MARKET DATA

Ini Kabar Terbaru Proyek Skytrain Gantung Rute Mekarsari-Cileungsi

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
02 October 2026 21:10
Kereta gantung. (Instagram/unitsky_nusantara)
Foto: Kereta gantung. (Instagram/unitsky_nusantara)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tengah mengkaji penggunaan moda kereta gantung bermesin atau Skytrain sebagai salah satu alternatif transportasi perkotaan. Moda ini dipertimbangkan untuk mendukung konektivitas sebagai feeder bagi transportasi massal seperti LRT maupun MRT.

Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda (Intram) Kemenhub Risal Wasal menjelaskan Skytrain yang sedang dikaji berbeda dengan kereta gantung yang umumnya digunakan sebagai wahana wisata. Moda tersebut menggunakan mesin seperti kereta api sehingga dapat beroperasi sebagai angkutan umum.

"Ada yang sedang diteliti lagi yang namanya Skytrain Suspended Train. Ini kereta gantung, tapi bermesin keretanya. Bukan seperti yang di Ancol, Taman Mini, itu ditarik. Kalau ini kerjanya bermesin," ujarnya dalam Lokakarya Forum Wartawan Perhubungan, Jumat (2/10/2026).

Salah satu pertimbangan dalam mengkaji moda tersebut adalah kebutuhan transportasi perkotaan yang memiliki biaya pembangunan dan operasional lebih terjangkau. Kemenhub juga mempertimbangkan persoalan masa konsesi serta biaya operasi yang harus ditanggung setelah masa pembangunan.

Kereta gantung. (Instagram/unitsky_nusantara)Kereta gantung. (Instagram/unitsky_nusantara) Foto: Kereta gantung. (Instagram/unitsky_nusantara)

"Biaya pembangunannya itu hanya Rp320 miliar per kilo, itu sudah sarana, prasarana, sistem," katanya.

Sebagai contoh, Kemenhub tengah mengkaji penggunaan moda tersebut sebagai feeder LRT atau MRT untuk melayani wilayah perkotaan. Salah satu contoh yang disebut adalah konektivitas dari kawasan Mekarsari menuju Cileungsi. Dalam skema yang dikaji, Skytrain tersebut dapat beroperasi dengan headway sekitar lima hingga tujuh menit. Kapasitas angkutnya diperkirakan mencapai sekitar 200 penumpang untuk setiap rangkaian kereta.

"Contohnya, untuk kereta seperti ini yang kita siapkan untuk feeder LRT atau feeder MRT dari Mekarsari sampai Cileungsi itu, dengan headway 5 menit sampai 7 menit, dengan kapasitas 200 per kereta," ujarnya.

Dari sisi operasional, hasil studi yang dipaparkan Kemenhub juga memperkirakan kebutuhan biaya sekitar Rp32 miliar per tahun untuk contoh layanan dengan headway tujuh menit.

"Headway 7 menit itu, biaya operasionalnya per tahun hanya Rp32 miliar, hasil studi ya," kata dia.

Sementara untuk pembangunan, Kemenhub menyebut moda tersebut secara hitungan awal dapat dibangun dalam waktu sekitar satu tahun. Namun, seluruh angka tersebut masih merupakan bagian dari kajian dan belum menjadi keputusan final penerapan moda.

Selain biaya, aspek keselamatan dan standar teknis juga menjadi pertimbangan. Kemenhub menyatakan moda yang dikaji harus mengikuti standar yang ditetapkan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA).

"Yang kami pilih mengikuti standar yang disiapkan oleh DJKA," ujarnya.

Ia mengatakan teknologi Skytrain yang menjadi bahan kajian juga bukan teknologi yang sepenuhnya baru. Moda serupa disebut telah beroperasi di sejumlah negara sehingga menjadi salah satu pertimbangan dalam kajian Kemenhub.

"Proven itu dibuktikan sudah teruji dan beroperasi di 5 negara. Gampangnya itu, sudah beroperasi di 5 negara," katanya.

(fys/wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pagu Anggaran Kemenhub Rp32,9 T, Direktorat Laut Dapat Porsi Terbanyak


Most Popular
Features