4 Poin Hasil Diskusi Trump-XI Jinping: Perang Dagang-'Thucydides Trap'
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi menyambut Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih pada hari Kamis. Kunjungan kenegaraan yang mewah ini menyoroti sejumlah isu krusial, mulai dari perdagangan, kecerdasan buatan (AI), hingga persaingan strategis yang kian memanas di antara kedua negara adidaya tersebut.
Mengutip Reuters, Jumat (25/09/2026), pertemuan tingkat tinggi antara kedua pemimpin negara ini menghasilkan setidaknya empat poin penting yang patut dicermati oleh dunia. Berikut adalah 4 poin tersebut.
Gencatan Senjata Perang Dagang
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkapkan bahwa kedua belah pihak telah memperpanjang gencatan senjata perdagangan yang sedianya berakhir pada November, meskipun hanya diperpanjang selama dua bulan hingga tenggat waktu baru pada 10 Januari mendatang.
"Perpanjangan ini akan memberi kedua belah pihak lebih banyak waktu untuk melihat apa yang bisa kita lakukan di bidang ekonomi," tuturnya.
Perpanjangan ini pada dasarnya hanya menunda pembahasan isu-isu sentral ke putaran negosiasi berikutnya, seperti tarif, kewajiban pembelian oleh China, pasokan mineral tanah jarang (rare-earth), dan pembatasan teknologi. Bessent membeberkan bahwa Beijing telah memenuhi persyaratannya untuk membeli 25 juta ton kedelai, namun masih tertinggal dari janjinya untuk membeli produk pertanian lain senilai US$ 17 miliar (Rp 302,6 triliun). Pejabat AS menyebut pengiriman rare-earth juga masih kurang.
Bagi perusahaan, hal ini memicu ketidakstabilan karena tarif tetap lebih rendah untuk saat ini, tetapi keputusan bisnis harus dibuat dengan latar belakang kebijakan yang berubah-ubah. Trump dan Xi dijadwalkan memiliki kesempatan lain untuk menyusun kesepakatan permanen pada dua pertemuan puncak multilateral di Shenzhen dan Miami sebelum akhir tahun.
Desakan Isu Sensitif Taiwan
Sesuai prediksi, Xi menekan Trump terkait isu Taiwan. Kantor berita resmi China, Xinhua, melaporkan bahwa China berharap AS akan menangani masalah Taiwan dengan kehati-hatian guna meletakkan landasan yang kuat bagi kerja sama strategis bilateral. Xinhua versi bahasa Inggris bahkan menulis bahwa Xi berharap AS akan secara tegas "menentang" kemerdekaan Taiwan.
Permintaan ini merupakan versi yang jauh lebih keras dari formulasi lama Washington yang selama ini hanya menyatakan "tidak mendukung" kemerdekaan. Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi, namun pejabat AS telah lama menghindari penolakan eksplisit atas kemerdekaan Taiwan karena setiap perubahan bahasa dapat memicu kemarahan Kongres.
AS sejauh ini merupakan pendukung internasional terpenting Taiwan dan terikat oleh undang-undang untuk menyediakan persenjataan pertahanan. Sebelumnya, Trump sempat memicu tanda tanya atas komitmen tersebut ketika ia menyebut paket senjata untuk Taiwan senilai hingga US$ 14 miliar (Rp 249,2 triliun) hanya sebagai "alat negosiasi".
Ancaman Jebakan Thucydides
Dalam pertemuan ini, Xi kembali menyinggung "Jebakan Thucydides" atau Thucydides Trap, sebuah teori akademis yang menyatakan bahwa persaingan antara kekuatan yang sedang bangkit dan kekuatan yang sudah mapan cenderung berujung pada peperangan.
Meski Xi meyakini bahwa risiko tersebut dapat diatasi, penyebutan teori itu menggarisbawahi kekhawatiran tentang potensi konflik militer yang terus membayangi kedua negara. Xi berpendapat bahwa kedua belah pihak akan memperoleh keuntungan dari kerja sama dan merugi dari konfrontasi, seraya menyerukan dialog militer reguler dan mekanisme pencegahan krisis yang lebih kuat.
Sementara itu, Trump memilih untuk menarik sejarah bersama guna menekankan potensi kerja sama. Menurutnya, mereka bisa mencapai banyak hal dengan mengejar kepentingan bersama, seraya mengenang memori aliansi masa perang AS dan China saat melawan Jepang.
Pamer Kemewahan Gedung Putih
Bagi Trump, kunjungan Xi merupakan momen krusial untuk memamerkan Gedung Putih yang telah dirombak sesuai citranya. Sebagai balasan atas sambutan Xi di Beijing sebelumnya, Trump menyuguhkan tontonan berbeda di mana pasukan yang mengenakan wig dan topi tiga sudut (tri-corner) berbaris dan bermain musik di Rose Garden yang didesain ulang agar terlihat seperti klub golf Trump.
Jet tempur dan pesawat pengebom terbang menderu di atas kepala selama upacara, yang saking kerasnya sempat membuat Trump tersentak. Trump sendiri telah berbicara selama berbulan-bulan tentang perlunya otoritas lebih untuk mempercantik ibu kota menjelang kunjungan Xi, meski beberapa proyek seperti ruang dansa baru dan Reflecting Pool belum selesai.
Ketika awak media dipanggil, alih-alih mendengarkan diskusi kebijakan, mereka justru disuguhi pemandangan tur helikopter Marine One dan South Lawn yang baru saja didesain ulang, lengkap dengan helipad berlogo kepresidenan. Saat ditanya soal kebijakan, Trump menepisnya.
"Ia menyukai granit yang bagus," ungkap Trump merujuk pada Xi.
"Pertemuan yang luar biasa."