Update Perang AS-Iran: Trump Ancam Ledakan Iran, Beri Waktu Mepet
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memberi tekanan keras kepada Iran di tengah upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Â Trump mengatakan Washington dalam waktu dekat harus menentukan apakah akan mencapai kesepakatan dengan Teheran atau mengambil tindakan militer lebih lanjut.
"Mungkin Anda menghancurkan mereka. Kami harus mengambil keputusan itu. Kami menghancurkan mereka, atau membuat kesepakatan," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu, dikutip Fox News, Kamis (1/10/2026).
Trump memperingatkan bahwa waktu untuk menentukan arah konflik tersebut semakin sempit. Pernyataan tersebut muncul ketika jalur diplomasi antara Washington dan Teheran masih berlangsung melalui Qatar di mana Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Selasa menerima respons terbaru AS.
"Tapi waktunya akan segera tiba. Ini akan segera berakhir, dengan satu cara atau cara lainnya," ujar Trump.
Iran Terima Respons AS
Sementara itu, Araqchi menerima tanggapan Washington terkait proposal yang dikenal sebagai "rencana tujuh hari". Seorang pejabat yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa perbedaan utama antara kedua pihak kini berkaitan dengan urutan pelaksanaan kesepakatan, bukan komponen utama rencana tersebut.
Proposal Iran tersebut mencakup langkah-langkah untuk membangun kembali kepercayaan antara kedua negara. Salah satu poin utamanya adalah pembukaan kembali Selat Hormuz dan pemulihan lalu lintas maritim apabila sejumlah persyaratan dipenuhi.
Iran sebelumnya mengajukan sejumlah tuntutan, termasuk pencabutan blokade terhadap pelabuhan Iran, penghentian permusuhan, pelonggaran sanksi terhadap minyak Iran, serta pembahasan kembali mengenai program nuklir.
Trump sebelumnya menyatakan menolak proposal Iran. Namun, Qatar terus menjalankan diplomasi bolak-balik untuk mencari titik temu antara Washington dan Teheran.
Selat Hormuz Jadi Kunci
Salah satu persoalan paling sensitif dalam negosiasi adalah Selat Hormuz. Perairan di antara Iran dan Oman ini menjadi jalur strategis bagi perdagangan energi global.
Iran menawarkan pembukaan kembali selat tersebut sebagai bagian dari rencana tujuh hari jika tuntutan utamanya dipenuhi. Menteri Luar Negeri Iran sebelumnya mengatakan lalu lintas maritim normal dapat dipulihkan dalam waktu tujuh hari apabila kondisi yang diminta Teheran disetujui Washington.
Aktivitas pelayaran di kawasan tersebut memang mulai meningkat, tetapi gangguan terhadap pengiriman minyak, produk olahan, dan gas masih menjadi perhatian pasar energi. Situasi tersebut membuat perkembangan negosiasi AS-Iran tidak hanya berdampak terhadap keamanan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasokan energi dan harga komoditas global.
AS Tarik Pasukan dari Irak
Di tengah perkembangan diplomasi tersebut, AS pada Rabu menyelesaikan penarikan pasukan terakhirnya dari Irak berdasarkan kesepakatan yang dibuat pada 2024.
Penarikan tersebut mengakhiri misi militer AS di Irak setelah lebih dari dua dekade sejak invasi 2003. Meski demikian, Washington masih mempertahankan bentuk kerja sama keamanan dengan Irak, termasuk dukungan intelijen dan pelatihan.
Penarikan pasukan AS juga menjadi perkembangan penting dalam hubungan Washington dengan kelompok-kelompok yang memiliki kedekatan dengan Iran di kawasan.
Sementara itu, Trump mengatakan konflik dengan Iran pada akhirnya akan berakhir. Namun, pernyataannya bahwa Washington mungkin harus memilih antara membuat kesepakatan atau mengambil tindakan militer menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih menghadapi tekanan.
Di sisi lain, mediator Qatar masih berupaya mempertemukan posisi kedua negara. Dengan respons AS yang sudah diterima Teheran, perhatian kini tertuju pada bagaimana Iran akan menanggapi usulan Washington dan apakah perbedaan mengenai urutan pelaksanaan dapat diselesaikan.
(tfa/sef) [Gambas:Video CNBC]