MARKET DATA
Internasional

Perang Saudara Baru Pecah Dekat Arab, Pemberontak Kuasai Bandara Vital

tps,  CNBC Indonesia
24 September 2026 05:30
Tentara Ethiopia (via Facebook AFRICA IS HOME)
Foto: Tentara Ethiopia (via Facebook AFRICA IS HOME)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman kembalinya perang terbuka di Ethiopia kini semakin nyata setelah pasukan di wilayah Tigray utara dilaporkan mengambil alih kendali bandara di ibu kotanya, Mekelle. Insiden ini menandai ancaman pecahnya kembali perang di Ethiopia yang sebelumnya telah berhenti lewat kesepakatan damai, serta memicu maskapai nasional Ethiopian Airlines menangguhkan layanannya ke tiga tujuan lokal.

Mengutip Russia Today, Rabu (23/09/2026), pengambilalihan fasilitas vital ini menandai eskalasi yang tajam hampir empat tahun setelah kesepakatan damai menghentikan perang saudara brutal selama dua tahun di negara Afrika Timur Laut tersebut. Dua sumber lokal mengatakan kepada Reuters bahwa pasukan Tigray telah berhasil mengambil alih kendali bandara Mekelle dari polisi federal dalam sebuah operasi yang berlangsung semalam.

Pemerintah regional Tigray sendiri menyatakan bahwa pasukannya kini telah memasuki fase perang defensif melawan pasukan federal. Pihaknya menuduh pemerintah federal telah meluncurkan serangan darat setelah sebelumnya melakukan rentetan serangan udara dan artileri di berbagai bagian Tigray pada hari Selasa.

Hingga saat ini, pemerintah federal belum memberikan komentar publik apa pun mengenai dugaan pengambilalihan bandara dan serangan udara tersebut. Sementara itu, maskapai penerbangan milik negara Ethiopian Airlines mengumumkan dalam sebuah unggahan media sosial pada hari Rabu bahwa layanannya menuju Mekelle, Shire, dan Axum telah dihentikan karena situasi saat ini di wilayah Tigray

"Kami dengan tulus meminta maaf kepada pelanggan setia kami atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh penangguhan ini," ungkapnya.

"Kami akan memberi tahu Anda saat operasi penerbangan dilanjutkan."

Perkembangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah tujuh kelompok bersenjata, termasuk Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) yang selama ini mengelola Tigray, mengumumkan sebuah aliansi yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed dan mendirikan pemerintahan transisi.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu, koalisi yang menamakan dirinya Aliansi Pasukan Rakyat Ethiopia untuk Kelangsungan Hidup itu menuduh Partai Kemakmuran yang berkuasa bersama Ahmed telah memberlakukan pemerintahan diktator dan mendorong negara menuju kehancuran.

Pada hari Senin, juru bicara Ahmed, Billene Seyoum, menuduh aliansi pemberontak tersebut berkolaborasi dengan dukungan finansial dari negara tetangga, Eritrea. Namun, tuduhan ini dibantah keras oleh otoritas di Eritrea yang berulang kali menyangkal telah memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok tersebut.

Ethiopia tercatat terus berjuang keras untuk mengamankan stabilitas abadi di Tigray sejak perjanjian damai 2022 mengakhiri perang berdarah antara pasukan federal dan TPLF yang menewaskan ratusan ribu orang. Rangkaian bentrokan baru-baru ini dan laporan serangan drone telah mengancam perdamaian yang rapuh tersebut. Bulan lalu, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus bahkan telah memperingatkan bahwa Ethiopia berada di ambang perang baru.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]
Next Article 7 Kelompok Berpengaruh Satukan Kekuatan, Siap Gulingkan Pemerintahan


Most Popular
Features