Perang Iran Panas Lagi, AS Kirim 3.000 Pasukan & Jet Tempur ke Israel
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dilaporkan bersiap mengerahkan tambahan pasukan dan jet tempur ke Israel dalam beberapa pekan mendatang. Langkah ini dilakukan di tengah kekhawatiran meningkatnya eskalasi militer di Timur Tengah.
Mengutip media Israel Walla, sekitar 3.000 personel AS saat ini telah berada di berbagai wilayah Israel. Mereka bertugas mengoperasikan sistem pertahanan udara, mendukung operasi penerbangan, menangani logistik, serta menjadi penghubung langsung di markas militer.
Meski rotasi pasukan rutin tetap berlangsung, pejabat pertahanan mengatakan personel tambahan dan pesawat tempur baru akan segera tiba untuk memperkuat kemampuan militer AS yang sudah ada. Pengerahan tersebut dikoordinasikan dengan Komando Pusat AS (CENTCOM) dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Seorang pejabat senior keamanan Israel mengatakan kepada Walla bahwa berbagai pihak di kawasan tengah memantau perkembangan politik di Israel dan AS. Mereka juga mencari cara untuk mengubah keseimbangan regional tanpa memicu perang terbuka.
"Mereka memahami bahwa respons Israel kali ini akan sangat agresif," ujarnya, seperti dikutip TRTWorld, Senin (5/10/2026).
Perencanaan operasional AS-Israel saat ini berfokus pada kemungkinan serangan balasan dan sasaran di wilayah Iran apabila Teheran kembali meluncurkan rudal balistik. Peningkatan kesiagaan itu berlangsung ketika Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kembali menegaskan bahwa negaranya masih terbuka terhadap penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Pada akhir September, Iran disebut menyampaikan tujuh syarat melalui mediasi Qatar untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, tuntutan tersebut ditolak oleh Presiden AS Donald Trump.
Di sisi lain, pejabat keamanan Israel menilai konflik melawan kelompok Houthi di Yaman berpotensi mengubah pola kemitraan keamanan di kawasan Teluk. Mereka menyoroti meningkatnya kerja sama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) serta memperingatkan bahwa negara-negara regional yang tidak menghadapi Houthi secara langsung dapat menghadapi serangan lanjutan secara sendiri.
Situasi di Yaman juga kembali memanas setelah Houthi mencatat kemajuan di Provinsi Al Hudaydah dan Taiz, termasuk merebut Mokha serta posisi strategis di Pulau Mayun yang mengawasi Selat Bab al-Mandab. Perkembangan ini menambah kekhawatiran bahwa konflik regional dapat semakin meluas.