Raja Tekstil Dunia Jadi 'Korban' Perang Iran, Terancam Bangkrut Massal
Jakarta, CNBC Indonesia - Harapan agar perang di Timur Tengah segera berhenti kini disuarakan dengan lantang oleh para pelaku industri garmen di Bangladesh. Konflik yang memicu lonjakan harga energi global tersebut benar-benar mencekik urat nadi ekonomi negara pengekspor pakaian jadi terbesar kedua di dunia setelah China itu.
Mengutip Reuters, Selasa (22/09/2026), tekanan terhadap para produsen kian memburuk pada hari Senin usai harga bahan bakar di Bangladesh meroket hingga 17,4%. Pemerintah secara terbuka mengaitkan lonjakan biaya energi dan pengiriman laut ini dengan krisis di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran pada bulan Februari lalu.
Mengingat sebagian besar pasokan listrik negara ini dihasilkan dari gas alam, bahan bakar tungku, dan solar, pasokan energinya kini menjadi jauh lebih mahal dan tidak dapat diandalkan.
Survei terbaru terhadap 134 pabrik pakaian rajut mengungkap realita pahit bahwa sejak akhir Agustus lalu, 55% pelaku bisnis terpaksa menghadapi pembatalan atau pengurangan pesanan akibat kelangkaan listrik dan gas. Sebanyak 78% pabrik bahkan dilaporkan telah menghentikan produksinya sebagian. Para produsen kini harus menanggung beban biaya ekstra dengan mengirimkan barang via udara atau memberikan diskon khusus demi menutupi keterlambatan pengiriman.
Eksportir garmen Shahidullah Azim mengeluhkan hilangnya kepercayaan pembeli di tengah ketidakstabilan ini. Salah satu kliennya dari Kanada bahkan nekat memangkas pesanan dari 25.000 menjadi hanya 8.000 potong pakaian.
"Margin kami sudah sangat tipis, dan harga bahan bakar yang lebih tinggi akan semakin menekannya," paparnya. "Sangat sulit untuk menyerap biaya produksi dan transportasi yang lebih tinggi sambil tetap kompetitif."
Ancaman Kehilangan Takhta Ekspor
Penderitaan massal para produsen ini membunyikan alarm bahaya besar karena industri pakaian jadi menyumbang lebih dari 80% pendapatan ekspor Bangladesh, mempekerjakan sekitar 4 juta orang, dan berkontribusi 10% terhadap produk domestik bruto (PDB). Pekan lalu, Menteri Energi Bangladesh turut memperingatkan bahwa kenaikan harga gas impor sangat memperlambat pertumbuhan industri, memicu pemadaman listrik, dan memangkas dana proyek infrastruktur akibat membengkaknya pengeluaran subsidi gas.
Wakil Direktur Utama Denim Expert Ltd, Mohiuddin Rubel, menyoroti bahwa kompetitor utama mereka seperti Vietnam dan India nyatanya tidak menghadapi krisis energi separah ini.
"Apakah kita akan mempertahankan posisi kita di antara negara pemasok lain atau mulai tertinggal dari mereka, akan sangat bergantung pada seberapa baik kita mengelola situasi ini," tutur Rubel.
Di tengah kebangkrutan yang mengintai banyak perusahaan, pabrik 4A Yarn Dyeing yang menyuplai merek global seperti Walmart, Gap, serta Next, menjadi anomali yang tak tersentuh krisis pemadaman listrik. Sejak tahun 2019, pabrik dengan 7.500 pekerja di pinggiran Dhaka ini telah memasok 40% kebutuhan listriknya secara mandiri melalui panel surya, sementara sisanya ditopang oleh generator gas dan solar.
Salah satu pemilik perusahaan 4A Yarn Dyeing, Abdullah Hil Nakib, mengakui bahwa solar yang mahal tetap mengerek biaya produksinya sebesar 2% hingga 3%. Lonjakan ini membuat beban bahan bakar bulanan mereka melesat sebesar 5 juta taka atau sekitar Rp 728,91 juta. Guna menghindari risiko kegagalan daya di masa depan, pabrik ini bahkan siap membangun sistem penyimpanan baterai industri skala besar.
"Kami tidak pernah bergantung pada satu sumber energi. Kami membutuhkan tingkat stabilitas tertentu, tetapi biaya melakukan bisnis telah meningkat," ungkap Nakib.
"Pertama ada kekurangan minyak, lalu kekurangan gas. Kami mampu menyerap biaya tambahan tersebut, tetapi tidak setiap pabrik mampu melakukannya."