MARKET DATA
Internasional

Di Forum PBB New York, Presiden Iran Tegaskan Tak Sudi Tunduk ke Trump

tps,  CNBC Indonesia
24 September 2026 06:00
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. (Iranian Presidency / AFP)
Foto: Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. (Iranian Presidency / AFP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tetap terbuka terhadap jalan diplomasi untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat (AS). Kendati siap menempuh jalur perundingan damai, ia bersumpah Iran tidak akan pernah menyerah sekaligus menuduh Presiden AS Donald Trump memiliki mentalitas penindas.

Mengutip Reuters, Kamis (24/09/2026), dalam pidatonya di hadapan 193 anggota Majelis Umum PBB pada hari Rabu, Pezeshkian menolak keras ancaman Trump yang berniat memusnahkan Iran jika kesepakatan gagal dicapai. Di saat ia memulai pidatonya, delegasi AS di ruangan sidang dilaporkan langsung berjalan keluar (walk out).

"Pernyataan yang dibuat oleh presiden AS kemarin adalah tanda mentalitas penindas," tegasnya. "Rakyat Iran tidak akan tunduk pada tekanan. Mereka yang merupakan teroris dan melatih teroris justru menyebut kami teroris."

Beberapa kali selama pidatonya, Pezeshkian mengulangi bahwa Iran siap menyelesaikan ketegangan dengan AS melalui negosiasi, namun memperingatkan bahwa Teheran tidak akan pernah menerima bahasa kekerasan. Ia turut menuduh AS telah membunuh warga sipil selama perang dan memamerkan foto-foto yang menyertakan gambar para siswi sekolah.

Menurut pejabat Iran, serangan rudal AS-Israel di sebuah sekolah dasar di Minab pada 28 Februari lalu telah menewaskan sedikitnya 175 anak dan guru. Pentagon hingga kini belum secara publik merilis temuan investigasinya atas insiden tersebut. Namun, penyelidikan internal militer AS awal dilaporkan menemukan bahwa pasukan AS kemungkinan besar bertanggung jawab atas jatuhnya korban sipil paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir itu.

Terkait isu senjata pembunuh massal, Pezeshkian mengeklaim bahwa Iran sama sekali tidak berniat mencari bom nuklir, tetapi tidak akan melepaskan haknya atas program nuklir damai.

"Tidak akan ada senjata nuklir, maupun melepaskan pengetahuan nuklir," paparnya.

Ancaman Ekonomi dan Nasib Selat Hormuz

Memasuki bulan ketujuh, konflik ini telah mengguncang pasar dan mendorong kawasan Teluk ke ambang perang yang jauh lebih luas. Washington kini diketahui melancarkan serangan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah tindakan militer gagal memaksa Teheran untuk menyerah.

Para pemimpin Iran kini diliputi kekhawatiran bahwa memburuknya ekonomi yang ditandai oleh lonjakan harga dan tekanan pendapatan rumah tangga dapat memicu kembali kerusuhan nasional di dalam negeri.

Pusat ketegangan kini bergeser ke Selat Hormuz, saluran krusial yang dilewati seperlima pasokan minyak global dan gas alam cair (LNG). Sumber-sumber internal mengatakan bahwa Teheran telah menyampaikan sejumlah persyaratannya kepada AS melalui perantara untuk membuka kembali jalur air strategis tersebut.

"Tidak bisa dibiarkan bahwa semua orang mendapat manfaat dari Selat Hormuz sementara kami ditolak aksesnya untuk pengiriman pelayaran melalui jalur air ini," ungkap Pezeshkian.

"Pengerahan armada permusuhan secara permanen dan perluasan perang tidak akan mengarah pada perdamaian."

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Janji Buka Lagi Selat Hormuz dalam 7 Hari, dengan Syarat...


Most Popular
Features