MARKET DATA
Internasional

Taliban Mulai Dapat "Pemberontak" Baru, Melawan karena Larangan Musik

tps,  CNBC Indonesia
25 September 2026 21:00
Pasukan Taliban Afghanistan melancarkan serangan bersenjata terhadap tentara Pakistan di sepanjang perbatasan bersama mereka. (Sanaullah SEIAM/AFP)
Foto: Pasukan Taliban Afghanistan melancarkan serangan bersenjata terhadap tentara Pakistan di sepanjang perbatasan bersama mereka. (Sanaullah SEIAM/AFP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sopir taksi di Afghanistan nekat memutar musik di dalam mobil mereka sebagai bentuk perlawanan terhadap larangan ketat yang diberlakukan oleh pemerintah Taliban, meskipun aksi ini diwarnai ketakutan tertangkap oleh polisi moral.

Mengutip Bangkok Post, Jumat (25/9/2026), musik yang dulunya terus mengalir dari berbagai restoran, kafe, dan toko di ibu kota Kabul telah dibisukan selama lima tahun terakhir. Hiburan publik tersebut kini hanya digantikan oleh lagu-lagu keagamaan atau patriotik yang didukung oleh otoritas Taliban sejak mengambil alih kekuasaan pada tahun 2021.

Merespons pembatasan tersebut, sejumlah sopir taksi seperti Roeen mulai memutar musik folk atau pop Afghanistan dan regional. Namun, musik itu dengan cepat ia matikan saat pasukan keamanan terlihat berada di sekitarnya.

"Di setiap pos pemeriksaan yang kami lewati, kami mengecilkan volume musik atau bahkan mematikannya sama sekali... agar saya tidak mendapat masalah dengan mereka," tutur Roeen, yang hanya menyebutkan nama depannya demi alasan keamanan.

Larangan pemutaran musik di tempat umum ditegakkan oleh Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan (PVPV), yang polisi moralnya rutin berpatroli di seluruh kota mengenakan mantel putih panjang. Peraturan PVPV secara eksplisit menyatakan bahwa karena musik dilarang dan mengganggu penumpang, pengemudi harus menahan diri untuk tidak memutar atau mendengarkannya.

Pihak kementerian tidak memberikan tanggapan saat dimintai komentar terkait hukuman spesifik yang dihadapi warga karena memutar musik, namun mereka yang melanggar aturan diketahui berisiko dipenjara. Roeen menyebut bahwa para pejabat PVPV memiliki kewenangan yang sangat besar sehingga warga sangat berhati-hati.

"Kami tentu saja terlalu takut pada mereka untuk bisa mendengarkan musik dengan volume yang lebih keras," ungkapnya.

Menyetir menembus lalu lintas yang padat dan jalanan Kabul yang bising, Roeen mengaku minatnya pada musik justru meningkat 10 kali lipat sejak larangan itu diterapkan. Di negara di mana berbagai bentuk hiburan termasuk bioskop dilarang, mendengarkan musik secara terus-menerus kini menjadi bentuk protes tersendiri bagi pengemudi berusia 28 tahun tersebut.

"Saya harus memastikan bahwa meskipun saya tidak bisa mendengarkan di pagi hari, pada pukul delapan musik saya menyala," tegasnya.

Seorang pengemudi taksi lain berusia 32 tahun, yang meminta anonimitas karena alasan keamanan, menceritakan bahwa ia hanya berani mendengarkan musik saat sendirian di dalam mobil. Ia mengaku pernah dihentikan dua kali di pos pemeriksaan karena ketahuan membawa kaset USB dan kartu memori di pemutar radionya.

"Sebelumnya, kapan pun seseorang mau, mereka bisa mendengarkan tanpa rasa khawatir atau stres. Tapi sekarang... secara pribadi saya mendengarkan, tetapi dengan sedikit stres," paparnya.

"Saya tidak berbohong, saya mengatakan itu berisi musik, dan mereka menghancurkannya. Budaya Afghanistan tidak boleh lenyap, dan musik adalah salah satu budaya rakyat kita. Secara pribadi, saya tidak ingin budaya ini menghilang," ucapnya.

Sebagai bagian dari tindakan keras berkelanjutan atas larangan tersebut, departemen provinsi PVPV sesekali melaporkan adanya pembakaran alat musik sitaan. Juru bicara kementerian Saiful Islam Khyber mengatakan bahwa tidak ada angka pasti mengenai berapa banyak alat musik yang telah mereka sita sejauh ini.

Di sisi lain, warga Kabul menjadikan taksi berbagi sebagai transportasi andalan untuk berkeliling kota yang tidak memiliki sistem transportasi umum yang layak. Seringkali, dua penumpang duduk di depan bersama pengemudi, tiga di belakang, dan terkadang ada yang terpaksa menumpang di bagasi terbuka.

Shamsullah Ahmad (29), seorang mahasiswa magister, mengaku selalu memeriksa apakah taksi yang akan ditumpanginya memiliki pemutar musik. Pasalnya, polisi moral diketahui sering melepas penyuara telinga (headphone) dari telinga warga untuk memeriksa apakah mereka sedang mendengarkan musik secara sembunyi-sembunyi.

"Saya lebih suka musik di dalam mobil, karena memakai headphone akan ketahuan, tetapi di dalam mobil, meskipun dengan volume yang lebih rendah itu lebih baik daripada tidak sama sekali," kata Ahmad.

Situasi pengekangan ini menjadi beban berat bagi masyarakat setempat. Roeen mengaku sangat merindukan masa-masa ketika warga bebas mendengarkan lagu, menari, dan merayakannya tanpa ada yang menghentikan atau menghukum mereka.

"Namun kini kota diselimuti kegelapan, kegelapan tanpa cahaya," pungkasnya.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Negara Buat Fatwa Demo 'Haram', Sebut Tak Ada Dalil di Hukum Islam


Most Popular
Features