Kronologi China Pegang Suku Cadang Jet Tempur Siluman F-35 Amerika
Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar mengejutkan dilaporkan Bloomberg, sebagaimana dimuat CNBC International, Jumat (25/9/2026). Dikatakan bahwa otoritas China saat ini memegang suku cadang jet tempur siluman Amerika Serikat (AS) F-35 milik korps marinir Paman Sam.
F-35 sendiri adalah pesawat tempur siluman (stealth) generasi kelima yang dikembangkan oleh Lockheed Martin. F-35 sering disebut sebagai salah satu program pesawat tempur paling mahal dan kompleks yang pernah dikembangkan AS.
Harga flyaway, bukan pembelian paket lengkap mencakup mesin, suku cadang pelatihan hingga pemeliharaan, mencakup US$ 82,5 miliar atau sekitar Rp 1,6 triliun. Namun dalam pembelian yang dibeli Arab Saudi pekan lalu, nilai penjualan mencapai US$ 24 miliar.
Lalu apa yang terjadi? Bagaimana kronologinya?
Kronologi
Hal ini dimulai saat perusahaan pengiriman UPS mengirimkan kanopi kokpit dan pintu ruang senjata dari Australia ke AS pada akhir Mei. Namun pengiriman itu ternyata dialihkan.
Bukan ke sekutu AS, pengalihan malah dilakukan ke Hong Kong, otoritas China. Dalam laporan, dikatakan tak jelas mengapa itu terjadi.
"Kedua suku cadang tersebut dilapisi dengan material penyerap radar yang meningkatkan kemampuan silumannya," menurut sumber-sumber.
"Tidak jelas mengapa pengiriman itu dialihkan ke Hong Kong," tambah Bloomberg.
Menteri Pertahanan Australia Richard Marles memberi pengumuman Selasa. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa Australia mengetahui perihal pengiriman tersebut dan sedang bekerja sama dengan AS serta Lockheed Martin untuk melihat bagaimana Canberra dapat membantu penyelidikan.
Mengutip CNN International, Marles juga mengatakan bahwa sepengetahuannya, tidak ada suku cadang sensitif dalam pengiriman yang hilang tersebut. Namun hingga berita diturunkan Lockheed Martin, UPS, dan Pentagon tidak segera menanggapi permintaan komentar dari CNBC International.
Hanya Diizinkan Dijual ke Sekutu Terdekat AS
F-35 adalah pesawat tempur siluman generasi kelima buatan Lockheed Martin, dan Washington hanya mengizinkan penjualan pesawat ini kepada mitra serta sekutu terdekatnya. Sebagai contoh, Turki dikeluarkan dari program F-35 pada tahun 2019 setelah negara tersebut membeli sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia karena kekhawatiran bahwa sistem Rusia akan digunakan sebagai sarana pengumpulan intelijen untuk mempelajari kemampuan pesawat itu.
Menurut jaksa penuntut AS pada tahun 2024, China memang pernah menargetkan data militer AS terkait F-35 dalam sejumlah kasus spionase di masa lalu. Penjualan Arab Saudi juga sempat memicu kekhawatiran bahwa teknologi tersebut bisa jatuh ke tangan China, seiring kedekatan kedua negara.
"Komunitas intelijen AS telah memperingatkan bahwa penjualan tersebut dapat membuat aset paling berharga dari teknologi militer Amerika berada dalam jangkauan Partai Komunis China," kata Anggota Kongres AS, Raja Krishnamoorthi.
Hingga saat ini, pengguna pesawat tempur ini antara lain Australia, Belgia, dan AS sendiri, sementara negara-negara lain seperti Jepang, Kanada, dan Singapura juga telah memesan pesawat tersebut. Menurut Departemen Pertahanan, F-35 juga pernah digunakan oleh AS dalam konflik dengan Iran, di mana satu pesawat mengalami kerusakan akibat tembakan musuh.