Bank Dunia Ungkap 3 Negara Asia Ini Berburu Pekerja AI
Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang masih mulai mengubah kebutuhan tenaga kerja di Asia. Perusahaan semakin mencari pekerja yang tidak hanya memiliki kemampuan digital, tetapi juga mampu menggunakan, mengembangkan, dan mengintegrasikan teknologi AI ke dalam pekerjaan.
Laporan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik Bank Dunia (World Bank) edisi Oktober 2026, menunjukkan permintaan lowongan kerja untuk keterampilan digital tingkat lanjut sangat tinggi, terutama di negara-negara berpendapatan tinggi Asia.
Jepang mencatat proporsi kebutuhan keterampilan digital tingkat lanjut sebesar 36%, sementara Korea Selatan dan Singapura masing-masing mencapai 28%.
Tingginya permintaan tersebut di Korea Selatan berkaitan erat dengan sektor manufaktur semikonduktor dan teknologi yang membutuhkan kemampuan digital tingkat lanjut.
Korea Selatan menjadi salah satu pasar tenaga kerja yang membutuhkan keterampilan AI dan digital tingkat lanjut. Struktur ekonominya yang kuat di sektor semikonduktor dan teknologi membuat kebutuhan tenaga kerja tidak hanya berkaitan dengan penggunaan AI, tetapi juga kemampuan teknis untuk mengembangkan dan mengintegrasikan teknologi tersebut.
Permintaan tersebut mencakup kemampuan analitis, pemrograman, pengembangan sistem AI, hingga keterampilan yang mendukung riset dan pengembangan teknologi.
Posisi Korea Selatan dalam rantai nilai AI juga membuat keterampilan penelitian akademis dan kemampuan memberikan nasihat ahli menjadi semakin penting.
Sementara di Jepang, kebutuhan tersebut lebih banyak terkait aktivitas berbasis platform dan jasa, termasuk desain semikonduktor, cloud computing, manajemen platform, serta teknologi finansial.
Kebutuhan keterampilan digital tingkat lanjut di Jepang lebih banyak berkaitan dengan aktivitas berbasis platform dan layanan. Perusahaan membutuhkan kemampuan di bidang desain semikonduktor, komputasi awan, pengelolaan platform, dan teknologi finansial.
Artinya, kebutuhan tenaga AI di Jepang tidak hanya berada di perusahaan teknologi. AI juga semakin relevan bagi sektor jasa, keuangan, manajemen, dan berbagai pekerjaan profesional yang membutuhkan kemampuan mengolah informasi dan mengambil keputusan berbasis data.
Permintaan terhadap keterampilan yang berkaitan langsung dengan AI juga semakin terlihat dalam proses rekrutmen.
"China menunjukkan perkembangan yang berbeda dengan munculnya permintaan yang semakin jelas terhadap keterampilan Generative AI (GenAI). Data dari 72 juta iklan lowongan kerja yang dipasang pada platform rekrutmen online China selama 2015-2025, menunjukkan bahwa perusahaan mulai secara eksplisit mencantumkan keterampilan GenAI dalam kebutuhan tenaga kerja," ungkap Bank Dunia.
Pada akhir 2025, sebanyak 21% perusahaan yang terdaftar di bursa saham telah memasang lowongan yang membutuhkan keterampilan GenAI. Sebaliknya, proporsinya hanya 0,2% pada perusahaan yang tidak terdaftar di bursa saham. Permintaan tertinggi di antara perusahaan terbuka berasal dari sektor jasa pasar, yakni mencapai 35%, disusul jasa non-pasar dan manufaktur.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa adopsi AI di China masih sangat dipengaruhi oleh ukuran perusahaan, kesiapan digital, tingkat kemajuan teknologi, dan produktivitas. Perusahaan yang lebih besar dan lebih maju secara digital cenderung lebih cepat memasukkan keterampilan GenAI ke dalam kebutuhan rekrutmen.
Keterampilan AI tidak hanya mencakup kemampuan membangun sistem AI, tetapi juga kompetensi untuk menggunakan berbagai alat AI dalam menjalankan tugas pekerjaan. Bahkan di China kemampuan dalam implementasi AI sangat dicari.
"Di negara maju Asia Timur dan Pasifik, perusahaan lebih banyak mencari kemampuan yang berkaitan dengan AI prediktif, desain dan pengembangan sistem AI, serta computer vision. Keterampilan AI juga mulai muncul dalam lowongan untuk posisi manajemen, keuangan, dan layanan profesional," mengutip laporan Bank Dunia pada Selasa (6/10/2026).
Bank Dunia mengungkapkan bahwa perusahaan pengguna AI tidak hanya mencari kualifikasi atau kredensial teknis, mereka menginginkan serangkaian kompetensi yang saling melengkapi.
"Seiring teknologi digital mengotomatiskan tugas-tugas rutin, pemberi kerja semakin mencermati serangkaian keterampilan teknis, digital, dan transversal (baik analitis maupun sosio-emosional) yang saling melengkapi yang dibutuhkan untuk tugas-tugas kognitif dan interpersonal yang tidak rutin."
Di semua negara, keterampilan analitis seperti kompetensi matematika, berpikir kritis dan kreatif, serta pemecahan masalah, dan keterampilan sosial seperti komunikasi dan kolaborasi 4 hingga 16 kali lebih mungkin muncul dalam lowongan pekerjaan AI daripada lowongan pekerjaan rata-rata, sehingga menjadikannya permintaan keterampilan yang terkait dengan AI.
Keterampilan seperti pemecahan masalah, berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi tidak hanya dibutuhkan secara khusus untuk pekerjaan AI, tetapi juga banyak dicari di pasar tenaga kerja.
Kemudian di negara-negara maju, seperti Korea Selatan, keterampilan terkait AI menekankan kemampuan untuk melakukan penelitian akademis dan memberikan nasihat ahli.
Sementara itu, di negara-negara berkembang Asia Tenggara, pemberi kerja menekankan keterampilan terkait AI untuk berinteraksi dengan pemangku kepentingan seperti klien dan anggota tim.
(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]