MARKET DATA

Prabowo Reshuffle Kabinet 7 Kali, Pengusaha Ungkap Nasib RI Tahun 2027

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
02 October 2026 20:20
Suasana area mal STC Senayan, Jakarta Kamis (27/8/26) siang. (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
Foto: Suasana area mal STC Senayan, Jakarta Kamis (27/8/26) siang. (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia usaha melihat masih ada ruang bagi bisnis di Indonesia untuk mempertahankan momentum pertumbuhan hingga akhir 2026 dan memasuki 2027, meski Presiden Prabowo Subianto baru saja melakukan perombakan kabinet.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, dunia usaha masih melihat prospek pertumbuhan, tetapi pelaku usaha tetap berhati-hati memasuki 2027.

"Kami melihat masih terdapat ruang bagi dunia usaha untuk mempertahankan momentum pertumbuhan hingga akhir 2026 dan memasuki 2027, tetapi terdapat sejumlah risiko yang perlu terus diantisipasi," kata Shinta kepada CNBC Indonesia, Jumat (2/10/2026).

Menurut Shinta, berdasarkan hasil survei Mid-Year Business Outlook APINDO 2026, persepsi dunia usaha terhadap pertumbuhan ekonomi nasional 2026 masih relatif berhati-hati.

Sementara untuk kondisi usaha pada 2027, ekspektasi mulai membaik meski belum dominan. Sebanyak 37,1% perusahaan memperkirakan kondisi usaha pada 2027 akan lebih baik dibandingkan 2026.

Kemudian, 42,2% perusahaan memperkirakan kondisi bisnis relatif sama dengan 2026. Sedangkan 20,7% lainnya memperkirakan kondisi usaha pada 2027 justru lebih buruk.

"Jika merujuk hasil survei, persepsi dunia usaha terhadap pertumbuhan ekonomi nasional 2026 masih relatif berhati-hati. Kondisi dunia usaha 2027, ekspektasi memang mulai membaik, tetapi belum dominan. 37,1% perusahaan memperkirakan kondisi usaha 2027 akan lebih baik dibandingkan 2026, 42,2% memperkirakan relatif sama, dan 20,7% memperkirakan lebih buruk," ujarnya.

Sebagai catatan, reshuffle yang dilakukan pada hari Kamis (1/10/2026) kemarin adalah kali ketujuh perombahan kabinet oleh Presiden Prabowo. Reshuffle pertama digelar pada 19 Februari 2025.

Reshuffle yang kemudian mendapat perhatian besar adalah ketika Prabowo mengganti Menteri Keuangan (Menkeu).

Pada reshuffle kedua, 8 September 2025, Prabowo mencopot Sri Mulyani dari jabatannya sebagai Menkeu, dan mengangkat Purbaya Yudhi Sadewa.

Lalu setahun kemudian, pada reshuffle keenam, 1 Oktober 2026, Prabowo mencopot Purbaya dan melantik Suahasil Nazara sebagai Menkeu baru di sisa masa jabatan pemerintahan periode tahun 2024-2029.

Lantas, bagaimana peluang ekonomi Indonesia usai perombakan kabinet tersebut?

Ekonomi Masih Tumbuh

Shinta mengatakan, sejumlah indikator menunjukkan aktivitas ekonomi Indonesia masih memiliki momentum.

Ekonomi Indonesia pada semester I-2026 tercatat tumbuh 5,45%. Selain itu, aktivitas manufaktur pada September 2026 kembali berada di zona ekspansi dengan Purchasing Managers' Index (PMI) sebesar 52,4.

"Dari sisi domestik, ekonomi Indonesia pada Semester I-2026 memang masih tumbuh 5,45%, sementara aktivitas manufaktur pada September juga kembali berada di zona ekspansi dengan PMI sebesar 52,4. Hal ini memberikan indikasi bahwa aktivitas ekonomi masih memiliki momentum," jelas dia.

Namun, dunia usaha masih harus menghadapi sejumlah risiko, baik yang berasal dari kondisi global maupun domestik.

Menurut Shinta, ketidakpastian global, dinamika geopolitik, kondisi suku bunga global, volatilitas nilai tukar dan harga energi masih menjadi tantangan bagi pelaku usaha.

Di dalam negeri, pemerintah juga masih perlu memperkuat daya beli, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan daya saing industri.

Pesan Pengusaha Usai Reshuffle

Shinta menilai, kondisi dunia usaha ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah menerjemahkan agenda kebijakan menjadi implementasi yang konsisten.

Karena itu, pergantian sejumlah pejabat dalam reshuffle kabinet tidak diharapkan mengganggu kebijakan ekonomi yang sudah berjalan.

"Karena itu, bagi dunia usaha, faktor yang paling menentukan memasuki 2027 adalah seberapa cepat pemerintah dapat menerjemahkan agenda kebijakan menjadi implementasi yang konsisten dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha," tutur Shinta.

Dia menambahkan, stabilitas makroekonomi perlu berjalan beriringan dengan penguatan sektor riil, perbaikan iklim investasi dan peningkatan daya saing industri.

"Jika stabilitas makroekonomi dapat terus dijaga bersamaan dengan penguatan sektor riil, perbaikan iklim investasi, dan peningkatan daya saing industri, maka ruang untuk investasi dan ekspansi usaha akan tetap terbuka," ujarnya.

Menurut Shinta, kepastian menjadi faktor penting bagi dunia usaha karena keputusan investasi maupun ekspansi dilakukan untuk jangka menengah hingga panjang.

"Pada akhirnya, dunia usaha membutuhkan satu hal yang sangat mendasar: policy certainty dan execution certainty. Pergantian pejabat tidak seharusnya menghentikan momentum," ucap Shinta.

"Yang kami harapkan justru kesinambungan program yang baik, percepatan penyelesaian berbagai bottleneck, serta koordinasi pemerintah yang semakin efektif dalam mendukung investasi, industrialisasi, dan penciptaan lapangan kerja," pungkasnya.

Prosesi Pelantikan Menteri dan Wakil Menteri Kabinet Merah Putih sisa masa jabatan periode tahun 2024-2029 serta anggota Ombusdsman RI di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Prosesi Pelantikan Menteri dan Wakil Menteri Kabinet Merah Putih sisa masa jabatan periode tahun 2024-2029 serta anggota Ombusdsman RI di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Prosesi Pelantikan Menteri dan Wakil Menteri Kabinet Merah Putih sisa masa jabatan periode tahun 2024-2029 serta anggota Ombusdsman RI di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Reshuffle Kabinet! Ini Daftar Menteri & Wamen yang Dilantik Prabowo


Most Popular
Features