Awas Rencana Besar Bioetanol Cuma Mimpi, Sosok Ini Tunjuk Akar Masalah
Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengingatkan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman agar tidak terburu-buru dalam mengejar target pengembangan bioetanol. Menurut petani, target besar pemerintah harus disesuaikan dengan kesiapan lahan, bibit, hingga industri pengolahannya.
Ketua Umum APTRI Soemitro Samadikoen mengatakan, pemerintah perlu memperhitungkan kebutuhan bibit sebelum merealisasikan rencana penanaman tebu dalam skala besar. Pasalnya, pembibitan tebu memiliki tahapan berjenjang dan membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Ia mencontohkan, jika pemerintah ingin menanam tebu hingga 1 juta hektare, maka lahan untuk menyiapkan bibit harus mencapai sekitar seperenamnya atau kurang lebih 160 ribu hektare.
"Jadi kalau kita bilang mau menanam tebu sekian juta hektare. Misalnya 1 juta hektare, maka benih yang harus disiapkan itu seperenamnya. Maka dia harus memenuhi ketersedian benih KBD (Kebun Benih Datar), yang benih panenannya. Itu harus seperenam (dari luasan yang ingin digarap). Kalau mau 1 juta hektare seperenamnya kurang lebih 160 ribu hektare," kata Soemitro kepada CNBC Indonesia, saat ditemui di kompleks parlemen, Rabu (23/9/2026).
Menurutnya, penyediaan bibit tersebut juga tidak bisa dilakukan secara instan. Proses pembibitan tebu harus melalui sejumlah tingkatan hingga menghasilkan bibit yang siap ditanam.
"Jadi ini memakan waktu 30 bulan. Nggak bisa ini dipotong. Jadi itu kita nggak bisa serentak menanam kayak padi," ujarnya.
Soemitro menilai persoalan tersebut perlu diperhitungkan sejak awal agar target pengembangan bioetanol tidak hanya menjadi angka di atas kertas.
"Target itu harus disesuaikan dengan kemampuan kita, modal dasar kita dan harus ada target waktu yang jelas," tegas dia.
Target 2 Juta Hektare untuk Pengembangan Etanol
Pemerintah sebelumnya berencana menyiapkan lahan hingga 2 juta hektare untuk mendukung pengembangan bioetanol sebagai bahan bakar. Dari luasan tersebut, sekitar 1 juta hektare ditargetkan khusus untuk tebu.
Mentan Amran mengatakan, pengembangan bioetanol akan menggunakan tiga komoditas utama, yakni tebu, singkong, dan jagung. Pemerintah menargetkan penanaman mulai berjalan pada tahun depan untuk mendukung pencapaian campuran etanol dalam bensin hingga 50% (E50).
Namun, Soemitro kembali mengingatkan bahwa semakin besar target lahan, semakin besar pula kebutuhan pembibitan.
Selain bibit, menurutnya, pemerintah juga harus memastikan lokasi lahan dan industri pengolahan. Pasalnya, tebu yang ditanam nantinya harus segera diolah di pabrik.
"Terus pada finalisasinya, tebu itu harus diolah oleh pabrik. Mampu nggak kumpulin Pemda itu untuk sediain tanah, atau nyari investornya?" tutur Soemitro.
Ia menilai keterlibatan pemerintah daerah menjadi penting, terutama untuk memastikan ketersediaan lahan, perizinan, infrastruktur, hingga tenaga kerja bagi investor yang membangun pabrik pengolahan.
Menurut Soemitro, target besar seperti 2 juta hektare juga harus sudah disertai kejelasan lokasi sejak awal.
"Kalau sekarang saya tanya 2 juta hektare mau di mana? Kan belum bisa ngomong, oh ini target, nggak bisa lho. Target itu harus harus berdasar dengan yang apa yang kita punya," katanya.
Soemitro juga meminta pemerintah tidak terburu-buru mengejar target E50 sebelum tahapan awal pengembangan bioetanol benar-benar berjalan.
"Kalau menurut saya ngimpi kita ini mau bikin E50 gitu lho, bahkan kita ini mimpi sedang tidur. E20 apa E5 itu sekarang sudah jalan belum?" ujar Soemitro.
Ia mengatakan, pengembangan bioetanol seharusnya dilakukan secara bertahap dengan memperhitungkan kemampuan produksi bahan baku dan kesiapan industri untuk menyerapnya.
"Jangan dadak-dadak, pelan-pelan," pungkasnya.