MARKET DATA
Internasional

Bukan Iran atau China, Trump Sebut Negara Ini Terburuk di Dunia

tps,  CNBC Indonesia
29 September 2026 12:35
Presiden AS Donald Trump menghadiri acara Shield of the Americas di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB (UNGA) ke-81 di New York City, AS, pada 22 September 2026. (REUTERS/Kylie Cooper)
Foto: REUTERS/Kylie Cooper

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump semakin mengintensifkan retorika tajamnya terhadap Kanada dengan menjuluki negara tetangganya itu sebagai salah satu negara terburuk di seluruh dunia di tengah perang dagang yang terus bereskalasi.

Mengutip Newsweek, Selasa (29/9/2026), ketegangan ini memuncak setelah bulan lalu Trump memberlakukan tarif 50 persen atas barang-barang Kanada senilai sekitar US$28 miliar (Rp498,4 triliun). Manuver agresif tersebut langsung dibalas secara setimpal oleh Perdana Menteri (PM) Kanada Mark Carney.

Berbicara kepada wartawan di Ruang Oval, Trump menuduh Kanada, yang notabene merupakan mitra dagang terbesar kedua AS setelah Meksiko, telah memperlakukan Washington dengan sangat tidak adil. Sang presiden menyoroti tarif curam pada produk pertanian AS dan mengeklaim para pemimpin Kanada merasa berhak atas segalanya.

"Mereka ingin membuat kesepakatan dengan kita," ucapnya.

"Mereka menelepon kita sepanjang waktu. Masalahnya, mereka telah memperlakukan Amerika Serikat dengan sangat tidak adil. Mereka telah menjadi salah satu negara terburuk di seluruh dunia. Kita bergaul dengan China, kita bergaul dengan orang-orang, kita membuat kesepakatan yang baik, tetapi Kanada benar-benar sangat sulit untuk diajak berurusan, sebenarnya, dan mereka membebankan tarif 400% dan lebih kepada petani kita. Mereka memanfaatkan kita. Mereka merasa berhak."

Klaim Trump tersebut merujuk pada rezim tarif produk susu Kanada, di mana impor di atas tingkat kuota tertentu dapat menghadapi tarif melebihi 200 persen.

Namun, Juru Bicara Komisi Susu Kanada Philippe Charlebois sebelumnya menegaskan bahwa sejauh ini tidak ada produk susu AS yang dikenakan tarif tinggi tersebut lantaran ekspor AS tetap berada dalam batas akses yang dinegosiasikan di bawah Perjanjian AS-Meksiko-Kanada (USMCA). 

Selain isu tarif, Trump juga berpendapat bahwa Kanada sangat bergantung pada ekonomi AS tanpa menawarkan banyak hal sebagai balasannya. Ia menyebut AS telah memberikan ragam dukungan, mulai dari kerja sama militer hingga kapal pemecah es. Trump bersikeras bahwa AS sama sekali tidak membutuhkan sumber daya Kanada.

"Kita akan memenangkan segalanya. Kita bahkan menjadikan Danau Ontario sekarang sebagai Danau Amerika. Kanada akan datang dan berkata, 'Tuan, kami sangat menyesal.' Saya pikir kesepakatan akan dibuat, tetapi itu harus menjadi kesepakatan yang adil," tegasnya.

Eskalasi konflik dengan Washington ini mendorong Kanada untuk merombak poros perdagangannya. Beberapa hari sebelumnya, PM Carney mendukung gagasan agar Kanada menjadi anggota asosiasi pertama Uni Eropa (UE) guna memperdalam ikatan ekonomi dan memastikan tidak ada satu negara pun yang dapat mendominasi pasar Kanada.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga secara terbuka mengajak Kanada berkolaborasi terkait wacana ini dalam pidatonya di Strasbourg pada 16 September lalu.

Meskipun keanggotaan asosiasi saat ini tidak diatur dalam perjanjian UE dan blok tersebut secara historis selalu menolak kategori kemitraan fleksibel, Carney menegaskan bahwa negaranya memang tidak mencari keanggotaan penuh.

"Apa yang kami cari, dan akan mulai diskusikan, adalah aliansi unik antara Kanada dan Uni Eropa," tutur Carney.

"Kita berbagi nilai yang sama, kita memiliki prioritas yang sama dan kita memiliki kekuatan yang sangat saling melengkapi."

Kejelasan poros strategis Kanada menuju Eropa diproyeksikan akan semakin nyata pada pertemuan puncak UE-Kanada akhir Oktober mendatang, yang diharapkan dapat membuahkan perjanjian dan kemitraan baru. Di luar Eropa, Kanada juga tengah bergegas mengejar pakta perdagangan dengan India serta memperbaiki hubungannya dengan China.

Kesepakatan dengan Beijing baru-baru ini telah menurunkan tarif untuk kanola Kanada dan membuka pasar negara itu bagi sejumlah kendaraan listrik (EV) China.

"Mitra bekerja sama dengan Kanada karena Kanada dapat diprediksi, dapat diandalkan, dan berprinsip di dunia yang sama sekali tidak demikian," ucap Carney.

"Kami memiliki strategi yang, saya yakini, telah membuat negara kita lebih kuat, tetapi kita baru saja memulai."

Menanggapi rentetan dinamika ini, profesor manajemen politik di George Washington University, Todd Belt, menilai bahwa Gedung Putih sama sekali tidak pernah memprediksi perlawanan keras dari Kanada.

"Donald Trump meremehkan tekad Carney," kata Belt.

"Ia mungkin berpikir bahwa karena ia [Carney] baru menjabat, ia akan mampu memerintahnya. Dan itu tidak terjadi."

Belt juga membeberkan bahwa Trump gagal mengantisipasi taktik pembalasan Kanada yang dilakukan dengan merancang serangan balasan ke wilayah strategis secara politis.

"Orang-orang Kanada akan merespons dengan cara yang sama, dan mereka akan melakukannya dengan cara di mana mereka dengan sengaja menargetkan kursi Senat yang diperebutkan," ungkapnya, merujuk pada negara bagian krusial seperti Michigan, Ohio, dan Alaska.

Belt memperingatkan bahwa dominasi dan pengaruh perdagangan AS dapat lenyap seketika jika Kanada pada akhirnya berhasil menggantikan pasar AS dengan menjalin ikatan kuat bersama mitra-mitra perdagangan baru.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Kibarkan "Perang Baru" dengan Uni Eropa


Most Popular
Features