MARKET DATA

KRL Makin Padat, Penumpang Tembus 1,1 Juta Sehari

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
23 September 2026 18:20
Calon penumpang memadati peron Stasiun Manggarai-Depok-Bogor-Nambo, Jakarta, Jumat (4/9/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Calon penumpang memadati peron Stasiun Manggarai-Depok-Bogor-Nambo, Jakarta, Jumat (4/9/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek terus melonjak dan kini telah menembus rata-rata 1,1 juta orang per hari. Lonjakan tersebut membuat kebutuhan penambahan kapasitas kereta semakin mendesak.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Bobby Rasyidin mengungkapkan pertumbuhan jumlah penumpang KRL pada semester I 2026 mencapai 11,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan sebelumnya yang hanya sekitar 3%-4%.

"Ini terjadi anomali kalau kita bandingkan 2025 di 2026, itu 11,5%. Ini semester I di semester I, itu 11,5%. Yang tadinya rata-rata penumpang harian itu di bawah 1 juta, sekarang itu sudah 1,1 juta," ujar Bobby dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (23/9/26).

Lonjakan tersebut juga terlihat di sejumlah stasiun dengan volume penumpang yang meningkat signifikan. Di Stasiun Bogor, misalnya, jumlah penumpang naik-turun yang sebelumnya kurang dari 100.000 orang per hari kini telah mencapai sekitar 160.000 orang per hari.

Kondisi serupa terjadi pada LRT Jabodebek. Jumlah penumpang harian yang sebelumnya masih di bawah 90.000 orang kini telah mencapai sekitar 138.000 orang.

"Artinya, memang untuk transportasi commuter, kereta lebih menjadi pilihan utama pada saat ini," katanya.

Peningkatan jumlah pengguna membuat kebutuhan sarana KRL ikut meningkat. Untuk 2026, KAI memproyeksikan kebutuhan trainset mencapai 104 unit dengan asumsi konservatif jumlah penumpang hanya 1 juta orang per hari.

Perhitungan tersebut mencakup kebutuhan 89 trainset untuk menjalankan 1.065 perjalanan KRL per hari. Selain itu, KAI memperhitungkan cadangan sekitar 3% dan kebutuhan perawatan sekitar 16%.

Masalahnya, jumlah sarana pada awal 2026 baru mencapai 102 trainset. Pada saat yang sama, sejumlah kereta yang sudah berusia tua harus mulai dipensiunkan. KAI mengungkapkan rata-rata usia kereta yang dimiliki saat ini telah mencapai lebih dari 41 tahun. Bahkan, masih terdapat trainset yang berasal dari tahun 1970-an.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan armada tidak hanya berkaitan dengan penambahan kapasitas untuk menampung pertumbuhan penumpang, tetapi juga mengganti kereta-kereta yang sudah berusia lanjut.

Untuk jangka panjang, kebutuhan armada KRL Jabodetabek diproyeksikan terus meningkat. Hingga 2040, KAI memperkirakan diperlukan sekitar 200 trainset untuk mengantisipasi pertumbuhan penumpang harian menjadi sekitar 2,5-3 juta orang sekaligus mengganti armada lama.

(fys/wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article 7 KRL INKA CLI-225 Direcall, KAI Temukan Ini di Rangka Bawah


Most Popular
Features