehilangan basis produksinya.

Salah satu yang didorong adalah pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Karet. Ia menuturkan, lembaga tersebut diharapkan dapat mendukung peremajaan dan rehabilitasi kebun, pengembangan sumber daya manusia, riset, hingga pengembangan industri hilir.

Petani karet, katanya, juga meminta dukungan pemerintah untuk menjaga tanaman karet tetap produktif.

"Kami berharap dari Bapak-bapak anggota DPR yang terhormat dan pemerintah, untuk memberikan keberpihakan yang adil dan bijaksana. Kalau tanaman pangan dapat alat panen, alat cetak sawah, kami karet dibantu sebagian saja pada saat masa tanam itu sudah cukup," kata Supartijo.

Sebab, tanpa langkah penyelamatan, petani memperkirakan karet Indonesia bisa benar-benar kehilangan masa depannya.

"Kalau dibiarkan 10 tahun lagi, tinggal nama ini karet. Semua tutup. Tiap hari karet ditebangi, kayunya dijual, diganti sawit," pungkasnya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Tangis Petani Nyalakan Alarm Bahaya, 10 Tahun Lagi Karet RI Punah


Most Popular
Features