MARKET DATA
Internasional

Inggris Mulai Berubah Pikiran, Pertimbangkan Gabung Uni Eropa Lagi

sef,  CNBC Indonesia
02 October 2026 17:40
Bendera Inggris. (Dok. Pixabay)
Foto: Bendera Inggris. (Dok. Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Inggris mulai membuka kembali wacana untuk mempererat hubungannya dengan Uni Eropa. Ini terjadi satu dekade setelah rakyat Inggris memilih keluar dari blok tersebut melalui referendum Brexit.

Perdana Menteri (PM) Inggris Andy Burnham mengatakan referendum baru mengenai keanggotaan Uni Eropa bisa saja masuk dalam manifesto pemilu mendatang. Namun, ia menegaskan bahwa referendum untuk kembali bergabung dengan Uni Eropa bukan pilihan yang tepat untuk saat ini.

Pernyataan tersebut kembali membuka perdebatan mengenai masa depan hubungan Inggris dengan Uni Eropa, yang merupakan salah satu isu politik paling kontroversial dalam satu dekade terakhir.

"Ya, segala sesuatu mungkin," ujar Burnham ketika ditanya apakah referendum mengenai keanggotaan kembali Inggris di Uni Eropa dapat dimasukkan dalam manifesto pemilu mendatang, dimuat CNBC International, Jumat (2/10/2026).

Burnham mengatakan pemerintah Inggris perlu mengevaluasi berbagai pilihan hubungan dengan Uni Eropa. Pilihan tersebut mulai dari mempertahankan hubungan saat ini, bergabung dalam serikat pabean, masuk kembali ke pasar tunggal, hingga kembali menjadi anggota penuh Uni Eropa.

Ia juga mengatakan kondisi hubungan Inggris dengan Uni Eropa saat ini "belum cukup baik".

Wacana tersebut muncul menjelang peringatan 10 tahun referendum Brexit. Pada 23 Juni 2016, sebanyak 52% pemilih Inggris memilih meninggalkan Uni Eropa, sementara 48% memilih tetap bertahan.

Inggris secara resmi meninggalkan Uni Eropa pada Januari 2020 setelah melalui proses negosiasi selama beberapa tahun. Sejak saat itu, hubungan perdagangan Inggris dengan blok tersebut berubah.

Meski Inggris berupaya memperluas perdagangan dengan negara-negara di luar Eropa, Uni Eropa tetap menjadi mitra dagang utama. Data pemerintah Inggris menunjukkan pada Juli 2026, Uni Eropa menyumbang sekitar 45% dari total nilai ekspor barang Inggris dan sekitar 45% dari total impornya.

Ekonom James Smith dari ING mengatakan bahwa pernyataan Burnham secara politik signifikan, tetapi manfaat ekonomi yang konkret akan bergantung pada perubahan nyata dalam hubungan perdagangan Inggris dengan Uni Eropa.

Menurutnya, meskipun terdapat pandangan bahwa Brexit tidak berjalan sesuai harapan, belum jelas apakah mayoritas masyarakat Inggris mendukung keputusan untuk kembali bergabung dengan Uni Eropa.

Steve Nolan, dosen senior ekonomi di Liverpool John Moores University, mengatakan sejumlah perkiraan menunjukkan ekonomi Inggris dapat berukuran 5%-8% lebih kecil dibandingkan skenario jika Inggris tidak memilih Brexit. Menurutnya, pengurangan hambatan perdagangan dengan Uni Eropa berpotensi memberikan manfaat ekonomi.

Namun, proses untuk kembali mendekat dengan blok tersebut juga akan menghadapi berbagai tantangan. Jika Inggris benar-benar mengajukan kembali keanggotaan Uni Eropa, negara tersebut kemungkinan harus menghadapi proses negosiasi baru serta berbagai persyaratan yang berlaku bagi anggota blok.

Sementara itu, pemerintah Burnham sebelumnya memang telah mendorong hubungan yang lebih dekat dengan Eropa. Pada Juli 2026, Burnham berbicara dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan sepakat mendorong kerja sama menuju pertemuan tingkat tinggi Inggris-Uni Eropa.

Pemerintah Inggris menyebut hubungan yang lebih dekat dan ambisius dengan Eropa penting bagi Inggris maupun Eropa. Meski demikian, wacana kembali menjadi anggota Uni Eropa masih jauh dari keputusan politik.

Burnham sendiri mengatakan referendum tersebut bukan pilihan yang tepat untuk saat ini.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Geger, Desa Inggris Umumkan Mau Merdeka


Most Popular
Features