MARKET DATA
Internasional

Menteri Perang AS Siap Pecat 20% Jenderal dan Laksamana, Ada Apa?

tps,  CNBC Indonesia
01 October 2026 20:00
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth mendengarkan saat Presiden Donald Trump berbicara selama kunjungan bersama Pasukan Garda Nasional Udara Michigan pada tanggal 29 April 2025 di Pangkalan Garda Nasional Udara Selfridge, Michigan. (Photo by SCOTT OLS
Foto: Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth mendengarkan saat Presiden Donald Trump berbicara selama kunjungan bersama Pasukan Garda Nasional Udara Michigan pada tanggal 29 April 2025 di Pangkalan Garda Nasional Udara Selfridge, Michigan. (Getty Images via AFP/SCOTT OLSON)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth mengonfirmasi rencananya untuk memangkas 20% jenderal dan laksamana. Ia juga mendeklarasikan tidak akan menoleransi orang-orang aneh dan lemah di dalam barisan militer negaranya.

Mengutip The Guardian, Kamis (1/10/2026), Hegseth menyampaikan serangan luar biasa terbarunya terhadap keragaman dan menepis laporan mengenai rendahnya moral di angkatan bersenjata AS sebagai klaim palsu. Ia justru mengeklaim bahwa Pentagon berhasil mempertahankan personel layanan pada tingkat rekor.

Hegseth menunjuk pasukan di atas kapal induk USS Abraham Lincoln menyusul kekhawatiran atas kesehatan mental dan masalah pasokan selama pengerahan mereka yang memakan waktu hampir sembilan bulan. Menurutnya, sekitar 80% pasukan di kapal tersebut berhasil dipertahankan.

Berbicara kepada pasukan berpangkat lebih rendah di Pangkalan Korps Marinir di Quantico, Virginia, pada Rabu, Hegseth membanggakan kebijakan anti-keragaman di Pentagon yang didorong secara agresif oleh pemerintahan Donald Trump.

"Fokus satu-satunya, seperti yang Anda tahu, dalam formasi Anda haruslah pelatihan, kesiapan, akuntabilitas, disiplin, dan daya mematikan," papar Hegseth.

"Dan ketika Anda mengejar hal-hal itu, Anda tidak perlu merasa sungkan... para pengeluh, para ideolog, dan mereka yang berkinerja buruk tidak lagi memegang kendali," tegasnya.

"Tetapi ada baiknya dikatakan lagi, agar berita palsu memahaminya. Kami bukan lagi departemen 'woke' atau departemen yang lemah. Terjemahan sederhananya: tidak ada orang gemuk, tidak ada transgender, tidak ada orang berjanggut, tidak ada orang aneh, tidak ada orang lemah, tidak ada radikal. Hanya pejuang."

Hegseth menegaskan bahwa para jenderal yang berpegang teguh pada departemen 'woke', atau yang menganggap bahwa kendali sipil atas militer hanyalah sebuah saran, tidak lagi bekerja di institusi tersebut. Ia secara terbuka menyerang media, bersikeras bahwa ada berita utama yang tidak jujur tentang lama pengerahan, serta mencap laporan moral pasukan yang rendah sebagai propaganda terang-terangan yang ditulis oleh musuh.

Padahal pada kenyataannya, delapan personel angkatan laut AS yang ditugaskan ke Lincoln diketahui telah mencoba bunuh diri sejak awal pengerahan panjang mereka sebagai bagian dari perang AS di Iran. Kru Lincoln, yang berada di lautan selama 286 hari, baru turun pada 1 September lalu di kota resor Thailand.

Kru tersebut awalnya dijadwalkan untuk merampungkan pengerahan mereka pada bulan Mei, tetapi diperpanjang paksa di tengah berkecamuknya perang Iran di era Trump.

Selama pidatonya, menteri pertahanan itu juga mengumumkan beberapa inisiatif baru. Salah satunya adalah proyek khusus Pentagon yang akan menggandeng miliarder Elon Musk, sekutu Trump Palmer Luckey, serta mantan Ketua DPR AS Newt Gingrich untuk mempelajari masa depan peperangan. Perusahaan Luckey, Anduril Industries, yang merupakan raksasa teknologi pertahanan dilaporkan telah menerima miliaran dolar AS dalam kontrak pemerintah selama setahun terakhir.

Hegseth turut membidik universitas-universitas Ivy League dan kampus seni liberal dengan mencap institusi-institusi tersebut sebagai pabrik 'woke' pemuja keragaman (DEI). Pernyataan ini cukup ironis mengingat Hegseth sendiri merupakan lulusan Universitas Harvard dan Princeton yang tergabung dalam Ivy League.

Ke depan, Pentagon berencana untuk bermitra dengan institusi yang dikenal memiliki nilai konservatif dan kampus lainnya sebagai bagian dari jalur pendidikan mereka, seperti Liberty University, Hillsdale College, Louisiana State University, Mississippi University, dan Tuskegee University.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Wow! AS Wajibkan Tes Testosteron ke Tentara, Biar 'Kuat'


Most Popular
Features