Kemajuan China Kini: Robot dan AI di Mana-Mana
Jakarta, CNBC Indonesia - Terakhir kali kami mengunjungi China sekitar 10 tahun lalu, kini kondisi Negeri Tirai Bambu tersebut berubah pesat. Kemajuan teknologi dan industrinya sangat cepat, seiring dengan posisinya saat ini menjadi kekuatan raksasa ekonomi dunia.
CNBC Indonesia berkesempatan mengunjungi dua kota besar di China, Beijing dan Shanghai. Dalam perjalanan 7 hari ini, kami mendapat kesempatan melihat dan mengunjungi sejumlah tempat.
Hari pertama, kami diperlihatkan proyek pembangunan kota baru di pinggir Beijing. Proyek tersebut bernama Beijing Municipial Admnistrative Center. Proyek seluas lebih dari 100 kilometer persegi ini dibangun untuk memindahkan pusat pemerintahan kota Beijing dari lokasinya di tengah kota yang sudah sangat padat. Sejumlah bangunan besar dibangun di kota baru, mulai dari perkantoran pemerintahan Kota Beijing, gedung kantor swasta, gedung pemukiman, stasiun besar kereta cepat yang langsung terhubung dengan dua bandara besar, hingga perpustakaan umum yang luas.
Kunjungan China. (CNBC Indonesia/Wahyu Daniel)Â |
Kota baru ini dibangun untuk mengurangi beban Kota Beijing yang sudah sangat padat. Pada jam-jam sibuk, kemacetan memang tak terhindarkan di kota yang sibuk ini. Meskipun transportasi umum massal seperti kereta sudah tersedia di ibu kota China ini.
Hari kedua kami mulai diperkenalkan oleh kemajuan teknologi dan industri manufaktur di China, melalui kunjungan ke kantor dan pabrik Xiaomi. Perusahaan yang didirikan pada 2010 ini awalnya hanya memproduksi smartphone, kini bertransformasi menjadi produsen mobil listrik berbasis teknologi.
Di kawasan produksi seluas puluhan hektar ini, kami diperlihatkan bagaimana Xiaomi memproduksi 1.000 mobil listrik per hari, yang mayoritas pegawainya adalah robot. Saat mengelilingi pabrik, kamera handphone kami harus ditutup, karena tidak boleh mengambil foto dan merekam video. Pabrik ini memproduksi sekitar 400 ribu kendaraan listrik dalam setahun. Mereka mengeluarkan tiga model mobil listrik saja.
Kunjungan China. (CNBC Indonesia/Wahyu Daniel)Â |
Kami terkesima melihat bagaimana proses produksi mobil tersebut dilakukan dengan cepat oleh robot-robot. Mulai dari balok-balok alumunium yang diproses menjadi chasis mobil dalam hitungan menit, hingga proses pengecatan. Hanya segelintir orang saja yang terlihat di dalam pabrik tersebut.
Staf Xiaomi yang mengantar kami menjelaskan, perusahaan ini mulai memproduksi mobil listrik sejak 2021. Sejak tahun itu hingga 2025, Xiaomi telah menggelontorkan 105,5 miliar yuan atau bila dikonversi ke rupiah nilainya mencapai Rp 284 triliun untuk riset dan pengembangan (research and development/R&D). Angka yang luar biasa, yang menghasilkan 45.000 hak paten dunia.
Omzet perusahaan ini pada 2017 mencapai 100 miliar yuan atau sekitar Rp 270 triliun, dan pada 2025 meningkat pesat mencapai 457,3 miliar yuan atau sekitar Rp 1.000 triliun lebih.
Belum berhenti, hingga 2030 nanti, Xiaomi berencana menggelontorkan 200 miliar yuan atau sekitar Rp 540 triliun untuk R&D. Saat ini perusahaan tersebut sedang menguji coba penggunaan robot manusia (humanoid robot) untuk produksi mobil listriknya.
Hari ketiga, kami kembali berdecak kagum oleh bagaimana China memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI). Kali ini, kami mengunjungi Universitas Agrikultur China, untuk melihat bagaimana kampus ini mengembangkan teknologi untuk budidaya perikanan, yang semuanya fully digital. Kampus ini memiliki pusat inovasi digital untuk perikanan nasional.
Kunjungan China. (CNBC Indonesia/Wahyu Daniel)Â |
Para mahasiswa dan dosen di kampus ini mengembangkan teknologi yang bertujuan meningkatkan produksi pertanian. Salah satu yang diperlihatkan adalah pengembangan budidaya ikan sturgeon yang telurnya menghasilkan komoditas bernilai tinggi, bernama caviar.
Tak hanya ikan sturgeon, tempat ini juga fokus membudidayakan ikan bernilai tinggi di China. Seperti ikan salmon, trout, lalu kerapu. Semua ikan ini fokus utamanya adalah sebagai komoditas ekspor. Kota-kota di China tempat budidaya ikan ini adalah Guangdong, Shandong, dan Fujian.
Teknologi ini membuat operasional perikanan menjadi lebih murah, karena lebih efisien dan mengurangi jumlah pekerja. Mulai dari pemantauan perkembangan ikan, pemberian makan, pergantian air, hingga pengolahan kotoran dilakukan oleh teknologi.
Salah satu staf mengatakan, dengan penggunaan teknologi ini, produktivitas perikanan di China naik rata-rata pada kisaran 80-90 persen. Bahkan ada yang peningkatannya lebih. Misalkan, pada budaya ikan tradisional, satu meter kubik air hanya bisa memelihara 2 kilogram (kg) ikan. Lewat penerapan sistem digital, satu meter kubik air bisa memelihara minimal 70-80 kg ikan.
Mereka juga membuat sistem monitoring budidaya ikan, sampai di tengah laut dengan teknologi drone dan AI. Ada ratusan jenis ikan yang dibudidayakan dengan sistem teknologi ini.
Melalui penerapan sistem digital ini, China memiliki impian, satu orang pembudidaya bisa memelihara 1 ton ikan sendiri.
Kemudian dari situ, kami berpindah tempat untuk mengunjungi kantor DramaBox, sebuah platform film digital China yang sedang naik daun saat ini. Kantornya dipenuhi oleh anak-anak muda, layaknya perusahaan startup digital. Ternyata, kantor DramaBox di China hanya cabang, kantor pusat DramaBox berlokasi di China.
Global Director of Data & Innovative Marketing DramaBox, Daniel Wang, memaparkan nilai pasar untuk drama singkat (short drama) di China sangat besar. Pada 2023 nilainya US$ 5 miliar (sekitar Rp 85 triliun) , kemudian 2024 mencapai U$ 7,4 miliar.
Nilai ini terus meningkat, pada 2025 mencapai US$ 15 miliar (sekitar Rp 255 triliun) atau naik dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. untuk 2026 ini, Daniel memperkirakan nilai pasar atau pendapatan short drama di China bakal menyentuh US$ 25 miliar (sekitar Rp 425 triliun).
China masih menjadi pasar terbesar dari industri short drama. Tanpa China, di dunia pada 2025 nilai pasar short drama hanya US$ 3 miliar atau 20% dari nilai pasar short drama di China.
Short drama atau drama singkat ini pada dasarnya memiliki format durasi 1-3 menit setiap episodenya. Tiap series dari short drama ini memiliki 40-80 episode, yang bisa ditonton melalui smartphone lewat platform aplikasi.
Daniel memaparkan, penonton aktif short drama di China jumlahnya mencapai 700 juta per bulan. Sangat tinggi, dibandingkan penonton aktif dunia tanpa China yang jumlahnya 200 juta-300 juta per bulan. Penetrasi penonton short drama di China mencapai 60%. Artinya, tiap 10 pengguna internet, 60%-nya merupakan penonton short drama. Durasi penonton short drama di China per hari mencapai 129 menit atau sekitar 2 jam.
Secara pendapatan, DramaBox memiliki pangsa pasar 38% atau yang terbesar, dari total pendapatan platform short drama yang ada di China. Selain kantor pusat di Singapura dan cabang di China, DramaBox memiliki kantor perwakilan di Amerika Serikat (AS), Korea Selatan, dan China.
Platform ini memiliki sekitar 4.000 serial short drama, yang diproduksi di berbagai negara. Mereka memproduksi sendiri, dan juga membeli dari pihak luar. Bahkan perusahaan ini juga sudah menggunakan teknologi AI Generate Content, atau menggunakan konten AI untuk serial dramanya.
Dari kantor DramaBox, kami langsung bergerak menuju kantor pelatihan robot bernama Tashan. Perusahaan ini memiliki keahlian untuk melatih dan memberikan keterampilan untuk robot, sesuai dengan keinginan dari pelanggan.
Di sini kami diperlihatkan, bagaimana anak-anak muda yang menjadi pegawainya, melatih robot-robot sehingga memiliki kemampuan khusus. Ada berbagai ruangan yang dibuat khusus untuk melatih robot. Ada yang dilatih untuk membereskan tempat tidur, ada yang dilatih untuk memindahkan barang, dan bermacam tugas lainnya.
Kunjungan China. (CNBC Indonesia/Wahyu Daniel) Foto: (CNBC Indonesia/Wahyu Daniel) |
Namun yang pasti, robot-robot ini digunakan untuk membuat pekerjaan makin efisien. Penggunaan robot di China memang kian massif. Apalagi bila melihat tempat pelatihan ini, yang memberikan berbagai macam kemampuan untuk robot.
Penggunaan robot untuk industri dan bisnis di China sudah merupakan hal yang biasa. Robot-robot ini digunakan untuk membantu pekerjaan manusia.
Lalu hari keempat, kami berpindah ke kota Shanghai di sebelah selatan China. Beda dengan Beijing yang merupakan pusat pemerintahan, karena fungsinya sebagai ibu kota negara, Shanghai berperan sebagai pusat keuangan dan bisnis China. Suasana kota ini berbeda dengan Beijing yang sangat padat. Gedung-gedung pencakar langit terlihat berdiri di pusat keuangan China ini.
Hari pertama di Shanghai, kami berkesempatan mengunjungi pusat pameran perencanaan kota Shanghai. Di gedung ini, terdapat banyak maket-maket tata ruang kota Shanghai yang sangat modern. Pada dinding di salah satu ruangan di gedung ini, kutipan pernyataan Presiden China Xi Jinping ditulis secara kuat, isinya Changhai akan dibangun secara dan dikembangkan untuk mengesankan dunia. Shanghai akan berubah untuk memperlihatkan bagaimana sebuah negara sosialis modern berdiri.
Kunjungan China. (CNBC Indonesia/Wahyu Daniel) Foto: (CNBC Indonesia/Wahyu Daniel) |
Gedung yang sangat modern ini memperlihatkan bagaimana pemerintah China akan mengembangkan Shanghai sebagai pusat bisnis dan keuangan. Di laut Shanghai, berdiri pelabuhan ekspor otomotif terbesar di dunia.
Kemudian dari situ, kami mengunjungi situs tempat pertama kali kongres Partai Komunis China digelar. Tempat sederhana ini menjadi satu titik sejarah perkembangan politik China, sehingga menjadi salah satu negara besar dunia seperti saat ini. Di dalam situs ini terdapat museum yang menceritakan sejarah perjalanan Partai Komunis di China.
Hari kelima kami mengunjungi kantor Tencent, salah satu perusahaan teknologi terbesar di China yang memulai bisnisnya dari aplikasi pesan instan bernama QQ. Saat ini, Tencent terkenal lewat aplikasi pesan instan bernama WeChat yang memiliki pengguna terbesar di China. WeChat telah bertransformasi menjadi superapps. Di mana tidak hanya sebagai aplikasi pesan instan, tapi juga menjadi fintech sistem pembayaran. Aplikasi ini memiliki pengguna sebanyak 1 miliar lebih.
Pada 2025 lalu, perusahaan ini mencatatkan omset pendapatan senilai 751,8 miliar yuan atau sekitar Rp 1.900 triliun lebih. Omset terbesar didapat Tencent dari sektor ganes (32%), kemudian fintech dan jasa bisnis (31%), lalu marketing services (19%), dan social network (17%). Seperti perusahaan teknologi di China pada umumnya, Tencent juga mengembangkan bisnis jasa AI dan juga cloud computing.
Bahkan, Tencent telah memiliki 3 data center di Indonesia. Jasa Tencent juga sudah digunakan oleh sejumlah perusahaan besar di Indonesia.
Dari kantor Tencent, kami mengunjungi Puye Town Fishery-Solar Complementary Digital Ecological Aquaculture Base yang berlokasi di pulau Chongming, di seberang Shanghai. Di sini terdapat usaha solar panel yang seluas lebih dari 500 acre, dengan kapasitas 100 megawatt yang hasil listriknya dijual kepada perusahaan listrik.
Pada lahan yang luas ini, perusahaan yang mendapatkan pinjaman lahan dari pemerintah China tersebut mengembangkan budidaya ikan untuk menambah pemasukan. Teknologi AI digunakan untuk mengembangkan budidaya ikan di tempat tersebut.
Hasil kunjungan ke China sangat berkesan. Perkembangan teknologi di negeri tirai bambu tersebut sangat pesat seiring dengan perkembangan perekonomiannya. Model pemerintahan China yang sangat kuat, dan sistem perencanaan pembangunan yang dibuat untuk lima tahun ke depan, menjadi salah satu pegangan China menjadi maju seperti saat ini.
Sepertinya pepatah "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China" bukan sembarangan. Hal positif bisa kita jadikan pelajaran, untuk bisa menjadi lebih maju ke depan.
(wed/sef) [Gambas:Video CNBC]



