MARKET DATA

Wamenkeu Juda Beberkan Jurus APBN 2027, Defisit Dijaga 2,4%

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
01 October 2026 21:20
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung dalam Konferensi Pers APBN Kita di Jakarta pada Rabu (11/03/2026). (Dok. Kemenkeu/Biro KLI/Zalfa Dhiaulaq)
Foto: Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung dalam Konferensi Pers APBN Kita di Jakarta pada Rabu (11/03/2026). (Dok. Kemenkeu/Biro KLI/Zalfa Dhiaulaq)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung memaparkan arah kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 yang dirancang tetap ekspansif namun terukur untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Dalam Media Gathering Kementerian Keuangan 2026 di Bogor, Kamis (1/10/2026), Juda mengatakan APBN 2027 mengusung tema "Tumbuh Lebih Tinggi, Sejahtera Lebih Cepat" dengan tiga fungsi utama, yakni mendorong pertumbuhan ekonomi, melindungi masyarakat, dan mempercepat transformasi ekonomi.

"APBN 2027 mengusung tema 'Tumbuh Lebih Tinggi, Sejahtera Lebih Cepat'. Ini akan didorong oleh APBN sebagai salah satu sumber pertumbuhan, dengan tujuan supaya APBN bisa menumbuhkan (to grow), melindungi masyarakat yang kurang beruntung (to protect), dan melakukan transformasi ekonomi (to transform), tentu dalam koridor fiskal yang prudent," kata Juda.

Menurutnya, fungsi to grow berarti APBN harus mampu mendorong aktivitas ekonomi, investasi, serta mendukung berbagai agenda pembangunan prioritas pemerintah. Sementara fungsi to protect diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat, memperkuat perlindungan sosial, dan mendukung pemberdayaan ekonomi kelompok rentan.

Adapun fungsi to transform diwujudkan melalui penguatan fondasi pertumbuhan jangka panjang, termasuk investasi, hilirisasi, dan industrialisasi.

"To transform berarti APBN harus mampu memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang melalui investasi serta pengembangan hilirisasi dan industrialisasi," ujarnya.

Pajak hingga SIMBARA Jadi Andalan

Untuk menopang kebutuhan belanja negara, pemerintah menyiapkan berbagai strategi peningkatan penerimaan negara yang berkelanjutan.

Di sektor perpajakan, pemerintah akan memperluas basis pajak melalui pemanfaatan data dan teknologi, optimalisasi sistem Coretax, penguatan Compliance Risk Management Integrated Risk Engine, peningkatan pengawasan wajib pajak strategis dan berisiko tinggi, serta penegakan hukum perpajakan.

Sementara dari sisi kepabeanan dan cukai, pemerintah akan memperkuat pemberantasan barang kena cukai ilegal, mengoptimalkan tarif cukai hasil tembakau dan bea masuk komoditas tertentu, memperluas basis penerimaan bea keluar, serta memperkuat fasilitasi ekspor dan hilirisasi industri.

Untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), pemerintah mengandalkan optimalisasi penerimaan sumber daya alam (SDA) melalui perbaikan tata kelola dan penguatan Sistem Informasi Mineral dan Batubara Antar Kementerian/Lembaga (SIMBARA).

"Kita juga akan meningkatkan kualitas layanan PNBP melalui standardisasi, inovasi, digitalisasi dan penyederhanaan layanan, serta memastikan peningkatan kepatuhan melalui penguatan pengawasan dan penegakan hukum," kata Juda.

Defisit Tetap 2,4% PDB

Di sisi pembiayaan, pemerintah dan DPR telah menyepakati defisit APBN 2027 sebesar 2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Juda menegaskan strategi pembiayaan akan lebih banyak mengandalkan sumber domestik untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak pasar global.

"Strategi utamanya adalah tetap fokus dominan di pembiayaan dari domestik yang relatif tidak rentan terhadap gejolak global," ujarnya.

Ia mencontohkan porsi kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) kini hanya sekitar 13%-14%, jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 40% satu dekade lalu.

Menurut Juda, kondisi tersebut membuat pasar keuangan Indonesia lebih tahan terhadap tekanan eksternal, termasuk gejolak nilai tukar dan arus modal.

Selain mengandalkan pasar domestik, pemerintah juga akan mengoptimalkan peran Danantara, Special Mission Vehicle (SMV), Badan Layanan Umum (BLU), dan Sovereign Wealth Fund untuk mendukung pembiayaan pembangunan.

Pemerintah juga akan memanfaatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai bantalan fiskal guna menghadapi ketidakpastian global yang masih tinggi.

Juda menekankan pengelolaan fiskal yang disiplin tetap menjadi fondasi utama APBN 2027. Menurutnya, pengalaman berbagai negara menunjukkan defisit dan utang yang terlalu tinggi berpotensi meningkatkan biaya pinjaman dan mengganggu keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

"Kita sudah banyak belajar dari negara-negara yang utangnya banyak dan defisitnya tinggi. Pertumbuhannya tidak sustainable, yield mereka lebih tinggi, biaya utangnya lebih mahal. Jadi disiplin itu penting dalam pengelolaan fiskal, dan trust sangat dipengaruhi oleh kedisiplinan kita," tegasnya.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article RAPBN 2027 Bakal Disahkan Minggu Depan, Ini Bocorannya!


Most Popular
Features