MARKET DATA

RI Bakal Belajar dari Norwegia untuk Kembangkan PLTA

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
02 October 2026 20:10
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata berkapasitas 1.000 MW yang berada di Kabupaten Purwakarta dan Bandung Barat, Jawa Barat sebagai salah satu pembangkit EBT yang terdaftar dalam sistem pelacakan elektronik dari APX TIGRs dan diakui secara in
Foto: Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata berkapasitas 1.000 MW yang berada di Kabupaten Purwakarta dan Bandung Barat, Jawa Barat sebagai salah satu pembangkit EBT yang terdaftar dalam sistem pelacakan elektronik dari APX TIGRs dan diakui secara internasional untuk mengeluarkan Renewable Energy Certificate (REC). (Dok PT PLN Persero)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa Indonesia berencana untuk mengadopsi teknologi dari Norwegia dalam mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Tanah Air. Hal itu mempertimbangkan Norwegia merupakan negara yang listriknya didominasi dari tenaga air.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa Norwegia merupakan salah satu negara yang sangat maju dalam pengelolaan Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya di sektor pemanfaatan air. Hal tersebut terbukti dari porsi pasokan listrik negara tersebut yang hampir seluruhnya bersumber dari PLTA.

"Seperti Norwegia, mereka ini ketersediaan listriknya 90% itu berasal dari PLTA. Ya sementara kan kita memiliki cukup banyak juga ini potensi sungai-sungai besar, tapi belum bisa kita manfaatkan secara maksimal," ungkap Yuliot saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Yuliot menjelaskan bahwa Indonesia membuka peluang kerja sama teknologi serta mengharapkan adanya asistensi dari Norwegia. Lewat pertukaran teknologi dan pengetahuan tersebut, Indonesia berupaya menerapkan skema pengembangan PLTA yang adaptif sesuai dengan potensi hidrologi nasional.

"Jadi dengan teknologi Norwegia, ini kita harapkan ini asistensi dari mereka juga, apa yang kita miliki dan juga apa pengalaman mereka mengembangkan PLTA di wilayah mereka itu justru bisa kita adopsi," kata Yuliot.

Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional serta mendorong porsi EBT dalam bauran energi nasional melalui kolaborasi internasional.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, kapasitas terpasang PLTA hingga akhir 2025 tercatat mencapai 7.587,4 Mega Watt (MW).

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, Indonesia akan membangun tambahan pembangkit listrik baru sebesar 69,5 Giga Watt (GW).

Adapun dari total kapasitas tersebut, 76% berasal dari EBT atau sekitar 42,6 GW akan berasal dari pembangkit EBT dan 15% atau sekitar 10,3 GW dari sistem penyimpanan energi (storage).

Berdasarkan bahan paparan Kementerian ESDM, dari total rencana penambahan sebesar 69,5 GW, sekitar 42,6 GW akan berasal dari pembangkit EBT, 10,3 GW dari sistem penyimpanan energi (storage), sedangkan 16,6 GW dari pembangkit berbasis energi fosil.

Adapun rinciannya untuk kapasitas pembangkit EBT adalah sebagai berikut: Surya (PLTS) 17,1 GW, Air (PLTA) 11,7 GW, Angin (PLTB) 7,2 GW, Panas Bumi (PLTP) 5,2 GW, Bioenergi 0,9 GW, dan Nuklir (PLTN) 0,5 GW.

Sementara itu, untuk kapasitas sistem penyimpanan energi mencakup PLTA pumped storage sebesar 4,3 GW dan baterai 6,0 GW. Kemudian, untuk pembangkit fosil masih akan dibangun sebesar 16,6 GW, terdiri dari gas 10,3 GW dan batu bara 6,3 GW.

(wia) [Gambas:Video CNBC]
Next Article RI Bakal Gaet Perusahaan AS untuk Garap Hidrogen


Most Popular
Features