MARKET DATA
Internasional

Trump Ultimatum Jerman dan Prancis, Eropa Terancam "Kiamat" Energi

tps,  CNBC Indonesia
01 October 2026 21:30
Presiden Donald Trump berbicara di upacara pemakaman Senator Lindsey Graham, R-S.C., di Katedral Nasional Washington, Selasa, 28 Juli 2026, di Washington. (Alex Brandon/Pool via REUTERS)
Foto: Presiden Donald Trump berbicara di upacara pemakaman Senator Lindsey Graham, R-S.C., di Katedral Nasional Washington, Selasa, 28 Juli 2026, di Washington. (via REUTERS/Alex Brandon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan ultimatum keras kepada Jerman dan Prancis untuk segera mencairkan cadangan diesel darurat mereka guna menekan harga bahan bakar global. Menurut penuturan tiga orang sumber yang mengetahui jalannya diskusi tersebut, Eropa dihadapkan pada ancaman nyata berupa larangan atau embargo ekspor diesel dari AS jika tuntutan ini diabaikan.

Mengutip Reuters, Kamis (1/10/2026), ancaman ini menandai eskalasi tekanan yang signifikan terhadap Eropa ketika Trump tengah mempertimbangkan larangan ekspor diesel demi menurunkan harga bahan bakar di dalam negerinya menjelang pemilihan paruh waktu pada bulan November mendatang.

Pemerintahan AS dilaporkan sangat frustrasi dengan Prancis dan Jerman yang dinilai tidak sepenuhnya menepati komitmen awal mereka untuk melepaskan stok minyak dan produk minyak bumi darurat.

"Adalah demi kepentingan terbaik Eropa untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat saat kami menempuh berbagai jalur untuk meningkatkan pasokan produk olahan dan menurunkan biaya bagi konsumen," papar salah satu sumber yang merupakan pejabat AS.

Sebuah sumber terpisah yang berbasis di salah satu ibu kota Eropa membeberkan bahwa AS telah secara spesifik meminta Uni Eropa (UE) untuk melepaskan 120 juta barel diesel dalam enam bulan ke depan. Sejalan dengan desakan tersebut, Menteri Energi AS Chris Wright pada hari Rabu menyatakan bahwa pemerintahannya memperkirakan akan segera ada pengumuman dari Eropa mengenai pasokan diesel baru.

"Kami telah kehilangan beberapa ekspor diesel dari Timur Tengah, meskipun kami sedang memulihkannya, dan kami telah kehilangan ekspor diesel dari China," ungkapnya.

"Jadi itu adalah banyak gangguan," pungkas Wright.

Hingga saat ini, kementerian ekonomi Jerman tidak segera menanggapi permintaan komentar, sementara kementerian energi Prancis menolak untuk memberikan pernyataan. Di sisi lain, seorang pejabat Istana Elysee mengklarifikasi bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Trump sama sekali tidak membahas masalah kritis ini saat mereka bertemu di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pekan lalu.

Meskipun demikian, pejabat tersebut memastikan bahwa Macron akan menggelar konferensi video dengan para pemimpin negara-negara G7 untuk mengatasi kenaikan harga bahan bakar dan ketersediaan global produk olahan. Langkah ini akan berfokus pada koordinasi pelepasan cadangan bersama dengan Badan Energi Internasional (IEA).

Rentetan krisis ini memosisikan Eropa di situasi yang sangat rentan, mengingat blok tersebut telah menjadi semakin bergantung pada bahan bakar AS usai memblokir impor minyak Rusia sebagai respons atas invasi ke Ukraina. Ketergantungan ini kemudian kian memburuk setelah meletusnya perang antara AS dan Israel melawan Iran yang memorak-porandakan rantai pasokan dari Timur Tengah.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bukan Timur Tengah, Trump Kuasai Cadangan Minyak Raksasa di Sini


Most Popular
Features